
Pesawaran, sinarlampung.co – Terik matahari menyengat tanpa ampun di Jalan Desa Kedondong, Kecamatan Kedondong, Pesawaran, Senin (14/9/2026) menjelang pukul 11.00 WIB. Langkah-langkah kaki pelayat terdengar berat menapak tanah dusta yang berdebu. Di barisan paling depan, iringan keluarga, kerabat, hingga puluhan jurnalis dari Ikatan Jurnalistik Provinsi Lampung (IJP) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung bahu-membahu membopong keranda hijau.
Di dalamnya bersemayam sosok yang selama ini dikenal penuh energi: Yusuf Ramadhan, S.H. Pemimpin Redaksi media Konkritnews sekaligus musisi muda lagu daerah Lampung itu diantarkan menuju persemayaman terakhirnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa kelahirannya.
Almarhum menghembuskan napas terakhirnya pada Minggu (13/9/2026) sore sekitar pukul 15.00 WIB, meninggalkan seorang istri dan satu orang anak yang kini harus merajut hari tanpa kehangatan hadirnya.
Kepergian pria yang akrab disapa Putra ini menyisakan kehampaan yang mendalam bagi insan pers dan penikmat musik di Bumi Ruwa Jurai. Sepanjang hari sejak kabar duka berembus, linimasa dan beranda status WhatsApp para rekan sejawat dipenuhi potongan klip lagu-lagu hits teranyar ciptaannya.
Melodi lagu daerah khas Lampung yang biasa dinyanyikan dengan penuh penghayatan itu kini bergema sebagai tribut perpisahan. Musik bukan sekadar hobi bagi Putra; itu adalah caranya mencintai kebudayaan lokal dan menyampaikan cerita kehidupan masyarakat Pesisir.
“Beliau orang yang sangat ramah (humble) dan pandai bergaul. Di media ia tajam, di musik ia bernyawa, dan di kehidupan sehari-hari ia selalu membawa keceriaan,” kenang salah satu rekan jurnalis di lokasi pemakaman.
Di luar kesibukan memimpin dapur redaksi dan mengolah nada, Putra adalah pribadi yang gesit membaca peluang usaha. Jiwa entrepreneurship-nya menyala di berbagai sektor. Ia tak gengsi terjun mempopulerkan jualan secara online di platform TikTok, hingga menginvestasikan tabungannya untuk memiliki armada perahu wisata dan pemancingan di pesisir Pesawaran.
Kehadirannya di kawasan pesisir tak sekadar mencari rezeki, tetapi juga aktif menggaet wisatawan lokal maupun luar daerah untuk menikmati keindahan laut Lampung.
Semangat pantang menyerahnya terpatri abadi dalam bait kalimat yang sempat ia unggah di akun TikTok pribadinya, @PutraRamadhan93, pada Jumat (12/9/2026)—hanya dua hari sebelum ia berpulang:
“Jangan takut memulai dari kecil. Semua usaha besar pernah dimulai dari langkah sederhana, modal terbatas, dan keberanian untuk mencoba. Terus belajar, berani mengambil risiko, dan jangan menyerah ketika gagal. Karena pengusaha sejati bukan yang tidak pernah jatuh, tetapi yang selalu bangkit dan mencoba lagi.”
Saat tanah merah perlahan menutup liang kubur di TPU Desa Kedondong, doa-doa khusyuk dilantunkan. Kawan-kawan pers melingkar dengan mata berkaca-kaca, menyadari bahwa ruang berita kini kehilangan salah satu pena terbaiknya, dan panggung musik lokal kehilangan salah satu pemetik nadanya.
Putra telah rampung menuntaskan tugasnya di dunia. Ia pergi meninggalkan warisan karya, jejak kebaikan, dan pesan moral yang akan terus hidup: untuk tidak pernah takut memulai dari hal kecil, dan selalu berani bangkit kembali. Selamat jalan, Yusuf Ramadhan, S.H. Karya dan semangatmu abadi. (Juniardi)