
Lampung Tengah (SL)-Oknum Sekertaris Majelis Tabligh, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sendang Agung, Kabupaten Lampung Tengah, Mur (50), Guru SMP Negeri 2 Sendang Agung, diduga terlantarkan anak dan istri, dan memiliki istri simpanan, hingga belasan tahun. Kasus oknum PNS, itu dilaporkan istri sahnya ke Pengurus DPC Muhammadiyah, Dinas Pendidikan, hingga Bupati Lampung Tengah, namun belum mendapatkan respon.
Selain tidak menafkahi penuh anak dan istri, perlakuan kasar juga kerap dilakukan Mur, kepada Ylt dan anak gadisnya. Sejak tahun 2017, Mur justru tidak mengakui tiga anaknya. Bahkan putri pertamanya pernah dua kali di tampar, karena pernah menyantroni Ayah Mur bersama Str (istri siri,) di rumah neneknya. “Anak kami yang pertama pernah dua kali ditampar, bahkan tangannya di pelintir, karena menemui Mur dan STr di rumah neneknya. Karena sejak Februari 2017, Mur kerap membawa STR kerumah orang tuanya,” kata Ylt, Kepada sinarlampung.com, Sabtu 28 Desember 2019.
Menurut Ylt, semua yang dia alami sudah perah di laporkan ke Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Sendang Agung, berharap mendapat respon positif, namun hingga kini tidak ada respon. “Karena semua yang dianggap salah adalah saya, saya difitnah, dihujat, dianggap bohong. Padahal justru sebaliknya. Saya juga sudah lapor ke Dinas Pendidikan, dan ke Bupati Lampung Tengah. Karena dia berstatus PNS. Saya juga lapor ke pengurus Muhammadiyah Sendang Agung, dan Mur mengakui sudah menikah siri dan menyebut sudah ijin saya, padahal saya tidak pernha tahu,” katanya.
Mur, juga mengaku tidak takut akan kehilangan jabatan PNSnya, karena istri sirinya adalah orang kaya, dan banyak kenalan pejabat, Jadi jika dia (mur.red) dipecat tidak sulit baginya untuk mencari pekerjaan. “Saya tidak takut dipecat dari PNS, karena STR adalah orang kaya, banyak kenalan pejabat pejabat penting. Jadi tidak masalah di pecat, dia bisa carikan saya pekerjaan. Kalau kamu tidak mau gugat cerai di pengadilan agama, saya akan pergi ke jawa menyusul Dia,” uajar Ytl, menirukan ucapan Mur.
Ylt (47), mengaku sehari hari bekerja sebagai guru honor, di salah satu SMA di Kecamatan Sendang Agung. Dia menikah dengan Mur (50), pada tanggal 3 Juli 1998 lalu, di Tanjung Karang. Sejak menikah Ylt, sudah merasa janggal karena mas kawin 5 gram emas yang diberikan kepadanya ternyata emas pinjaman dari Bibi Mur, yang setelah akad nikah mas kawin di ambil lagi, dengan janji akan diganti kemudian, dan hingga kini tidak pernah ada.
Tahun 1999, mereka dikarunia seorang putri pertama, dan kini sudah memiliki tiga orang anak. Mereka sempat tiga tahun tinggal Bandar Jaya. Lalu atas desakn mertua mereka pindah rumah tinggal di Sendang Agung bersama mertuanya (orang tua Mur, Red). “Selama 1 tahun tinggal bersama mertua, saya tidak pernah diberi jatah uang belanja, kecuali jika saya minta untuk belanja ke warung. Sejak diangkat jadi PNS, saya sebagai istri tidak pernah tahu berapa gaji suami,” katanya.
Karena sesuatu dan lain hal, yang membuat tidak nyaman, Ylt memilih pindah rumah, dan menempati rumah yang dibangun ayahnya, berjarak sekitar 300 meter dari rumah mertuanya itu. “Kejanggalan lain sudah terlihat sejak anak pertama saya berusi tiga tahun. Sering terima telepon hingga berjam jam diluar rumah alasan dari teman kuliah, dan itu terjadi hingga anak ke tiga kami berusia 10 tahun,” katanya.
Kejanggalan lain, sekolah tempat Mur mengajar di SMP Negeri 2 Sendang Agung, tiap tahun selalu mengadakan tour keluarga besar guru dan keluarga ke Jogja. Tapi anehnya, Ylt dan anak anaknya tidak pernah di ajak, alasan Mur, untuk menghemat biaya, “Padahal kami tau istri gratis, dan anak anak bayar 50%, Ternyata jika tour, ada wanita lain yang sudah lebih dulu cek in di penginapan suami saya itu, dan itu berjalan selama 17 tahun,” kata Ylt, terisak.
Seama berumah tangga, Ylt mengaku hanya mendapaat uang belanja Rp700 ribu setiap bulan untuk menghidupi tiga orang anak. Jika memberi Rp1 juta, pasti dipinjam kembali Rp300 ribu alasan untuk kondangan. “Untuk memenuhi kebutuhan anak anak, saya harus berjulan jilbab, bedak, taperware dari modal uang honor saya mengajar sekolah,” katanya.
Tahun 2016, semua kejanggalan semakin terlihat, pernah tidak pulang dua hari dua malam, dengan alasaan ketiduran di Masjid. Padahal dia bersama wanita lain di Hotel di Pringsewu. Lalu pernah pergi lima hari, bersama wanita yang sama. “Foto foto mesra mereka di bus Rosalia, Dek Kapal, hingga kamar Hotel, ditemukan anak pertama di HP ayahnya. Inilah awal terbongkarnya kebohongan selama 17 tahun dari 20 tahun pernikahan kami,” ujarnya.
Awla Januari 2017, Mur kembali pamit bersama 7 pengurus Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sedang Agung, studi banding ke Pondok di Jawa Tengah. Pamitnya pergi 10 hari, pulang ke rumah malam ke 11. Padahal mereka hanya 5 hari. “Para pengurus Pimpin Muhammadiyah sudah dirumah masing masing hari ke lima, kecuali Muryanto. Yang mengaku mampir ke rumah kakaknya di Solo, tapi itu bohong. Dia pulang tanpa oleh oleh,” katanya.
Sejak itu, Mur jarang berkumpul dengan Ylt dan anak anaknya. Mur memilih mengurung diri dalam kamar hingga jam 1 malam, atau dia memilih menginap di rumah orang tuanya. Semua itu itu untuk memudahkan vidio calll, chat whatshapp dengan selingkuhannya. “Berdasarkan bukti bukti foto, chat, dan lain lain. Mur tidak bisa menolak, dengan santai dia bilang sudah menikah siri dengan perempuan bernama STR (inisial,Red). Bagaimana rasanya hati ini mas,” ujarnya.
Sinarlampung.com, mencoba melakukan konfirmasi kepada Mur, melalui telepon dan pesan whatshapp, di nomor 081369088xxx, aktif namun tidak merespon. Dikirim melalui pesan whatshapp terbaca namun tidak dibalas. (jun)