

Bandarlampung (SL) – Hiswana Migas Lampung menyatakan bahwa kelangkaan Bahan Bakar Berminyak (BBM) jenis premium disejumlah SPBU Lampung disebabkan pembatasan pengiriman dari Pertamina. Sementara stok Premium subsidi yang dikirim ke SPBU ternyata juga banyak di gunakan kendaraan mewah.
“BBM jenis premium yang sepatutnya diberikan untuk masyarakat kelas menengah kebawah mengakibatkan stoknya terbatas. Tidak jarang ditemui antrean panjang kendaraan mewah yang mengisi bahan bakar jenis ini,” kata Ketua Bidang SPBU DPC Hiswanamigas Lampung Donny Irawan, didampingi Ketua, dan pengurus Hiswana Migas, usai rapat pemantapan pengurus, Rabu (4/4) di Bandarlampung.
Donny mengatakan, saat ini Pertamina memberikan batasan alokasi premium. “Saat ini memang dibatasi, yang sebelumnya SPBU dikirim 32.000 (kl) saat ini hanya dikirim 8 (kl),” ujar Donny, di Kantor DPC Hiswanamigas Lampung.
Menurutnya, permintaan BBM jenis premium sampai saat ini terus meonjak. “Pertamina harus untung dan subsidi ini membengkak sekali sehari bisa sampai 10 milyar untuk subsidi, sehingga dilakukan pembatasan,” ujar Donny.

Peraturan ini juga berasal dari BPH Migas terkait pembatasan penggunaan premium di Lampung yang dijalankan oleh pihak PT pertamina. “Kita mendukung masyarakat tapi disisi lain pihak PT Pertamina yang menanggung ruginya banyak dan ini memang kebiasaan masyarakat beralih ke pertalite,” paparnya.
Sementara nengenai stok elpiji menjelang Bulan Ramadhan Mei mendatang, DPC Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Lampung menjamin ketersediaan stok saat bulan puasa.
Kabid Elpiji DPC Hiswana Migas Lampung Adi Candra, menyatakan menjamin stok bisa dipastikan aman. Sebab, kuota yang disediakan oleh pemerintah pusat untuk Lampung tahun 2018 meningkat yakni sebanyak 172.640 metrik ton (MT) yang sebelumnya hanya 169.000 MT.
“Untuk stok kita berani jamin tidak ada persoalan,” kata Adi Candra.
Bahkan terkait jaminan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) jelang Ramadhan dan Idul Fitri pihak Hiswana Migas menjamin harga tidak melebihi HET di agen dan pangkalan.
“Jika stok yang cukup juga berpengaruh terhadap kestabilan harga, sebab kalau jelang Ramadhan bisa dibilang malah tidak laku. Ditambah lagi kita juga terlibat dalam gelar Operasi Pasar (OP),” paparnya.
Namun, jika terjadi penjualan diatas HET koordinasi dengan Pertamina hanya bisa dilakukan ditingkat pangkalan dan agen saja. “Tapi kalau di warung-warung ini tidak bisa dibatasi, karena untuk yang HET ini mengacu pada Pergub radius 60 km dari SPBE jika lebih mengacu kepada SK Bupati atau Walikota,” katanya.(*)