
Jakarta (SL) – “Rakyat pun terlanjur tidak percaya pada Pemerintah……”
Nilai uang kita ambruk, anggota-PDIP mendesak -Presiden Joko Widodo turun dari jabatan Presiden karena nggak becus. Demikian ungkap Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDIP Effendi MS Simbolon kepada media Tropong Senayan karena Presiden Joko Widodo telah gagal membawa perekonomian Indonesia setelah anjloknya rupiah, akibat meroketnya nilai dollar terhadap rupiah yang nyaris menggapai Rp 15 ribu.
“Tolong sportif, turun tahta sah dan halal kok demi bangsa. Jangan jadi pecundang” kata Effendi MS Simbolon. Karena menurut dia yang mengelola pemerintahan ini adalah Presiden. Bukan para pembantunya.
Kegundahan Effendi MS Simbolon ini dikatakannya di Gedung Nusantara II DPR, Jakarta, Selasa (1/9/2015). Karena pemerintahan sekarang seperti berdiri di atas pasir, lemah pijskannya. Jadi wajar pula kalau perekonomian kita sekarang jadi karut-marut, tandanya.
“Bangunannya (pemerintahan) di atas pasir, pasti amburadul. Dari pada begini, mendingan turun tahta secara ksatria,” jelasnya.
Sementara Badan Pemeriksa Keungan RI (BPK) menengarai adanya juga kesalahan mengutus impor pangan yang terus dibiarkan oleh Joko Widodo.
Selain itu, Guru Besar UI mengatakan anjloknya nilai rupiah karena rakyat kurang percaya pada Jokowi. Demikian Eramuslim melaporkan, Sabtu, 1 September 2018.
Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencapai Rp 14.825 kata Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Prof. Sri Edi Swasono, juga disebabkan oleh defisit atau kekurangan dalam anggaran.
Selain defisit neraca berjalan, dan defisit perdagangan, menurut Profesor Sri Edi Swasono juga disebabkan oleh berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap keadaan ekonomi nasional.
“Tentu banyak yang ragu atas perekonomian curang. Jadi, yang paling penting merosotnya dolar itu di samping defisit kemudian anggaran perdagangan, kemudian defisit neraca berjalan. Namun yang tidak kalah penting adalah kepercayaan masyarakat, tandasnya.
“Ya masyarakat barangkali tidak mantap dengan keadaan ekonomi. Kalau rakyat merasa tidak mantap dan tidak merasa sreg dengan keadaan ekonomi, ya tidak percaya pada rupiah,” paparnya saat berbincang seperti wawancara dengan Kantor Berita Politik RMOL di KAHMI Center, Jakarta, Jumat (31/8).
Menurut Prof. Edi, banyak sekali kebutuhan kuta di dalam negeri yang harus diimpor, karena memang tidak bisa kita penuhi sendiri.
“Kalau semua tidak percaya, rakyat pun tidak percaya, dan itu yang kemudian terjadi ungkap Profesor Sri Edi Swasono. Karena itu dia memberi saran terkait kondisi ekonomi Indonesia saat ini, pemerintah harus segera meningkatkan kembali kepercayaan rakyat.
Begitulah, akibat nilai dollar meroket, ekonomi kita jadi meradang atau terkena sawan. Rakyat merasakan beban ekonomi yang semakin berat. Mencekik ! (Jacob Ereste)