
Lampung Tengah, sinarlampung.co – Uji coba Program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kabupaten Lampung Tengah menunjukkan hasil menjanjikan. Produksi padi dalam lahan percontohan program tersebut tembus 11,4 ton per hektare.
Hasil itu disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri panen padi model PM-AAS di Desa Rama Nirwana, Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengah, Kamis (20/8/2026).
Panen tersebut menjadi bagian dari penerapan pertanian modern yang dilaksanakan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Lampung dengan melibatkan lahan percontohan seluas 100 hektare.
Lahan tersebut melibatkan empat kelompok tani dan sekitar 77 petani. Menurut Gubernur, hasil panen membuktikan teknologi pertanian modern mampu mendorong peningkatan produktivitas padi.
“Alhamdulillah, modeling PM-AAS yang dilakukan di Provinsi Lampung hari ini sudah dipanen dan ubinannya juga luar biasa, 11,4 ton. Tentunya piloting ini berhasil,” ujar Gubernur.
Miza mengatakan keberhasilan uji coba tersebut tidak boleh berhenti sebagai proyek percontohan. Pemprov Lampung akan mendorong penerapan PM-AAS secara lebih luas di berbagai wilayah.
“Piloting ini berhasil. Kita akan ekstensifikasi bagaimana ini akan sebanyak-banyaknya ditanam di Provinsi Lampung,” tegasnya.
Kementerian Pertanian menargetkan penerapan PM-AAS di Lampung mencapai 35.000 hektare hingga Desember 2026. Untuk mengejar target itu, Pemprov Lampung akan memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Pertanian serta pemerintah kabupaten dan kota.
“Kita akan fokus, kita akan bantu, kita akan berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian supaya target 35.000 ini bisa tercapai,” kata Gubernur.
Mirza menilai peningkatan produktivitas pertanian menjadi salah satu kunci meningkatkan kesejahteraan petani. Menurutnya, kenaikan produksi harus berujung pada peningkatan pendapatan dan kualitas hidup petani beserta keluarganya.
“Kalau petani makmur, insyaallah Provinsi Lampung makmur. Kalau petani maju, insyaallah Lampung maju,” ujarnya.
Selain PM-AAS, Pemprov Lampung juga mengembangkan program Pupuk Organik Cair (POC) untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kemandirian sarana produksi pertanian.
Mirza mengatakan pengembangan POC merupakan hasil riset yang telah dilakukan sejak 2017 sebelum kemudian diadopsi menjadi program pemerintah daerah.
“Tahun ini sudah saya selesaikan, tahun kemarin 500 titik desa, tahun ini 2.000 desa. Berarti nanti ada 2.500 desa. Total semuanya 4 juta liter saya bagikan kepada seluruh petani,” jelasnya.
Menurut Mirza, penerapan PM-AAS yang dipadukan dengan POC juga menunjukkan hasil positif. Produktivitas tanaman disebut meningkat lebih dari 10 persen.
“Ini kita sudah kolaborasi dengan PM-AAS dengan metode penanaman Pak Amran dan alhamdulillah ada peningkatan produktivitas, naik 10 persen lebih. Jadi ini adalah program pemerintah pusat berkolaborasi dengan program Pemerintah Provinsi Lampung dan manfaatnya langsung dirasakan oleh petani,” ungkapnya.
Pemprov Lampung menargetkan produksi padi pada 2026 mencapai sekitar 3,5 juta ton. Target itu didukung peningkatan produktivitas, indeks pertanaman (IP), penguatan irigasi, penggunaan benih unggul, serta perluasan teknologi pertanian modern.
Mirza optimistis produksi padi Lampung dapat terus meningkat seiring semakin luasnya penerapan PM-AAS dan kenaikan indeks pertanaman.
“Ketika PM-AAS ini lebih banyak diterapkan di seluruh sawah di Provinsi Lampung, dan IP juga naik tahun depan, saya yakin kita bisa sampai 4 juta ton,” ujarnya.
Mirza juga menilai Lampung Tengah memiliki posisi strategis dalam pembangunan pertanian Lampung. Sekitar 20 persen petani di Provinsi Lampung berada di wilayah tersebut.
“Kalau memajukan Provinsi Lampung, tengahnya Lampung yaitu Lampung Tengah ini harus didongkrak, harus dimajukan,” tegasnya.
Karena itu, Pemprov Lampung tengah mencari mekanisme untuk turut mendukung pembangunan infrastruktur jalan desa. Infrastruktur tersebut dinilai penting dalam menunjang aktivitas masyarakat sekaligus sektor pertanian.
Gubernur menegaskan Pemprov Lampung akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat dan seluruh pemangku kepentingan untuk mewujudkan pertanian yang produktif, modern, dan berkelanjutan.
“Ini adalah kesempatan emas bagi Provinsi Lampung untuk meningkatkan kesejahteraannya,” pungkas Gubernur.
Penanggung Jawab Luas Tambah Tanam (LTT) dan Swasembada Pangan Provinsi Lampung Tin Latifah mengatakan Lampung merupakan salah satu dari lima besar provinsi pendukung produksi pangan nasional.
Karena itu, peningkatan produktivitas pertanian di Lampung dinilai memiliki arti penting bagi pencapaian swasembada pangan nasional.
“Lampung menjadi salah satu penyokong capaian produksi nasional, masuk lima besar provinsi pendukung produksi nasional. Jadi kalau Lampung terpuruk, nasional juga ikut terpuruk,” ujarnya.
Tin mengapresiasi dukungan Gubernur Lampung melalui program Pupuk Organik Cair yang dinilai menunjukkan keberpihakan pemerintah daerah terhadap petani.
Ia berharap keberhasilan penerapan PM-AAS di Seputih Raman dapat menjadi dorongan untuk memperluas teknologi tersebut ke wilayah lainnya.
“Selama ini kita meragukan produktivitas padi itu tidak bisa lebih dari 10 ton kalau bukan benih padi hibrida. Ternyata ini bisa,” katanya.
Sementara itu, Plt. Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri mengapresiasi dukungan Pemprov Lampung dan pemerintah pusat terhadap pengembangan sektor pertanian di Lampung Tengah.
Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian Lampung Endro Gunawan mengatakan pelaksanaan lahan percontohan PM-AAS di Rama Nirwana mendapat dukungan berbagai pihak.
Dukungan tersebut berasal dari Pemprov Lampung, Pemkab Lampung Tengah, Kementerian Pertanian, Pupuk Indonesia, BBWS Mesuji Sekampung, PLN, penyuluh, hingga kelompok tani dan gabungan kelompok tani.
Selain teknologi budidaya, dukungan diberikan melalui mesin pemanen dan perontok padi, drone penyemprot tanaman, irigasi perpompaan, listrik masuk sawah, benih unggul, serta sarana produksi pertanian.
Endro menyebut produktivitas rata-rata mencapai 11,2 ton per hektare. Hasil tersebut dinilai menjanjikan karena lahan percontohan PM-AAS dilaksanakan dalam kondisi kemarau.
Keberhasilan itu diharapkan menjadi model yang dapat diterapkan kembali di wilayah lain di Provinsi Lampung. (*)