
Pulau Sebesi (SL)-Direktur Polisi Laut dan Udara (Dirpolairud), Polda Lampung Kombes Pol Umar HP, melakukan tatap muka dengan warga Pulau Sebesi, Lampung Selatan, Kamis 12 September 2019, malam. Acara dihadiri Tim Polairud Polda Lampung, Polair Polres dan Dinas Pariwisata, Pengurus SMSI Lampung, Club olahraga penyelam Lampung, LSM Pencinta Lingkungan dan Wisata (Pelita)
Dihadapan warga, Usman HP memaparkan tentang pentingnya menjaga biota laut termasuk trumbu karang, dan mengajak warga tidak lagi membuang sampah ke laut. “Trumbu karang itu mahluk hidup berbentuk tumbuhan. Jika terinjak, kena Bom ikan, hingga sampah dia akan mati. Sementara butuh waktu lama untuk kita bali tumbuh dan hidup, ” kata Usman.
Menurut Usman, jika bersih, trumbu karang bagus, maka ikan akan berlimpah, wisatawan akan datang, dan dapat meningkatan perekonomian masyarakat. “Ikan berlimpah nelayan dapat ikan, wisata datang warga bisa berjualan,enjadi pendampingi, hingga sewa kapal, maka kamu sejahteraan akan datang, ” katanya.
Untuk itu, lanjut Usman, jaga laut kita dari sampah, selamatkan trumbu karang dan biota lautnya. “Laut kita harus bersih, bersih sampah, bersih kerusakan, untuk kita semua, kelangsungan generasi kita,,” katanya.
Menurut Usman pihaknya banyak menemukan adanya pembuangan sampah yang mengalir ke laut di beberapa titik perairan teluk Lampung. “Dampak dari banyaknya sampah yang masuk ke laut mengakibatkan terumbu karang hancur. Belum lagi kegiatan pengeboman ikan dan pola aktifitas masyarakat lainnya,” kata Usman.
Mantan Kabid Propam Polda Lampung ini menambahkan, kehadiran pihaknya di Pulau Sebesi adalah untuk mengajak masyarakat untuk mengindahkan wilayah perairan dan melestarikan terumbu karang. “Hari ini kita melakukan kegiatan bagaimana caranya karang yang ada dapat kembali sediakala,” ujarnya.
Terkait dengan aktifitas pengeboman ikan, Dit Polairud akan tegas dalam penegakan hukum. Implikasi pengeboman ikan ini menjadi masalah lainnya selain soal sampah, terutama sampah plastik. “Kami tegas menghimbau jangan melakukan pengeboman ikan. Belum lagi perilaku masyarakat yang membangun bagan-bagan di tengah laut,” katanya.
Usman juga menyarankan agar masyarakat menggunakan teknologi seperti GPS untuk mencari spot-spot ikan, bukan menggunakan pola-pola penangkaoan ikan yang berpotensi merasa biota laut. “Gunakan ilmu yang ada seperti sekarang seperti teknologi gps atau seperti yang nenek moyang kita lakukan dahulu,” kata Usman.
Pria berkacamata ini menekankan perlunya edukasi tentang lingkungan yang bisa memberikan pengetahuan kepada masyarakat dan berdayakan semua komponen yang ada. Aktifitas pembuangan buang sampah ke laut dan sampah harus dipilah, seperti sampah plastik.Karena plastik bisa mematikan karang. “Plastik itu baru bisa hancur selama 50 tahun dan ini mematikan terumbu karang,” tambah Usman.
Visibility air di Pulau Sebesi lumayan bagus sedangkan di perairan Lampung lainnya buruk, ini salah satunya akibat adanya pembuangan sampah ke laut. Pelestarian karang sangat penting dan itu berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Begitu juga dengan pariwisata. Benda benda biota laut dan cagar budaya seperti hewan-hewan harus dilestarikan. ” Lampung merupakan lingkungan maritim, jadi perlu kita jaga dan kita lestarikan,” katanya.
Selain itu, kata Usman, ternyata Pulau Sebesi ada sport penyu dan ini akan menjadi ikon dan menjadi viral, apalagi dibantu dengan peran media seperti yang bergabung dalam Serikat Media Sumber Indonesia (SMSI) Lampung. “Nah ini kita harus eksplor potensi yang ada demi lingkungan laut kita,” harapnya.
Sementara, Dinas Pariwisata Lampung Selatan mengatakan program utama adalah peningkatan SDM, sehingga programnya adalah pelatihan pelatihan. (joe/Red)