
Tanggamus, sinarlampung.co – Bagi masyarakat Pekon Ngarip, ketenangan hidup di bawah kaki pegunungan Ulu Belu kini mulai terusik. Bukan oleh suara alam, melainkan oleh getaran tanah yang frekuensinya dirasakan semakin sering dan mengkhawatirkan dalam dua tahun terakhir.
Keresahan ini memuncak setelah getaran kuat kembali mengguncang pada Jumat subuh lalu. Meski PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Ulu Belu telah mengeluarkan klarifikasi bahwa gempa tersebut adalah fenomena alam, warga merasa ada yang tidak biasa.
Sunu Jatmiko, seorang warga asli Pekon Ngarip, mengungkapkan bahwa ada perbedaan besar antara gempa tektonik yang mereka kenal dulu dengan apa yang terjadi belakangan ini.
“Saya lahir dan besar di sini. Dari kecil sampai lima tahun lalu, gempa besar itu jarang terjadi. Tapi dua tahun terakhir ini, intensitasnya sangat sering,” keluhnya melalui saluran media sosial yang kemudian memicu diskusi luas di masyarakat, Sabtu (9/5).
Kejanggalan lain yang dirasakan warga adalah sifat getaran yang terasa sangat terlokalisasi. Saat warga Ngarip terbangun karena guncangan hebat, rekan-rekan mereka di pekon tetangga seperti Gunung Sari dan Argo Mulyo yang hanya berjarak belasan kilometer justru mengaku tidak merasakan apa-apa.
Kondisi ini membuat warga merasa klaim sepihak dari perusahaan tidak lagi cukup untuk menenangkan keadaan. Masyarakat mulai mempertanyakan transparansi data yang dimiliki perusahaan.
“Siapa yang bisa dan boleh melihat indikasi (bahwa ini bukan karena aktivitas geothermal) tersebut?” tulis Sunu mempertanyakan akuntabilitas pernyataan PGE.
Kini, warga tidak hanya butuh sekadar surat klarifikasi. Mereka menuntut adanya jalur komunikasi dua arah dan bukti nyata yang bisa diakses publik. Di tengah ketidakpastian ini, warga hanya ingin memastikan bahwa rumah tempat mereka berteduh masih tetap aman di tengah hiruk-pikuk operasional energi panas bumi di tanah kelahiran mereka.
Sementara General Manager PGE Area Ulubelu, Edy Sudarmadi, menegaskan bahwa gempa bermagnitudo 2,4 yang terjadi pada 2 Mei 2026 lalu adalah murni fenomena tektonik alami. Menurutnya, seluruh aktivitas pengeboran telah melalui kajian geologi, geofisika, dan geokimia yang ketat.
“Kami pastikan gempa tersebut tidak terkait dengan operasional PGE. Kami memiliki sistem monitoring mikro-seismik untuk memastikan aktivitas tetap di batas aman,” ujar Edy dalam keterangan resminya, Rabu 6 Mei 2026.
Secara geologis, wilayah Lampung memang berada di jalur aktif Ring of Fire dan Sesar Sumatera (Segmen Semangko). Data BMKG mencatat terdapat 62 kejadian gempa di wilayah Sumatera bagian selatan sepanjang Januari hingga April 2026, yang memperkuat argumen bahwa guncangan tersebut adalah proses alami pelepasan energi kerak bumi.
Namun, penjelasan ilmiah tersebut belum sepenuhnya menenangkan warga di lingkar operasional. Sunu Jatmiko, warga Pekon Ngarip, mengungkapkan kegelisahannya melalui media sosial, Sabtu (9/5). Ia menyoroti perbedaan frekuensi getaran yang ia rasakan sebagai warga lokal yang lahir dan besar di sana.
“Dari saya kecil sampai lima tahun terakhir, saya jarang merasakan gempa besar. Tetapi dua tahun ini intensitasnya semakin sering,” tulis Sunu.
Sunu juga mencatat adanya kejanggalan pada getaran Jumat subuh lalu yang terasa kuat di Ngarip, namun tidak dirasakan oleh warga di pekon tetangga seperti Gunung Sari atau Argo Mulyo yang hanya berjarak 10-20 kilometer. Hal inilah yang memicu pertanyaan warga: jika itu gempa tektonik luas, mengapa dampaknya terasa sangat terlokalisasi?
Merespons klaim PGE yang menyebut tidak ada indikasi aktivitas geothermal sebagai pemicu, warga menuntut akses komunikasi yang lebih terbuka. “Siapa yang bisa dan boleh melihat indikasi yang disampaikan tersebut?” tanya Sunu, menekankan pentingnya transparansi data bagi masyarakat terdampak.
Pihak PGE sendiri terus mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak terverifikasi, sembari menegaskan bahwa operasional panas bumi tetap berjalan aman demi menyuplai energi bersih bagi Lampung. (Red)