
LAMPUNG TENGAH, sinarlampung.co – Kelir layar wayang kulit dibentangkan di halaman kediaman Tri Wiyadi, SE., MM., tokoh pemuda sekaligus CEO PT PAS di Kampung Sripurnomo, Kecamatan Kalirejo, Sabtu malam 11 Juli 2026 malam. Di bawah temaram lampu blencong, bayang-bayang wayang mulai bergerak, membawa ribuan pasang mata yang hadir masuk ke dalam sebuah ruang refleksi kolektif.
Malam itu, Ruwat Bumi Nusantara 2026 bukan sekadar ritus memotong tumpeng, melainkan sebuah ikhtiar membasuh luka sosial pasca-pemilu yang sempat menyisakan sekat di pos ronda hingga grup percakapan warga.
Saat jagad politik masih menyisakan riak ketegangan, Sang Dalang dari Paguyuban Seni Putro Wahyu Aji memilih lakon yang menghunjam tepat ke jantung realitas hari ini: Wahyu Makutharama. Sebuah lakon yang menjadi cermin besar bagi kondisi negeri saat ini, tempat di mana kekuasaan sering kali dikejar sebagai puncak pencapaian, bukan sebagai ladang pengabdian.
Satir Negeri yang Gonjang-Ganjing
Lewat sabetan wayang dan suluk yang menyayat hati, dalang mengisahkan sebuah dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Bumi digambarkan gonjang-ganjing, bencana alam terjadi di mana-mana seakan bumi murka oleh keangkuhan dan keserakahan manusia.
Itu adalah potret satir yang sangat relevan dengan dinamika kebangsaan saat ini—sebuah situasi ketika kursi kekuasaan jauh lebih ramai diperebutkan daripada hati nurani, dan ketika para elite sibuk menumpuk derajat serta takhta, sementara rakyat kecil menunduk dalam sepi, cemas memikirkan hari esok.
Di tengah kekacauan kosmis itu, muncul Raden Arjuna yang gelisah melihat segalanya salah tempat. “Bagaimana jagad ini bisa tentrem, jika pemimpin hanya memikirkan dirinya sendiri?” bisik Arjuna.
Kegelisahan Arjuna adalah kegelisahan kita semua hari ini, melihat retakan persaudaraan yang menganga akibat fanatisme politik dan ambisi kelompok.
Kiai Semar Badranaya, sang penuntun rakyat kecil, membawa kabar langit bahwa para dewa akan menurunkan Wahyu Makutharama. Wahyu kepemimpinan tertinggi ini bukanlah emas, bukan senjata, dan bukan mahkota fisik yang bisa dibeli dengan materi atau dimenangkan lewat infiltrasi kekuasaan.
Ia adalah cahaya watak, sebuah pepakem yang hanya mau singgah di dada yang bersih, di hati manusia yang tulus mengabdi demi memayu hayuning jagad (menata dunia demi kebaikan bersama).
Sombongnya Kurawa dan Kegagalan Ambisi
Kisah memanas saat kabar turunnya wahyu terdengar hingga ke Kerajaan Astina. Prabu Duryudana, dengan segala watak pongah penguasa mapan, tertawa meremehkan. “Aku sudah menjadi raja. Aku sudah kaya raya. Untuk apa wahyu?” ujarnya.
Didukung hasutan patih licik Sengkuni, Duryudana menolak mencari wahyu tersebut karena merasa kekuasaan formal dan kekayaan sudah cukup untuk mengontrol segalanya.
Sementara itu, Adipati Karna memilih berangkat memburu wahyu ke Gunung Kutharunggu demi ambisi kejayaan Astina. Namun, ambisi yang didorong ego kekuasaan berujung kegagalan total. Karna dihadang dan dihantam oleh kesaktian Anoman yang menjaga pertapaan Begawan Kesawasidi, hingga senjata andalannya pun sirna.
Pesan dalang begitu menohok: kekuasaan yang dikejar dengan watak angkuh dan cara-cara memaksa hanya akan berakhir dengan hilangnya legitimasi moral.
Pada akhirnya, hanya Arjuna—yang datang dengan hati suci, tanpa pamrih pribadi, dan berjanji untuk tidak menyalahgunakan kekuasaan—yang dipilih oleh Begawan Kesawasidi untuk menerima Wahyu Makutharama.
Hasta Brata: Kompas Moral Pemimpin Hari Ini
Inti dari Wahyu Makutharama adalah ajaran Hasta Brata, delapan pilar kepemimpinan yang meniru sifat kearifan alam. Di tengah situasi bangsa yang membutuhkan rekonsiliasi dan arah baru pasca-pemilu, Hasta Brata hadir sebagai kompas moral yang mutlak:
1. Surya (Matahari): Menerangi dan memberi energi kehidupan kepada seluruh rakyat tanpa membakar atau menghancurkan.
2. Candra (Bulan): Menyejukkan hati masyarakat yang sedang terbelah, memberikan harapan di tengah kegelapan tanpa membeda-bedakan golongan.
3. Kartika (Bintang): Menjadi penunjuk arah yang setia, teguh pada prinsip keadilan, dan tidak mudah goyang oleh godaan pragmatisme.
4. Mendung (Awan): Adil dalam tindakan; seperti mendung yang menumpahkan hujan secara merata, ia adil dalam memberi berkah maupun menegakkan hukum.
5. Bumi (Tanah): Sabar, kokoh memikul semua beban keluhan rakyat, dan selalu memberi kehidupan bahkan kepada mereka yang menginjaknya.
6. Samodra (Samudra): Berhati luas, siap menampung seluruh aliran keluh kesah, kritik, dan keragaman pemikiran tanpa rasa dendam.
7. Bayu (Angin): Bergerak merata ke bawah, menyentuh dan mengayomi seluruh lapisan masyarakat jelata tanpa pamrih atau pencitraan.
8. Agni (Api): Tegas, konsisten, dan berwibawa membakar habis segala bentuk kebatilan, korupsi, dan ketidakadilan.
Meleburnya Sekat di Bawah Kelir Wayang
Pesan tajam dari lakon Wahyu Makutharama ini mengalir dari panggung budaya dan mengetuk hati para tokoh penting yang hadir duduk berdampingan, di antaranya Bupati Lampung Tengah I Komang Heri dan Kepala Stasiun TVRI Lampung M. Ikhsan. Momentum malam itu kian terasa magis karena bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Lampung Tengah ke-80 dan HUT LPP TVRI Stasiun Lampung ke-35.
Di bawah naungan tenda hajatan dan alunan gamelan, sekat-sekat politik yang sempat merenggangkan warga Sripurnomo mencair. Ratusan tokoh lintas agama dari Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha yang hadir menjadi saksi hidup bagaimana pesan kepemimpinan yang adil dan merakyat dari cerita wayang bisa menyatukan kembali ribuan pasang mata.
Melalui filosofi Hasta Brata, Kampung Sripurnomo sedang mengirimkan pengingat kuat ke seluruh penjuru negeri: bahwa kekuasaan tanpa watak hanya akan membawa kehancuran, dan pemimpin sejati bukanlah yang paling tinggi singgasananya, melainkan yang paling rendah hatinya serta paling tulus melayani rakyatnya.
Ketika fajar mulai menyingsing dan lampu kelir padam, yang tertinggal di dada warga bukan sekadar ingatan akan kemeriahan malam itu, melainkan sebuah keyakinan baru bahwa dengan hati yang bersih, bumi yang mereka pijak akan kembali subur, dan bangsa yang mereka cintai akan tetap utuh. (Juniardi)