
Bandarlampung (SL) – Baru dua bulan diperbaiki, kondisi jalan di jalan Senopati Raya yang berada disekitar lingkungan kampus ITERA sudah kembali rusak. Dinas PU Bina Marga Kota Bandarlampung dinilai gagal memberikan pembangunan infrastruktur yang berkualitas.
Meski menelan anggaran miliaran rupiah, kondisi jalan setempat masih tak sesuai harapan warga. Mirisnya perbaikan jalan tersebut baru dilakukan Desember 2018 lalu. Selain kondisi jalan yang berlubang, saluran drainase yang tidak memadai juga menyebabkan genangan air di badan jalan.
Hal tersebut tentunya semakin memperparah kondisi kerusakan jalan. Ini sangat disayangkan mengingat jalan tersebut merupakan jalan vital yang menghubungkan Kelurahan Korpri Raya dan Sukarame.
Yanto, salah satu pengendara mengatakan jalur Senopati Raya selalu mendapat perbaikan dari Pemkot setiap tahunnya. Namun anehnya kondisi jalan selalu rusak dan seolah tidak terawat. “Saya selalu melalui jalan Senopati Raya. Dari tahun 2016, 2017 dan tahun 2018 ini jalan diperbaiki selalu, akan tetapi aneh kok selalu hanya awet beberapa hari aja, padahal sudah menghabiskan uang milyaran rupiah,” ungkapnya.
Dan menurut salah seorang konsultan yang kantornya diperumahan korpri yang tidak mau disebutkan namanya menjelaskan kondisi jalan yang terus rusak diduga karena pengerjaan konstruksi jalan yang digunakan seharusnya menggunakan teknis jalan rigid beton bukan teknis penggunaan batu base B atau base B terus di lapis hotmix, karena dasaran tanah badan jalan adalah tanah sawah dan rawa lendut.
“Jika memang kondisinya seperti itu, seharunya Pemkot membangun jalan rigid beton, sehingga jalan lebih awet dan tidak mudah rusak. Mudah-mudahan ini bisa menjadi kajian Pemkot kedepan. Buat apa diperbaiki terus, jika pada akhirnya rusak hanya hitungan bulan,” tandasnya.
Seharusnya, kata dia, badan jalan yang berasal dari tanah timbunan diatas dasaran tanah asli yang semulanya sawah seharusnya bila ingin tetap digunakan teknis perkerasan dan pelapisan aspal maka daya dukung tanah badan jalan seharusnya melalui Uji lab daya dukung tanah dan ketebalan padat perkerasan serta ketebalan aspal hotmix yang digunakan harusnya benar-benar sesuai mutu teknis pengerjaan jalan. “Bila bahan perkerasan tebal tapi test sendcon atau kepadatan dan jenis material tidak ada yah bagaimana perkerasan akan mampu bertahan diatas tanah urugan yang digunakan sebagai badan jalan, dan aspal hotmix yang digunakan diduga tipis hanya memiliki ketebalan kurang lebih 2-3 cm,” pungkas dia. (net)