
Gedongtataan (SL)-Majelis Punyimbang Adat Lampung (MPAL) Pesawaran, melakukan klarifikasi terkait polemik yang terjadi saat Bupati Pesawaran H. Dendi Romadhona, menghadiri acara resepsi pernikahan anak kepala adat desa Gedongtataan, Minggu 17 April 2019 yang lalu.
Ketua MPAL Pesawaran Muaddin Yusuf kepada wartawan mengatakan, sebelum menghadiri resepsi, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Protokoler Bupati Pesawaran terkait bisa atau tidaknya Bupati hadir.
“Saya sudah telpon protokoler, pihak Bupati mengatakan akan hadir setelah acara adat, jadi tidak salah Bupati datang tanpa mengenakan pakaian adat karena hadir sebagai undangan bukan sebagai peserta acara adat,” tegasnya, Selasa (19/2) di Kantor MPAL Pesawaran. “Jadi saya bertanggung jawab secara adat bahwa Bupati Pesawaran tidak salah dalam acara kemarin,” timpal dia.
Ditempat yang sama, Kepala adat desa Gedongtataan sekaligus tuan rumah acara pernikahan, Mad Nur menuding tindakan wartawan yang dinilai gegabah dalam membuat pemberitaan. “Dia (wartawan – red) tidak mengerti akan adat Lampung, dia menganggap hal tersebut merupakan kesalahan, faktanya tidak seperti itu, padahal di desa ini ada 27 Punyimbang adat yang hadir tidak mempermasalahkan, kenapa dia tiba tiba membuat berita yang menurut kami menyudutkan Bupati pesawaran,” ujarnya.
Sedangkan, Afrizal Alta sebagai Nara sumber awal sehingga pemberitaan terkait pakaian adat, mengatakan, dirinya melakukan postingan di Facebook karena merasa peduli akan adat istiadat Lampung yang dicintainya. “Motivasi saya cuma satu, agar kebudayaan yang saya cintai ini bisa berjalan dengan benar, saat Bupati hadir tidak memakai Businnyang secara refleks saya mau menawarkan Bussinyang yang saya pakai, namun hal tersebut ditolak protokoler. Tidak ada niat apapun karena sepengetahuan saya hal tersebut tidak bisa dalam adat Lampung,” jelasnya.
“Jadi sekali lagi saya tegaskan tidak ada maksud apapun, bagaimana mungkin saya mau membuat kegaduhan di hajat saudara saya sendiri, hanya saja saya menganggap hal tersebut harus diluruskan,” tukas Isal, begitu ia kerap disapa.
Polemik yang terjadi memancing salah satu tokoh adat sekaligus Penasehat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pesawaran Drs.Erland Syofandi gelar St.Penatih Buay Nyukhang, angkat suara.
Menurutnyw hal ini harus diluruskan, makanya pihak adat menjelaskan hal yang sebenarnya. “Masalah adat ini masalah yang sangat penting, jangan sampai karena berita ada yang dirugikan. Untuk menghindari konflik berlanjut kami kumpul disini untuk meluruskan masalah,” pungkasnya.
Dalam pertemuan tersebut hadir beberapa tokoh masyarakat adat dan tokoh pemuda Pesawaran diantaranya, Muaddin Yusuf, Erland Syofandi, Mad Nur, Ramadiansyah, Randy Septian, Afrizal Alta, dan Mad Roni. (red)