
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Tragedi tawuran remaja kembali mengguncang Kota Bandar Lampung. Insiden berdarah di Jalan Yos Sudarso pada Minggu dini hari 10 Mei 2026 yang menewaskan Fransius Sihombing (22) menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan di Bumi Ruwa Jurai.
Tawuran Berdarah di Bumi Waras: Pemuda 21 Tahun Tewas Akibat Luka Bacok, Polisi Buru Pelaku
Merespons peristiwa tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung langsung mengambil langkah drastis untuk memutus mata rantai kekerasan di kalangan remaja.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menegaskan bahwa pengaruh negatif media sosial sering kali menjadi pemicu awal perselisihan antar-kelompok remaja. Sebagai langkah konkret, Disdikbud mengeluarkan edaran baru mengenai penggunaan perangkat komunikasi di sekolah.
“Mulai pukul 07.00 sampai 15.30 WIB saat proses pembelajaran berlangsung, siswa tidak boleh memegang handphone. Pengaruh negatif penggunaan handphone ini luar biasa, termasuk memancing keributan melalui media sosial,” tegas Thomas kepada wartawan, Rabu 13 Mei 2026.
Selain pembatasan perangkat komunikasi, Disdikbud telah menginstruksikan seluruh Kepala Sekolah untuk melakukan pemetaan terhadap siswa maupun wilayah yang dinilai rawan tawuran. Upaya ini dilakukan untuk mendeteksi dini potensi konflik sebelum pecah di jalanan.
Thomas juga mengungkapkan optimalisasi peran guru Bimbingan Konseling (BK) melalui tujuh langkah strategis pendampingan. “Kami sedang membuat program penguatan guru BK untuk pemetaan dan pendampingan siswa di masing-masing sekolah,” tambahnya.
Kolaborasi dengan Densus 88 dan Kepolisian
Langkah preventif Disdikbud Lampung juga melibatkan lintas sektoral. Tercatat, sekitar 450 siswa dikumpulkan untuk mendapatkan penguatan karakter dan wawasan kebangsaan hasil kerja sama dengan Densus 88 dan aparat kepolisian.
Materi pembinaan meliputi Bahaya narkoba dan perundungan (bullying), mitigasi berita bohong (hoax), bahaya komunitas negatif di media sosial yang sering kali memberi rasa percaya diri semu bagi remaja.
Kendati sekolah memperketat pengawasan, Thomas menekankan bahwa kunci utama tetap berada di tangan orang tua, terutama pada malam hari saat pengawasan sekolah berakhir.
“Orang tua harus kontrol. Anak berteman dengan siapa, pergi ke mana, itu harus dicek. Remaja sangat mudah terpengaruh, jadi pengawasan ayah dan ibu sangat penting agar anak tetap berada di jalur yang benar,” pungkasnya.
Hingga saat ini, pihak kepolisian telah mengamankan satu pelaku berinisial JK (16), seorang pelajar asal Bumi Waras, beserta senjata tajam sebagai barang bukti. Kejadian ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk lebih peduli terhadap aktivitas remaja di ruang digital maupun fisik. (Red)