
Bandarlampung, sinarlampung.co– Sebanyak 14 anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang direpatriasi dari Malaysia resmi memulai pendidikan di Provinsi Lampung. Mereka mendapatkan beasiswa penuh melalui Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Belasan siswa tersebut disebar di dua sekolah unggulan di Kota Bandar Lampung, yakni tujuh siswa di SMAN 2 Bandar Lampung dan tujuh siswa lainnya di SMAN 9 Bandar Lampung. Seluruh biaya pendidikan hingga kebutuhan hidup mereka ditanggung sepenuhnya oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menjelaskan bahwa para siswa tersebut merupakan anak-anak dari pekerja migran kurang mampu yang bekerja di sektor buruh dan pertanian di Malaysia. Akibat berstatus ilegal, orang tua mereka dipulangkan ke Indonesia. Negara kemudian hadir untuk memastikan hak pendidikan anak-anak tersebut tetap terpenuhi.
”Program ini merupakan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah untuk memfasilitasi anak bangsa yang dipulangkan ke Indonesia. Kami berharap mereka tidak hanya lulus SMA, tetapi bisa melanjutkan kuliah di Lampung demi meningkatkan kualitas hidup keluarga mereka,” ujar Thomas saat meninjau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 2 Bandar Lampung, Selasa 14 Juli 2026.
Sebagai informasi, Program ADEM merupakan beasiswa khusus jenjang SMA/SMK bagi lulusan SMP sederajat yang mengalami hambatan ekonomi atau geografis. Sasaran utamanya meliputi Orang Asli Papua (OAP), pelajar di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), serta anak-anak PMI repatriasi.
Pendampingan Psikologis dan Adaptasi Rupiah
Di sisi lain, sekolah penerima berkomitmen memberikan perhatian penuh terhadap aspek psikologis para siswa. Kepala SMAN 2 Bandar Lampung, Sevensari, mengungkapkan bahwa para siswa telah tiba sejak 3 Juli 2026. Tantangan terbesar mereka adalah beradaptasi di lingkungan baru dan harus hidup mandiri tanpa didampingi keluarga selama tiga tahun ke depan.
”Kami ingin mereka merasa sekolah ini adalah rumah dan keluarga sendiri. Mereka jauh dari orang tua dan tidak punya saudara di Lampung. Kami terus merangkul mereka agar secara psikologis nyaman dan bisa belajar dengan baik,” kata Sevensari.
Untuk mempercepat proses adaptasi, pihak sekolah telah mengajak para siswa mengenali dinamika Kota Bandar Lampung. Aktivitas tersebut mulai dari mengunjungi kawasan Car Free Day (CFD), pusat perbelanjaan, hingga belajar menggunakan mata uang Rupiah, mengingat selama ini mereka terbiasa menggunakan Ringgit saat tinggal di Malaysia.
Sevensari menambahkan, ke-14 siswa yang berada di Lampung ini merupakan anak-anak pilihan yang berhasil lolos seleksi ketat di Malaysia.
”Dari seribu lebih pendaftar di Malaysia, hanya 735 anak yang dinyatakan lolos secara nasional. Lampung mendapat kuota 14 anak. Kami berharap mereka memanfaatkan kesempatan berharga ini dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya. (Red)