
Bandar Lampung (SL)-lrjend Pol. Dr. Hi. lke Edwin, akrab disapa Dang Ike, menyatakaan Budaya Nusantara dengan kearifan lokal adalah kekuatan yang sangat mudah di terima oleh Masyarakat Indonesia. Hal itu di buktikan saat Dang Ike berdinas di Polda Sulawesi Selatan, beliau merangkul Raja-Raja di Sulawesi Selatan untuk menjaga Kamtibmas yang sukses besar.
“Masyarakat merasa terhormat dan dihargai, sehingga dengan sukarela mendukung Polri dan Pemerintah Daerah dalam menjaga Kamtibmas dan Pembangunan sehingga Provinsi Sulawesi Selatan menjadi Provinsi yang paling maju di wilayah Indonesia wilayah timur,” kata mantan Wakapolda Sulawesi Selatan yang mengaku merangkul masyarakat dengan tulus dan ikhlas dan menghormati serta diterima dengan baik dengan sukacita oleh masyarakat Sulawesi Selatan.
Menurut Dang Ike, hingga saat ini selalu berkomunikasi dengan baik dan setiap ada event penting selalu di undang’. “Pembangunan tanpa keamanan omong kosong kata Presiden Presiden Jokowi, tanpa keamanan pemerintah akan terhambat membangun. Untuk itulah setiap pemerintah di dunia ini membutuhkan keamanan dan rasa aman dalam membangun,” katanya, saat menerima Mahasiswa Universitas lslam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung yang sedang melakukan Studi Kebudayaan di Lamban Kuning, Jumat (15/11/19)..
Keamanan itu sendiri bersumber dari dalam masyarakatnya sendiri, jadi sangat patut kalau masyarakat yang mempunyai kearifan lokal di rangkul dan di berdayakan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan cita-cita Proklamasi.
”Ini kita masih dalam heroik memperingati hari Pahlawan 10 November, sejarah membuktikan bahwa yang melawan dan mengusir penjajah adalah Bangsawan Nusantara dan Hulu Balang (Tentara Kerajaan) dan para Ulama seperti Teuku Umar, Cut Nyak Din, Bangsawan dari Aceh, Tuanku lmam Bonjol Bangsawan dari Sumatera Barat, Sultan Taha Bangsawan dari Jambi, Sultan Badaruddin Bangsawan dari Sumatera Selatan,” katanya.
Lalu ada Pangeran Suhaimi Bangsawan dari Lampung, Pangeran Diponogoro Bangsawan dari Pulau Jawa, Sultan Hasanuddin dari Sulawesi, l Gusti Ngurah Rai dari Pulau Bali, Patimura dari Maluku, KH. Dewantara Ulama dari Yogyakarta, Sultan Hamangkubuwono Bangsawan dari Yogyakarta, “Dan ribuan lagi Bangsawan yang tercatat dengan tinta emas sejarah Republik Indonesia. Dan menjadi suhada untuk menegakkan Negara tercinta ini,” katanya.
Kini kehidupan para Ahli Waris pejuang ini sangat perlu menjadi perhatian pemerintah, karena sejak tahun 1948 pemerintah kerajaan Adat telah dihapuskan dan diganti dengan Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota, Camat, Lurah/Kepala Desa/Pekon, dan wewenang kerajaan Adat untuk mencetak uang juga di cabut, penguasaan tanah juga di cabut sejak 1960 sehingga praktis kehidupan para Tokoh Adat sangat berat, sementara tanggung jawab sosial tidak bisa di lepaskan, karena apabila dilepaskan maka wibawa seorang Tokoh Adat akan ditinggalkan oleh pengikutnya. Apabila seorang Tokoh Adat ditinggalkan oleh pengikutnya, maka sirnalah kearifan lokal itu. (rls)