
Lampungtimur, sinarlampung.co – Terik matahari siang itu seketika kalah panas oleh emosi yang membakar. Di tepi jalan lintas Sukadana, Lampung Timur, buah jagung manis yang berserakan di tanah akibat sebuah mobil terangkut terbalik mendadak berubah menjadi petaka berdarah.
KRONOLOGI Duel Senjata Tajam di Sukadana: Diserbu Pria Berpedang, Tangan Korban Nyaris Putus
Semua bermula dari hal yang tampak sepele. Sebuah mobil pengangkut jagung manis terguling di kawasan Desa Pakuan Aji, Kecamatan Sukadana. Di tengah kepulan debu dan tumpukan hasil bumi yang berserakan, seorang pemuda berniat mengambil beberapa tongkol jagung tersebut.
Namun, Marwan, sang pemilik jagung, melarangnya. Teguran lisan yang sejatinya wajar itu justru diartikan lain. Rasa tak terima merayapi dada sang pemuda. Teguran sederhana itu menjelma menjadi dendam membara dalam hitungan jam.
Tak lama berselang, deru suara mesin dua sepeda motor memecah ketenangan warga Desa Pakuan Aji. Tiga orang pemuda datang menembus debu jalanan. Tangan mereka tidak lagi kosong; bilah-bilah parang mengilap dalam genggaman.
Tanpa banyak bicara, mereka mendatangi kediaman Marwan. Bentakan, ancaman, hingga suara gemerincing kaca rumah yang pecah berhamburan memicu kepanikan warga sekitar. Marwan yang merasa terancam tak tinggal diam. Ia meraih senjata tajamnya dan keluar menembus pintu rumah.
Duel udara dingin di tengah jalan raya pun tak terhindarkan. Dua pria saling sabet menggunakan parang, disaksikan warga yang terpaku ketakutan. Video amatir yang kemudian viral di media sosial merekam detik-detik mencekam itu: dentingan senjata tajam, teriakan, dan kepulan debu jalanan yang menyelimuti pertikaian.
Ketika amarah menyurut, yang tersisa hanyalah penyesalan dan darah. Seorang pemuda tergeletak mengerang kesakitan dengan luka bacok parah di bagian lengan—tangannya nyaris putus tertebas parang.
Kepala Desa Pakuan Aji, Tan Malaka, tak mampu menyembunyikan rasa prihatinnya atas tragedi yang menimpa warganya. Perselisihan sepele itu kini meninggalkan duka mendalam.
“Awalnya cuma gara-gara mobil terbalik muatan jagung manis. Anak itu mau mengambil jagung tapi dilarang pemiliknya. Ditegur malah tidak terima,” tutur Tan Malaka mengelus dada, menceritakan kembali peristiwa kelam tersebut.
Yang membuat hati lebih teriris, di balik Kilatan parang dan pertumpahan darah itu, kedua belah pihak sebenarnya masih terikat tali persaudaraan. Warga Desa Pakuan Aji dan Desa Bumi Nabung yang saling serang hari itu bukan orang asing satu sama lain.
“Harapan saya sebagai kepala desa, ke depan tidak ada lagi tindakan anarkis antara warga Pakuan Aji dan Bumi Nabung. Permasalahan ini sudah di ranah hukum, dan karena mereka sebenarnya masih ada ikatan keluarga, kalau bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” harap Tan Malaka.
Kini, riuh bentrok di tengah jalan itu telah berganti dengan kesunyian proses hukum. Kasat Reskrim Polres Lampung Timur, Iptu Muhammad Iksir, membenarkan bahwa kedua pihak yang bertikai kini saling melapor. Satu pihak melapor atas tuduhan penganiayaan berat, sementara pihak lainnya melapor atas pengerusakan rumah.
“Kasus ini sedang kami tangani. Masing-masing pihak yang terlibat saling melapor. Saat ini masih kami dalami dan para pihak sedang dipanggil untuk dimintai klarifikasi,” ujar Iptu Muhammad Iksir.
Segenggam jagung manis yang tak seberapa harganya itu kini harus dibayar mahal: luka fisik yang permanen, dinding rumah yang retak, trauma warga, dan tali silaturahmi keluarga yang koyak tercabut amarah. (Rudy Zen Antoni)