
Sragen (SL)-Anggota DPRD Kabupaten Sragen Sugimin (51), yang juga Caleg pertahana ternyata tewas akibat diracun. Korban diracun menggunakan racun tikus oleh wanita yang juga oknum dosen. Sugimin ditemukan dalam kondisi telungkup seperti orang sujud di depan ruko dekat SMPN 1 Wonogiri di kawasan Wonogiri kota, Senin (15/4/2019) sekira pukul 22.00 WIB lalu.
Polres Wonogiri memastikan kematian anggota DPRD Kabupaten Sragen, Sugimin, murni pembunuhan berencana. Sugimin meninggal akibat diracun. Kasat Reskrim Polres Wonogiri, AKP Aditya mengatakan pihaknya mendapat petunjuk dari hasil autopsi beberapa organ dalam korban. “Organ tubuh apa saja, tidak bisa kami sebutkan,” ujar Aditya, Kamis (18/4/2019) siang.
Tim penyidik pun mengundang sejumlah orang dekat korban untuk diperiksa. Salah satunya seorang perempuan berinisial N (41). “Ada kejanggalan dari keterangan N. Tim penyidik pun mengungkap pembunuh korban adalah N. Statusnya kami tingkatkan menjadi tersangka,” kata AKP Aditya, dilangsir tribun.
Saat ini tersangka N sudah ditahan Polres Wonogiri di kantor kejaksaan setempat. “Kami titipkan di kejaksaan, karena tersangka perempuan. Tidak bisa dicampurkan dengan laki-laki,” imbuhnya.
Tersangka Dosen di Kediri
Sebagai informasi, tersangka N merupakan perempuan kelahiran Wonigiri. AKP Aditya mengatakan profesi N seorang dosen di sebuah universitas swasta Kediri.”N itu juga seorang pengusaha konveksi. Ada kedekatan dengan korban sekitar dua tahun lebih,” ujar dia.
Adit menambahkan pihaknya belum bisa menghadirkan tersangka dalam gelar perkara. Jenazah Sugimin anggota DPRD Kabupaten Sragen tiba di rumah duka, Selasa (16/4/2019) sekira pukul 18.20 WIB
Dia menyebut kondisi kejiwaan tersangka masih labil. “Tersangka berupaya bunuh diri. Jadi jangan diwawancara dulu,” imbuh Adit. Selain itu, dia mengatakan masih menunggu hasil visum Labfor dari Semarang.
Tewas karena Racun Tikus
Kasat Reskrim Polres Wonogiri mengungkap kematian Sugimin karena racun tikus. Dia mengatakan racun itu diberikan tersangka melalui kapsul obat diare yang rutin diminum korban. Racun dimasukkan dalam kapsul obat bermerk dia***, dengan cara mengeluarkan sebagian isi obat. “Motifnya sakit hati,” kata Adit.
Mobil korban juga dijual tersangka seharga Rp 98,5 juta.Mobil itu bermerk Isuzu Panther seri Grand Touring tahun 2002 Nopol AD-9210-RE. “Kami akan gelar perkara menunggu hasil visum dari Labfor Semarang,” tandasnya.
Sebelumnya, orang yang pertama menemukan Sugimin adalah pemilik ruko tersebut, Mugiyono (78), warga Sukorejo, Giritirto, Wonogiri. Saat itu, ruko sudah tutup dan Mugiyono berkeliling untuk patroli malam. Sampai di bagian depan toko, Mugiyono menemukan seorang lelaki dalam posisi seperti bersujud atau tersungkur.
Lelaki yang belakangan diketahui adalah Sugimin itu mengalami luka lecet di dagunya diduga karena terbentur. “Saat saya menemukan dia masih sadar, dia terus mengerang ‘aduh… aduh’, tapi dia tidak bilang apa pun. Dia memakai pampers dewasa dan sempat buang kotoran. Saya bersihkan sisa kotorannya,” kata Mugiyono, dilangsir solopos.com di Wonogiri, Selasa (16/4/2019).
Mugiyono juga sempat menelepon polisi untuk menginformasikan penemuan Sugimin. Namun, polisi hanya menyarankan Mugiyono membawa Sugimin ke rumah sakit. Mugiyono kemudian menelepon anaknya, Nurwanto, agar datang membawa mobil untuk mengangkut Sugimin ke rumah sakit.
Selama menunggu Nurwanto, Mugiyono terus menunggui Sugimin. Kondisi Sugimin kadang sadar kadang tidak. Hampir tengah malam, Nurwanto datang membawa mobil dan mengangkut Sugimin ke rumah sakit. Mengenai barang-barang Sugimin, Mugiyono mengatakan saat itu tas dan dompetnya memang masih ada. Tapi dia tidak menyentuh barang-barang milik Sugimin itu.
“Saya tidak menyentuh barang-barangnya apalagi mengambilnya. Saya sempat takut saat dengar informasi ada yang menuduh perampokan dan sebagainya. Bagaimana pun saya yang menemukan dia, saya khawatir dituduh. Padahal niat saya hanya ingin menolong. Kalau tidak ada izin polisi juga saya tak berani membawanya ke rumah sakit,” katanya.
Sugimin juga sempat menghilang sejak Kamis (11/4/2019), dan ditemukan dalam kondisi tidak sadar dan meninggal saat sampai di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso Wonogiri, Selasa dini hari. Keluarga Sugimin meminta jenazah Sugimin diautopsi karena menilai ada banyak kejanggalan. (red)