
Bandar Lampung (SL)-Humas SMK 1 Lampung Selatan Irwan menyatakan keberatan atas berita yang menyebutkan Sekolahnya mengadakan jalan jalan berkedok kunjungan industri?. Kalimat tersebut meresahkan masyarakat.
“Kalimat jalan jalan berkedok kunjungan industri itu meresahkan masayarakat. Saya masyarakat, dan resah. Saya sudah laporkan kepada salah satu pejabat di PWI Lampung,” kata Irwan via phone kepada sinarlampung.com, Jumat (15/2).
Irwan menjelaskan bahwa pihaknya melakukan kunjungan industri dan para murid murid mendapat banyak perbekalan dalam perjalan ke Jogja selama sepekan itu. “Ada semua kegiatan dan materi yang diberikan kepada murid murid itu. Saat mereka joget joget dan nyanyi di panggung itu dari agentravel, anak anak lelah diperjalanan,” katanya.
Terkait uang Rp100 ribu, yang diberikan kepada guru yang mendampingi itu, Irwan menyatakan bahwa guru yang mendampingi para murid itu adalah guru honor. “Uang yang mereka dapat selama seminggu itu justru malah jauh dari UMR, tidak seberapa,” katanya.
Saat diminta sinarlampung untuk menjelaskan secara rinci terkait kegiatan itu, dan menyampaikan sanggahan secara tertulis, Irwan mematikan hubungan telepon.
Sebelumnya diberitkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Lampung Selatan, disinyalir melakukan pemungutan uang kepada siswa dan siswi kelas 10 dengan berdalih untuk melaksanakan Kunjungan Industri (KI) ke daerah pulau Jawa selama lima hari. Namun selama kunjungan para pelajar terkesan hanya diajak jalan jalan dan hura hura.
Rombongan SMK 1 Lampung Selatan, asyik laki perempuan di acara dangdutan di panggung sebuah resto di Jawa Tengah. Sementara para pelajar harus dibebani biaya Rp1.600.000, (satu juta enam ratus) persiswa, dengan rincina Rp1.500.000, untuk ongkos perjalanan, dan Rp100 ribu untuk biaya guru yang mendampingi perjalanan. Jumlah siswa kelas 10 sekitar 270 orang lebih. Total biaya Rp432 juta.
Saat sinarlampung.com, ditengah perjalanan, bertemu rombongan para pelajar SMK 1 Lampung Selatan yang sedang diajak makan di Rumah Makan Yunani 19 Motor Cyle club Kebumen Jawa Tengah, sambil bereforia atau bersenang-senang mereka berjoget-joget dipanggung hiburan, yang seperti bukan rombongan selayaknya pelajar yang sedang belajar menuntut ilmu.
Saat bincang bincang dengan sinarlampung.com, para pelajar ada yang mengaku merasakan pemungutan itu terkesan dipaksakan. Selain dengan jumlah yang besar mereka kurang mendapatkan ilmu sesuai jurusan mereka. “Ya rata rata tingkat 10. Sebenarnya malas untuk ikut, biayanya mahal. Tapi mau bagaimana nanti ga dapat nilai,” kata salah seoarang pelajar putri.
Untuk perjalanan ini, kata dia, orang tuanya harus merogoh kocek yang lumayan. “Kami membayar uang Rp1,6 juta dengan berdalih untuk melaksanakan Kunjungan Industri. Tapi kayaknya ke tempat yang dinilai kurang baik dan tidak begitu manfaat. Kami dimintai uang, dengan sejumlah yang cukup besar, dan terkesan di paksaan oleh pihak sekolah,” ungkapnya kepada Sinarlampung.com
Pemungutan itu tidak dipungkiri oleh pihak sekolah. Irwan Kepala Humas SMK 1 Lampung Selatan, membenarkan hal itu. “Memang bener, adanya pemungutan uang yang sebanyak Rp1.600.000. Untuk membayar biro perjalanan, menyewa hotel, makan sebanyak Rp 1.500 ribu,” kata Irwan.
Kemudian sisanya, diberikan kepada dewan guru yang mendampingi anak-anak yang mengikuti perjalanan selama kurang dari sepekan. “Iya, semuanya Rp1,6 juta, tetapi dewan guru meminta uang per anak Rp100 ribu, dengan beralasan tidak mau mengikuti perjalanan kalau gak di berikan uang tersebut,” ujar Irwan. (Jun/Wahyudi)