
Lampung Timur, sinarlampung.co – Berawal dari lahan gersang dan terbengkalai, Juli Rananto berhasil menyulap tanah seluas hampir dua hektare menjadi perkebunan melon produktif yang kini dikembangkan sebagai destinasi agrowisata petik buah.
Melalui Jayasena Farm, pengusaha hasil laut tersebut menghadirkan konsep wisata petik melon sendiri di Jalan Lintas Timur Cirebon Baru, Desa Muara Gading Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur.
Hamparan tanaman hijau dengan buah melon yang bergelantungan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Tak sekadar membeli buah, wisatawan juga diberi kebebasan memilih dan memetik melon langsung dari kebun, sekaligus mencicipi buah tester sebelum menentukan pilihan.
Namun, di balik berkembangnya Jayasena Farm, tersimpan cerita perjuangan Juli dalam mencari sumber penghasilan alternatif di tengah sulitnya usaha perikanan.
Sebagai pengusaha hasil laut yang membina sejumlah nelayan, Juli mengaku semakin sulitnya hasil tangkapan saat melaut menjadi salah satu alasan dirinya mulai melirik sektor pertanian.Biaya operasional yang tinggi dan hasil tangkapan yang kerap tidak sebanding dengan pengeluaran membuat sebagian besar perahu nelayan binaannya terpaksa ditambatkan.
Kondisi tersebut mendorongnya memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif untuk mengembangkan budidaya melon sekaligus membangun usaha agrowisata.
Bermodal keberanian dan ketekunan, Juli mulai merintis Jayasena Farm. Namun, perjalanan awal usaha tersebut tidak berjalan mulus. Ia mengaku sempat mengalami kerugian selama tiga siklus awal budidaya. Pendapatan yang diperoleh hanya cukup untuk mengembalikan modal, bahkan belum menghasilkan keuntungan.
“Di awal tantangannya luar biasa mas. Siklus pertama sampai ketiga cuma balik modal, bahkan merugi. Saya teruskan sampai siklus ini. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa merasakan keuntungan dengan konsep wisata buah melon petik sendiri,” ujar Juli, Minggu (11/10/2026).
Menurutnya, persoalan pemasaran dan ketidakstabilan harga menjadi tantangan tersendiri dalam usaha budidaya buah. Tingginya biaya produksi sering kali tidak sebanding dengan harga jual yang diterima petani dari pengepul atau tengkulak. Juli mengaku pernah berupaya memasarkan melon hasil kebunnya secara mandiri hingga ke Bandar Lampung. Namun, harga yang diperoleh belum mampu memberikan keuntungan sesuai harapan.
“Awalnya saya berdarah-darah, Mas. Saya harus menjajakan melon sendiri untuk mencari pembeli dan pasar sampai ke Bandar Lampung. Tapi, harganya tetap belum bagus untuk menghasilkan keuntungan yang diharapkan,” tuturnya.
Dari pengalaman tersebut, Juli kemudian mengembangkan strategi pemasaran melalui konsep agrowisata. Dengan membuka kebun untuk kunjungan masyarakat, hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai komoditas, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Kembangkan Berbagai Varietas Melon
Saat ini, Jayasena Farm telah mengembangkan sejumlah varietas melon, di antaranya Intanon, Golden Langkawi, dan Golden Lavender, serta beberapa varietas lainnya. Selain melon, Juli juga membudidayakan cabai rawit jenis japlak sebagai komoditas tambahan.
Proses budidaya dilakukan secara mandiri, mulai dari pembenihan hingga perawatan tanaman. Benih melon varietas F1 disemai selama kurang lebih delapan hari sebelum dipindahkan ke media tanam. Masa tanam hingga panen berkisar antara 55 sampai 70 hari setelah tanam, bergantung pada varietas dan kondisi pertumbuhan tanaman.
Dalam pengelolaannya, Jayasena Farm menggunakan dua pola media tanam yang disebut cocopeat/ cocofiber dan Machida, sebuah metode budidaya tanaman modern. Pengolahan media tanam juga memanfaatkan bahan organik serta aktivasi bakteri pengurai.
Perawatan tanaman dilakukan secara berkala, meliputi pemenuhan nutrisi dan pengendalian hama maupun penyakit menggunakan pupuk NPK, fungisida, serta insektisida sesuai kebutuhan. Pengelolaan budidaya tersebut dilakukan untuk menjaga pertumbuhan tanaman sekaligus menghasilkan buah dengan kualitas yang baik.
Melalui konsep petik sendiri, pengunjung dapat memilih melon sesuai keinginan tanpa batasan jumlah. Pengelola juga menyediakan buah tester secara gratis sehingga pengunjung bisa mencicipi rasa melon sebelum memetik buah pilihannya.
Pengunjung Puas dengan Rasa Melon
Konsep wisata petik melon tersebut mulai menarik perhatian pengunjung, termasuk wisatawan dari luar Lampung Timur.
Neni dan Leni, pengunjung asal Kotabumi, mengaku mengetahui keberadaan Jayasena Farm melalui media sosial. Keduanya kemudian tertarik datang bersama anak-anak dan kerabat untuk menikmati pengalaman memetik melon langsung dari kebun.
Mereka mengaku telah lima kali berkunjung karena merasa puas dengan rasa buah, pelayanan, serta harga yang ditawarkan.
“Kami sudah lima kali ke sini. Pelayanannya bagus, pemiliknya ramah, dan harganya merakyat. Melonnya manis dan bisa mencicipi jenis yang lain,” ungkap mereka.
Bagi pengunjung, konsep tersebut memberikan pengalaman berbeda karena dapat memilih buah secara langsung sekaligus menikmati suasana perkebunan bersama keluarga.
Keberadaan Jayasena Farm juga menjadi alternatif wisata bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana agrowisata tanpa harus pergi jauh ke luar daerah.
Bangkit dari Keterbatasan
Perjalanan Juli Rananto mengembangkan Jayasena Farm menjadi gambaran bagaimana kegigihan dan keberanian mengambil peluang dapat membuka jalan usaha baru di tengah situasi ekonomi yang sulit.
Dari usaha hasil laut yang menghadapi tantangan akibat menurunnya hasil tangkapan nelayan, Juli mencoba membangun sumber penghasilan alternatif melalui sektor pertanian dan pariwisata.
Meski sempat mengalami kerugian pada awal budidaya, ia memilih bertahan dan terus mengembangkan usahanya hingga mulai merasakan hasil.
Kini, lahan yang sebelumnya gersang dan terbengkalai telah berubah menjadi perkebunan melon yang produktif sekaligus destinasi wisata petik buah di Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur.
Jayasena Farm menjadi bukti bahwa inovasi pemasaran dan ketekunan dalam mengembangkan usaha dapat membuka peluang baru, bahkan dari lahan yang sebelumnya tidak produktif. (Afandi)