
Oleh Juniardi S.I.P, S.H, M.H
Pernahkah Anda memperhatikan sebuah pemandangan yang cukup unik di tengah masyarakat kita? Beberapa tahun lalu, saat ada aksi terorisme dan dentuman senjata meletus di pusat kota Jakarta, lokasi kejadian bukannya sepi, melainkan mendadak ramai. Orang-orang berkerumun menyaksikan penggerebekan seolah sedang menonton pertunjukan. Bahkan, beberapa pedagang kaki lima santai saja menjajakan dagangannya di sekitar area bahaya.
Coba bandingkan dengan warga di negara-negara maju. Ketika mendengar suara letusan senjata api, refleks pertama mereka adalah langsung tiarap dan mencari perlindungan. Fenomena ini bukan soal mereka penakut, melainkan bukti tingginya kesadaran keamanan (security awareness) dan kedisiplinan yang terbentuk dari edukasi ketahanan nasional.
Fenomena “menonton bahaya” di negeri kita menjadi cermin besar: ada yang belum tuntas dengan pemahaman dan kewaspadaan dasar masyarakat kita terhadap situasi darurat. Di sinilah pentingnya kita membicarakan kembali gagasan Wajib Militer (Wamil).
Ketika Sentimen Anti-Militer Terasa Begitu Aneh
Anehnya, setiap kali wacana wamil atau bela negara dihembuskan, selalu ada pihak-pihak yang alergi, menolak keras, atau menunjukkan sikap anti-militer. Padahal, jika kita mau menengok sejarah, sikap seperti itu terasa sangat ironis.
Bangsa Indonesia tidak mendapatkan kemerdekaannya dari hadiah atau negosiasi meja makan semata. Kita merdeka karena pendahulu kita bertempur dan berjuang secara militer—bahkan hanya dengan bermodalkan bambu runcing melawan senapan modern. Roh dan fondasi Republik ini sejatinya lahir dari perjuangan fisik dan ketahanan mental.
Bahkan kalau mau jujur, kultur militer itu sebenarnya sudah sangat melekat dalam kehidupan bernegara kita, termasuk di institusi sipil. Lihat saja Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Walaupun secara kelembagaan Polri sudah lama dipisahkan dari TNI dan berstatus sipil, kultur dan bahasanya masih sangat bernuansa militer. Setiap kali membuat program atau tindakan di lapangan, istilah yang dipakai selalu “Operasi”—mulai dari Operasi Lilin, Operasi Ketupat, hingga Operasi Zebra. Istilah operasi ini jelas-jelas idiom yang lazim digunakan dalam doktrin militer.
Jadi, kalau ada yang bilang kultur militer itu asing atau tidak cocok untuk warga Indonesia, rasanya mereka lupa dengan sejarah dan realita di sekitar kita.
Belajar dari Negara Maju dan Demokratis
Menjalankan wajib militer bukan berarti kita ingin mengajak perang atau mengubah negara ini jadi otoriter. Negara-negara paling maju dan demokratis di dunia justru memanfaatkan wamil sebagai alat perekat bangsa dan pembentuk etos kerja:
Korea Selatan: Wamil membentuk generasi muda yang memiliki kedisiplinan tinggi dan etos kerja pantang menyerah yang mendorong kemajuan industri mereka.
Singapura: Lewat National Service (NS), Singapura yang kaya akan keragaman etnis berhasil menyatukan seluruh warganya dalam satu jiwa korsa demi menjaga negara kecil mereka.
Finlandia dan Swiss: Dua negara dengan tingkat kesejahteraan dan kedamaian tertinggi di dunia ini memiliki sistem wamil yang sangat solid. Setiap warganya dilatih untuk siap siaga (total defence) dalam menghadapi krisis apa pun.
Mulai dari Pejabat, ASN, hingga Lini Terdepan
Lantas, dari mana kita harus memulai jika wamil diterapkan di Indonesia?
Sangat tepat jika langkah awal ini diteladankan oleh para pelayan publik dan pejabat negara terlebih dahulu. Sebelum seseorang dilantik menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), atau sebelum seseorang memegang jabatan publik—mulai dari Kepala Satuan Kerja (Satker), Komisioner Lembaga, Anggota Dewan (DPR/DPRD), hingga Kepala Desa—mereka wajib lulus pendidikan Wamil terlebih dahulu.
Mengapa ini penting? Agar para pemimpin dan aparatur di daerah maupun pusat memiliki doktrin bela negara yang kuat, jiwa korsa yang bersih dari ego sektoral, serta integritas tinggi untuk membela kepentingan rakyat dan NKRI di atas kepentingan pribadi atau golongannya.
Lebih dari Sekadar Memegang Senjata
Manfaat wajib militer jauh melampaui urusan pertahanan fisik:
Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Natural Sebagai negara Ring of Fire yang langganan bencana alam, warga berlatar belakang wamil akan otomatis menjadi tenaga Search and Rescue (SAR) dan tanggap darurat yang siap diterjunkan kapan saja.
Meleburkan Sekat SARA Di dalam barak latihan, tidak ada anak pejabat atau warga biasa, tidak ada sekat suku maupun agama. Semua sama-sama digembleng. Ini adalah melting pot paling ampuh untuk merawat kebhinekaan.
Membentuk Mental dan Kedisiplinan Nasional Dunia kerja butuh SDM yang tangguh, tepat waktu, dan tahan banting. Latihan militer dasar adalah kawah candradimuka terbaik untuk membentuk karakter tersebut.
Penutup
Wajib militer bukanlah soal memiliterisasi sipil, melainkan investasi mendasar pada karakter bangsa (nation and character building). Kita butuh doktrin yang mampu membangunkan kembali jiwa nasionalisme yang tertidur. Dengan wamil, kita tidak hanya melatih fisik, tetapi juga menempa kesadaran bahwa keselamatan, kedaulatan, dan masa depan NKRI adalah tanggung jawab bersama seluruh rakyat Indonesia. ***