
Lampung Timur, sinarlampung.co – Para petani di sejumlah desa di Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur, mengeluhkan kelangkaan pupuk bersubsidi yang sudah berlangsung hampir dua bulan. Kondisi ini membuat pertumbuhan tanaman padi dan jagung tidak maksimal, serta membebani biaya dan kekhawatiran para petani.
Keluhan ini disampaikan langsung oleh Taryono (46) saat ditemui awak media di lokasi persawahannya, Senin (13/7/2026). Ia menjelaskan gangguan ini terjadi sejak akhir Mei hingga pertengahan Juli ini.
“Kami petani sangat kecewa karena pupuk tidak kunjung datang. Padahal uang penebusan sudah kami bayar kepada ketua Gapoktan sejak akhir Mei lalu,” ungkap Taryono.
Ia menambahkan kelangkaan ini tidak hanya dirasakan di Desa Ngesti Karya, melainkan hampir merata di Desa Karya Basuki dan Desa Tanjung Wangi. Padi yang ditanamnya kini sudah berusia 30 hari, seharusnya sudah masuk masa pemupukan kedua. Karena stok belum ada, ia terpaksa meminjam pupuk dari kerabat di Lampung Selatan dengan janji akan mengembalikannya nanti jika persediaan di daerahnya sudah tersedia.
“Setiap pengambilan pupuk kami juga sudah menyiapkan data seperti KTP dan foto di kios penyalur. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian kapan barangnya datang,” tambahnya.
Kesulitan serupa dirasakan Marno (41). Ia yang biasanya menebus pupuk subsidi jenis Urea maupun Ponska seharga Rp100 ribu per kantong, kini bingung karena tanaman jagung dan padi sudah waktunya diberi pupuk kedua namun persediaan belum ada.
“Setiap mau menebus kami harus bayar dulu ke Gapoktan, baru barang datang kami ambil. Tapi sudah hampir dua bulan ini pupuk tak kunjung datang. Harapan kami pupuk segera tersedia agar kami tak kesulitan lagi merawat tanaman,” keluh Marno.
Sementara itu, Paidi selaku perwakilan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Ngesti Karya menjelaskan adanya penurunan alokasi pupuk serta kendala administratif.
“Jatah pupuk untuk kami yang semula 700 ton kini turun menjadi hanya 300 ton untuk seluruh Gapoktan. Ini karena kelebihan kapasitas di tahun sebelumnya, sehingga kuota dikurangi,” jelasnya.
Selain alokasi yang berkurang, kendala lain adalah pelaporan. “Petani enggan untuk berfoto dan menyetor data KTP saat pengambilan, padahal itu syarat wajib untuk laporan dan pengajuan selanjutnya. Akibatnya proses menjadi terhambat. Memang benar pupuk dari bulan Juni ini belum terdistribusi,” tambah Paidi.
Di sisi lain, Okta Saputra selaku pengelola kios distributor pupuk menjelaskan bahwa masalah ini bukan karena stok habis sepenuhnya, melainkan keterbatasan pasokan dan pengiriman.
“Permintaan sudah kami ajukan. Kendala utamanya karena barang terbatas dan antrean muatan di pelabuhan. Satu hari hanya dijatah 25 truk untuk melayani wilayah Lampung Timur dan Lampung Selatan. Semoga dalam waktu dekat distribusi ini sudah berjalan lancar kembali,” ujarnya. (Red)