
Oleh: Juniardi
BANDAR LAMPUNG – Ramadan kini telah memasuki etape akhir. Ada fenomena unik yang selalu berulang setiap tahunnya: sebuah “kemajuan” yang paradoks. Jika di malam-malam awal bulan suci masjid-masjid penuh sesak hingga meluber ke teras, kini saf-saf salat justru mengalami kemajuan secara harfiah—maju hingga tersisa satu atau tiga baris saja di depan imam.
Fenomena “kemajuan” saf ini menjadi penanda bahwa konsentrasi massa telah berpindah ruang. Gairah spiritual di rumah ibadah kini mulai berkompetisi dengan deru mesin di jalanan dan hiruk-pikuk persiapan hari kemenangan.
Jika masjid mulai lengang, pasar tradisional dan mal justru menjadi magnet baru. Warga berbondong-bondong memadati pusat perbelanjaan, berburu bahan pokok hingga pakaian lebaran. Di sudut lain, kantor-kantor perbankan disesaki warga yang mengantre demi lembaran uang baru—simbol kegembiraan yang siap dibagikan di hari raya.
Kesibukan ini semakin dipacu dengan cairnya Tunjangan Hari Raya (THR). Di kantor-kantor pemerintahan dan swasta, THR menjadi topik utama sekaligus motor penggerak daya beli masyarakat. Pemerintah daerah pun sibuk memastikan hak-hak pekerja tersebut terpenuhi tepat waktu, demi memastikan roda ekonomi berputar kencang di penghujung Ramadan.
Aroma Dapur dan Jalur Mudik
Di pemukiman, para ibu kini “berhijrah” dari tadarus ke dapur. Aroma kue kering—nastar, kastengel, hingga emping—mulai menyeruak dari jendela-jendela rumah. Sementara itu, di simpul-simpul transportasi seperti stasiun, bandara, terminal, hingga Pelabuhan Bakauheni, wajah-wajah penuh harap para pemudik mulai terlihat. Mereka memadati setiap jengkal ruang tunggu demi satu tujuan: merayakan kemenangan di kampung halaman.
Di tengah euforia warga yang bersiap mudik, ada ribuan petugas yang justru harus melipat rindu. Aparat Kepolisian, TNI, hingga petugas Dinas Perhubungan kini berjibaku dalam Operasi Ketupat. Di bawah terik matahari dan debu jalanan, mereka bersiaga di pos-pos pengamanan (Pospam) untuk memastikan arus lalu lintas lancar dan pemudik aman dari gangguan kriminalitas.
Pemerintah juga tidak kalah sibuk; mulai dari memastikan pasokan BBM di SPBU hingga memantau harga pangan agar tetap terjangkau oleh masyarakat kecil di hari raya.
Menjaga “Napas” Terakhir Ramadan
Meski kesibukan duniawi kian menyita waktu, para tokoh agama mengingatkan agar umat tidak terlena. Ketua MUI Lampung, dalam sebuah kesempatan, berpesan bahwa sepuluh malam terakhir adalah inti dari perjalanan Ramadan.
“Jangan sampai persiapan menyambut hari kemenangan justru membuat kita kehilangan kemenangan itu sendiri. Lebaran adalah merayakan kembalinya kita ke fitrah, maka selesaikanlah Ramadan dengan husnul khatimah di dalam masjid, bukan sekadar di dalam pasar,” pesannya.
Pesan moral ini menjadi pengingat penting: bahwa baju baru dan hidangan lezat hanyalah hiasan, namun kualitas ketakwaan yang dipupuk hingga detik terakhir Ramadan adalah isi yang sesungguhnya.
Pergeseran keramaian ini adalah siklus tahunan yang memperlihatkan sisi kemanusiaan kita. Kesibukan di pasar, dapur, pelabuhan, hingga pos penjagaan polisi adalah bentuk ekspresi kolektif dalam menjemput kemenangan.
Kini, semua mata tertuju pada gema takbir yang akan segera berkumandang. Di balik lelahnya mengantre THR, penatnya perjalanan mudik, dan siaganya para petugas di lapangan, ada satu doa yang sama: semoga ibadah yang mulai “maju” di saf masjid tidak mengurangi keberkahan yang kita jemput di hari yang fitri. ****