
Oleh: Juniardi
Lampung hari ini tertunduk lesu. Dalam satu tarikan napas waktu, Bumi Ruwa Jurai kehilangan dua putra terbaiknya yang telah menggoreskan tinta emas dalam sejarah otonomi daerah. Drs. Mozes Herman, sang peletak fondasi Kota Metro, dan Drs. H. Tamanuri, M.M., sang arsitek pembangunan Way Kanan, telah menuntaskan tugas sejarah mereka di dunia.
Kepergian keduanya bukan sekadar kehilangan figur politisi atau birokrat, melainkan kehilangan “kompas” kepemimpinan yang berhasil mengubah wajah daerah di masa transisi yang sulit.
Mozes Herman: Menenun Identitas Kota Pendidikan
Bagi warga Kota Metro, nama Mozes Herman adalah sinonim dari kelahiran identitas. Menjabat sebagai Wali Kota pertama (2000–2005) setelah Metro lepas dari Kabupaten Lampung Tengah, Mozes memikul beban berat: membangun sebuah kota dari nol secara administratif.
Warisan terbesarnya bukan hanya deretan gedung perkantoran di pusat kota, melainkan keteguhannya menjaga marwah Metro sebagai Kota Pendidikan. Di bawah sentuhannya, Metro tidak terjebak menjadi kota perdagangan yang semrawut, melainkan kota yang tertata, religius, dan beradab.
Ia memahami betul bahwa kekuatan Metro bukan pada sumber daya alam, melainkan pada kualitas manusianya. Mozes adalah sosok yang menanam pohon, agar generasi hari ini bisa menikmati teduhnya kualitas pendidikan di Metro.
Tamanuri: Membangun Asa dari Ujung Utara
Bergeser ke utara Lampung, kita mengenal H. Tamanuri sebagai sosok yang “menghidupkan” Way Kanan. Memimpin selama dua periode, Tamanuri berhasil mengubah persepsi tentang Way Kanan dari daerah yang dianggap “jauh dan tertinggal” menjadi kabupaten yang diperhitungkan di tingkat provinsi.
Gaya kepemimpinannya yang lugas namun mengayomi menjadikannya sosok ayah bagi masyarakat Way Kanan. Ia tidak berhenti di tingkat daerah; estafet pengabdiannya ia bawa hingga ke Senayan sebagai Anggota DPR RI.
Di sana, ia menjadi suara yang lantang bagi Lampung II, memastikan aspirasi petani dan masyarakat desa di pelosok Lampung terdengar di telinga pengambil kebijakan nasional. Tamanuri membuktikan bahwa pemimpin daerah yang baik adalah mereka yang tidak pernah putus urat nadinya dengan rakyat bawah.
Persamaan di Balik Perbedaan
Meski memimpin di medan yang berbeda—Mozes di wilayah urban yang padat dan Tamanuri di wilayah agraris yang luas—keduanya memiliki satu benang merah: Integritas dan Keberanian.
Keduanya memimpin di era awal otonomi daerah, masa di mana tantangan anggaran dan birokrasi jauh lebih berat dibanding sekarang. Namun, mereka mampu menjawab keraguan publik dengan hasil kerja nyata.
Mereka adalah generasi pemimpin yang “bekerja lebih banyak daripada bicara,” sebuah teladan yang kini kian langka kita temui di panggung politik praktis.
Tugas Kita: Menjaga Api Perjuangan
Selamat jalan Pak Mozes Herman, selamat jalan Pak Tamanuri. Rakyat Lampung, dari sudut-sudut kelas di Metro hingga hamparan kebun di Way Kanan, akan selalu mengenang jasa kalian.
Kepergian mereka adalah pengingat bagi para pemimpin hari ini: bahwa jabatan hanyalah titipan, namun warisan pembangunan dan kebaikan akan abadi melampaui usia raga.
Tugas kita kini bukan sekadar meratapi kepergian mereka, melainkan memastikan api perjuangan dan cita-cita mulia yang mereka rintis tetap menyala di Bumi Lampung. ***