
Bandar Lampung (SL)-Nelayan Teluk Betung, terutama di Nelayan Payang Sukaraja, di Jalan Yos Sudarso, Gang Ikan Selar, RT 09 Sukaraja, Telukbetung, Bandarlampung mengeluh menurunnya tangkapan ikan. Bahkan penurunan terjadi sangat draktis di tahun 2019. Dari 1 Ton perdua jam kini hanya 20-30 kilo. Nelayan menduga pencemaran limbah sebagai penyebabnya.
Tamrin (40) yang juga anggota humas Komunitas Nelayan Sukaraja (KNS) mengungkapkan, selama ini nelayan memperoleh ikan dengan alat tangkap payang, sejenis jala atau jaring yang ditarik dan diseret dari tengah laut ke tepi pantai. Cara tangkap ikan seperti itu sudah berlangsung turun menurun dan sudah puluhan tahun. “Satu payang dikendalikan satu regu yang terdiri 8-11 orang dengan pendapatan hasil tanggkapan dengan sistem bagi hasil. Kini turun drastis,” kata Thamrin.
Menurut Thamrin, dalam sehari ada kurang lebih 14 tim yang menangkap ikan dengan cara payang di lokasi tersebut. Pada tahun tahun lalu, hasil tangkapan ikan masih untuk dua kali tarik bisa mencapai 1 ton per payang tiap dua jam. “Tapi sekarang, penurunannya sangat drastis. Dua kali tarikan rata-rata kita cuma bisa dapat 20-30 kilogram saja per payang. Dengan durasi kerja 2-3 jam,” katanya dilokasi payang ikan.
Limbah Pekan Saat Hujan Turun
Pihaknya menduga penurunan tangkapan tersebut disebabkan adanya perusahaan yang membuang limbah ke laut pada waktu hujan lebat atau ketika naiknya debit air kali atau sungai menuju laut. “Kita perhatikan watu hujan deras Februari 2019 lalu, banyak ikan yang mati tidak wajar. Ditambah airnya hitam dan menimbulkan bau tidak sedap,” ungkapnya.
Dia juga menyebutkan bahwa, perubahan air yang menghitam akan terjadi diwaktu-waktu hujan lebat. Sehingga pihaknya menduga, beberapa perusahaan di sana membuang air limbah ketika hujan lebat yang dibuang ke beberapa sungai, yakni Kali Kuala, Waylunik, dan Kali Bumiwaras.
Iwan (28) yang juga sebagai nelayan, mengungkapkan hal sama. Menurutnya perubahan air laut saat-saat hujan yang mengandung limbah saat terasa berbeda. “Airnya itu hitam. Ya beda sih kalau air laut bercampur lumpur saja dengan air laut bercampur limbah itu beda banget,” ujarnya.
Dia berharap kepada sejumlah perusahan agar tidak membuang limbah ke laut, karena penghasilan warga di sana mayoritas dari hasil tangkapan ikan. Sehingga, kalau air laut tercemar, pendapatan mereka akhirnya menjadi berkurang drastis.
“Perubahannya itu tidak menentu, kayak bulan ini saja pas hujan, airnya hitam dan menimbulkan bau kayak solar dan kadang juga baunya busuk comberan rumah sakit gitu. Saya berharap kepada perusahaan agar tidak membuang limbah ke laut,” katanya. (rdr/red)