
Bandar Lampung (SL)-Pemandangan warna warni sampah dan aroma bau menyengat limbah industri yang menyengat hidung, saat menginjakkan kaki di pesisir perairan Teluk Lampung, tepatnya di kawasan pantai Kelurahan Way Lunik, Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung, Sabtu (21-07) sekitar pukul 10.00 Wib.

Pemandangan dan aroma itu dirasakan saat sinarlampung.com, bersama sejumlah awak media yang berniat memancing di kawasan pesiri tersebut. Menyusuri Jalan Yoosudarso, simpang Lampu Merah Garuntang-HIngga Way Lunik. Saat di lokasi persis di depan seberang Pabrik PT Bumi Waras, belakang gudang servis countener.
Penyusuran menuju pesisir pantai tim cukup kebingungan, karena jalan dan gang yang dulu biasa dilalui itu kini nyaris tak ada. Untuk memasuki kawasan pantai yang biasanya mudah untuk diakses kini harus memasuki gerbang dan pagaar tembok, dan lahan sudah dikuasai mayoritas orang luar Lampung. Yang digunakan untuk pbrik, atau gudang. Padahal, Bandar Lampung tidak boleh ada gudang.
BACA: Limbah MBK Cemari Aliran Sungai Kalibalau Kedaton, Bangunan Langgar GSS Tanpa Ijin Warga
BACA: Ribuan Ikan Mati Di Kalimiring Diduga Akibat Limbah Grup PT Bumi Waras
Setelah bertanya-tanya ke sejumlah warga, akhirnya tim bisa masuk, itupun setelah meminta izin dengan penjaga gudang. “Pak ingin mancing ke pantai boleh,” kata sinarlampung.com, kepada pria baruh baya yang terlihat sibuk memperbaiki sesuatu di dekas Pos Jaga. “Ya boleh silahkan tapi hati hati,” katanya.
Tima di Pantai, dengan terik matahari menambah penat. Lokasi jalan yang dulunya pasir tanah, kini sudah berbatu, karena ada aktifitas untuk tumpukan ratusan kontainer. “Dulu bebas masuk di sini, mungkin karena oleh pemilik tanah disewakan kepada pengusaha, jadi mau masuk harus izin dulu,” guman salah satu pewarta.
Setelah tiba di bibir pantai, memarkirkan mobil tak jauh dari lokasi untuk pantai untuk memancing. Lokasi pantai sudah di tanggul penahan ombak, yang sudah banyak yang rusak di beberapa titik. Air laut tak lagi jernih, tumpukan sampah berbaur dengan air berwarna hitam, merah, kadang kebiruan, dengan aroma menyengat.
Seekor ikan sebesar tiga jari terlihat mati dan terombang ambing dibawa ombak. “Gila ya, lautnya penuh sampah berbagai macam rupa. Mana bau menyengat menusuk hidung, inimah limbah,” ucap salah satu kawan terbatuk dan hampir muntah. “Gimana mau mancing enak kalau kondisi nya seperti ini,” ujar kawan itu sembari menutup hidung.
Tak jauh dari sudut kanan, seorang warga ternyata sudah lebih dulu memancing. Bahkan selang 30 menit kemudian, datang orang lain lagi mengendarai motor juga ikut memancing. Akhirnya, meski dengan terpaksa kami pun tetap memancing sembari mengamati keadaan sekitar pantai.
Beberapa warga yang ikut memancing sempat berdialog. Mereka mengatakan, sampah plastik yang memenuhi pantai Way Lunik sudah berlangsung cukup lama. “Inimah susah dikendalikan bang, karena banyaknya aktivitas warga, ” kata salah satu pemancing.
Namun, kata pemancing lainnya, selain sampah, ada bau menyengat yang ditimbulkan karena adanya pembuangan limbah oleh sejumlah perusahaan di kawasan tersebut. “Mereka (perusahaan) membuang limbahnya kadang saat malam hari. Mungkin biar tidak ketahuan, ” ungkap pemancing itu.
Limbah limbah itu berasal dari aliran sungai Way Lunik, di atasnya banyak pabrik Industri, termasuk PT Bumi Waras. “Biasanya buang limbah malam, atau saat hujan. Aliran sungai itu kadang warnanya merah, kadang Hijau, kadang Biru, kadang Hitam pekan, coklat, macam macam, dan baunya kimia,” katanya.
“Ini agak mendingan mas, pernah malah sepanjang pantai jadi merah, dengan bau menyengat dan banyak ikan ikan mati sepanjang pesisir. Sebelumnya, Senin (17/6) malam sekitar pukul 20.00, perairan laut pesisir dari Jalan Yosssudraso Sukaraja-Way Lunik, berwarna hitam pekat dan bau menyengat, bahkan banyak ikan mati,” katanya.
Diduga limbah yang dibuang ke laut. “Laut dari Way Lunik sampe Kunyit Jalan Yossudarso warna hitam dan bau menyengat itu limbah, banyak ikan pada mati,” kata Yudi, warga Yossudarso yang akan memancing dipinggiran pesisir.
Menurut dia dan rekan rekannya harus pulang, dan batal memancing. “Ini yang kesekian kalinya. Harusnya pemerintah menyelidiki ini. Limbah dari mana. Udah banyak sampah, ditambah lagi limbah, dan reklamasi. Kasian juga pemayang di Sukaraja, susah dapat ikan,” katanya. (juniardi)