
Wonogiri (SL)-Perwira Polisi, mantan Kasatreskrim Polres Wonogiri AKP Aditya Mulya Ramdhani, menjadi korban pengeroyokan. Aditya dikeroyok saat mengamankan tawuran antar kelompok massa di daerah Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri pada Rabu (8/5/2019) malam lalu. Pengeroyokan yang terjadi dua hari jelang pelantikannya sebagai Kapolsek Semarang Tengah tersebut, membuat AKP Aditya tak sadarkan diri hingga koma.
Dilangsir Tribun jateng, hampir dua pekan setelah kejadian, polisi menetapkan lima tersangka sebagai pelaku pengeroyokan AKP Aditya. “Dari kasus ini sudah 22 orang saksi dilakukan pemeriksaan, lima orang sudah ditahan berikut barang bukti,” kata Kapolda Jateng, Rycko Amelza Dahniel di Mapolda Jateng, Rabu (15/5/2019) malam.
Terkait kelima tersangka, saat ini tiga orang masih dalam pengejaran dan berstatus daftar pencarian orang (DPO). Sementara terkait kondisi AKP Aditya, Kapolda mengatakan kondisinya berangsur membaik. Seorang dokter dari Singapura telah didatangkan untuk memeriksa AKP Aditya, Rabu (15/5/2019). “Alhamdulillah sudah respon di pupil matanya sebelah kanan, walaupun sedikit tetapi respon itu menunjukkan ada tanda-tanda kemajuan,” ucapnya.
Seiring dengan semakin berangsur membaiknya kondisi AKP Aditya, dalam waktu dekat akan dirujuk ke rumah sakit di Singapura. Kapolda mengatakan, hal ini berdasarkan permintaan dari pihak keluarga. Sebelumnya keluarga telah berencana membawa ke Singapura namun kondisinya belum memungkinkan.
Kapolres Wonogiri AKBP Uri Nartanti Istiwidayati melalui Kasubag Humas Polres Wonogiri, Iptu Suwondo menjelaskan, saat malam kejadian, ada isu-isu yang disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan banyak anggota perguruan pencak silat tersebut yang termakan isu. “Banyak anggota salah satu pencak silat yang datang dari luar Wonogiri ditambah dari Wonogiri sendiri sehingga suasananya cukup ramai,” kata Suwondo.
Atas kondisi tersebut, semua anggota polisi turun untuk pengamanan agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan. “Namun nahas, malam itu, Aditya berpencar dari pasukannya dan melakukan pengamanan sendiri. Pada kesempatan itulah, jadi sasaran amuk massa. Mungkin dikira penyusup,” kata Suwondo.
Informasi lain menyebutkan, kedatangan salah satu perguruan pencak silat itu dipicu dendam akibat perselisihan dua anggota dari dua perguruan pencak silat itu. (red)