
Lampung Utara (SL)-Bendungan Tirta Shinta yang terletak di Desa Wonomarto Kecamatan Kotabumi Utara Kabupaten Lampung Utara ternyata tidak hanya berpotensi sebagai salah satu destinasi pariwisata di bumi Ragem Tunas Lampung. Bendungan tersebut juga menyimpan satu potensi perikanan yang cukup menjanjikan serta membuka peluang usaha baru bagi warga setempat.
Danau buatan yang dikenal dengan sebutan Bendungan Tirta Shinta itu memiliki luasan area sejauh lebih kurang 250 meter dan memiliki panjang dengan kisaran mencapai 2 kilometer. Bendungan tersebut merupakan pertemuan aliran tiga anak sungai, yakni Sungai Manggris, Sungai Jengkolan, serta Sungai Pringgondani.
“Sekitar 38 tahun yang lalu, TNI-AL bersama masyarakat Kotabumi Utara membuat bendungan yang dipergunakan untuk mengairi persawahan serta kebutuhan mendasar lainnya,” ujar Kepala Desa Wonomarto, Waskito Yusika, saat diwawancarai, Kamis malam, (16/08/2018), melalui pesan WhatApps.
Dikatakan Waskito, saat ini bendungan itu menjadi salah satu destinasi wisata alternatif di Kabupaten Lampung Utara. Bendungan itu juga menjadi spot favorit bagi para hobiis memancing ikan. “Bukan rahasia lagi kalau memancing ikan di Bendungan Tirta Shinta ada warga yang berhasil mendapatkan ikan Kamal, Gabus, maupun Lele berukuran monster,” jelasnya.

Tidak mengherankan, dengan potensi kandungan ikan yang berlimpah, warga sekitar juga memanfaatkan benih-benih ikan yang masih liar, untuk ditangkap, dibesarkan, dan diperjualbelikan dalam ukuran tertentu.
Pantauan awak media ini saat mengunjungi Bendungan Tirta Shinta, Supri, warga Desa Talangjali, Kecamatan Kotabumi Kab. Lampura, sedang melakukan transaksi dengan seorang pengepul benih ikan Kamal (Toman).
Diakui Supri, benih-benih ikan Kamal berukuran 6 cm yang dijualnya tersebut, awalnya diperoleh dari seputaran Bendungan Tirta Shinta. “Benih ini awalnya saya dapat di sekitar bendungan. Lalu, saya pelihara hingga mencapai ukuran yang diinginkan pengepul,” tutur Supri, Kamis kemarin, (16/08/2018). Dikatakannya benih berukuran 6-7 cm itu dijualnya kepada pengepul seharga Rp.1.000,- per ekor.
Diakuinya, dirinya belum mampu untuk melakukan budidaya pembenihan sendiri, meskipun pendapatan ekonomi keluarga sangat mengandalkan dari bisnis pembenihan ikan Kamal. “Banyak kendala yang tidak bisa saya hindari, meskipun bisnis benih ikan Kamal ini menjadi salah satu gantungan hidup saya, mas,” jelas Supri sambil menghitung satu persatu benih ikan Kamal yang akan dijualnya.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, ikan Kamal atau TomanĀ adalah nama sejenisĀ ikanĀ buas dariĀ sukuĀ ikan gabusĀ (Channidae). Memiliki bentuk tubuh yang mirip denganĀ ikan gabus, toman dapat tumbuh besar mencapai panjang lebih dari satuĀ meterĀ dan menjadiĀ spesiesĀ yang terbesar dalam sukunya.
Ikan Toman dalamĀ Bahasa InggrisĀ dikenal sebagaiĀ redline snakehead, redline snakehead merujuk pada warna tubuhnya ketika muda, atauĀ Malabar Snakehead. NamaĀ snakehead mengacu pada bentuk kepalanya yang menyerupai kepalaĀ ular. Sementara nama ilmiahnya adalahĀ Channa Micropeltes (sumber : wikipedia.org).
Ikan Kamal/Toman juga masuk dalam katagori ikan hias. Banyak konsumen yang menggemari ikan Toman karena tampilannya yang cantik dan menawan. Hal ini juga menjadi dasar ikan Kamal di pasaran memiliki nilai jual yang tinggi.
Peluang usaha budidaya ikan TomanĀ sangat prospektif. Secara faktual, bisnis budidaya ikan Toman mampu mendatangkan keuntungan dengan nilai yang fantastis. Pasalnya, selain memiliki nilai jual tinggi, pangsa pasar ikan ini terbilang cukup luas.
Diharapkan, Pemerintah Kabupaten Lampung Utara melalui instansi terkait untuk terlibat langsung memberikan pembinaan terhadap para pembudidaya ikan Toman di wilayah Kotabumi Utara dan seputaran Bendungan Tirta Shinta. Hingga kini para peternak budidaya ikan disana masih melakukan teknik budidaya secara tradisional. Dikhawatirkan, teknik yang dilakukan ini di masa mendatang justru mengganggu habitat ikan Toman di Bendungan Tirta Shinta. (ardi)