
BANDAR LAMPUNG, sinarlampung.co – Dalam sebuah acara keluarga yang hangat, terjadi percakapan menarik yang menyentil kesadaran kita tentang pergeseran zaman. Seorang anak muda, mewakili generasi masa kini yang lekat dengan teknologi, bertanya dengan polos kepada ayah, ibu, paman, bibi, hingga kakek dan neneknya.
Ia bertanya dengan nada heran, membayangkan betapa “menyedihkannya” hidup masa lalu tanpa kemudahan teknologi.
“Dulu kalian itu sebenarnya bagaimana hidupnya? Tidak ada televisi, tanpa Wi-Fi, tanpa teknologi canggih. Tidak ada internet, komputer, bahkan drone. Tidak ada Bitcoin, ponsel, Facebook, Twitter, YouTube, WhatsApp, hingga Instagram. Bagaimana kalian bisa bahagia?” tanyanya.
Suasana hening sejenak. Sang Kakek, dengan senyum bijak di wajahnya yang telah dimakan usia, berdiri dan menjawab di hadapan seluruh keluarga. Jawabannya bukan sekadar pembelaan, melainkan sebuah refleksi mendalam.
“Cucu sayang,” mulainya dengan lembut namun tegas. “Justru kakek ingin bertanya, lihatlah bagaimana generasi kalian hidup sekarang. Kalian memiliki segalanya, tapi seolah kehilangan yang paling utama.”
Sang Kakek melanjutkan, “Kalian hidup tanpa doa yang khusyuk, tanpa rasa hormat kepada yang tua, tanpa nilai-nilai kesopanan yang kuat. Seringkali tidak ada rasa tanggung jawab, kualitas batin yang rapuh, dan karakter yang mudah goyah. Rasa kemanusiaan, kerendahan hati, kebajikan, dan kehormatan seakan makin langka.”
Sang Kakek mengenang masa-masa antara tahun 1920 hingga 1975 sebagai masa yang penuh berkah.
“Kami adalah generasi yang diberkati. Hidup kami adalah buktinya. Pulang sekolah, kami harus mengerjakan PR dulu, baru boleh bermain. Dan teman yang kami ajak main adalah teman sungguhan, manusia nyata, bukan teman virtual di dunia maya yang tak pernah kami temui wajahnya,” kenangnya.
Ia menceritakan bagaimana kreativitas tumbuh dari keterbatasan. Mereka membuat mainan sendiri dari kayu atau tanah liat, lalu memainkannya bersama-sama dengan gelak tawa yang nyata.
“Orang tua kami tidak kaya. Yang mereka berikan adalah kasih sayang yang tulus dan pendidikan karakter, bukan sekadar uang atau barang mewah. Kami tidak punya ponsel, laptop, PlayStation, Xbox, atau internet. Tapi kami punya hal yang lebih berharga: teman-teman yang nyata dan setia,” tambahnya.
Kenangan Hitam Putih yang Berwarna
Dulu, keluarga tinggal saling berdekatan. Momen berkumpul adalah saat untuk benar-benar menikmati kebersamaan, bercerita tanpa gangguan notifikasi ponsel.
“Foto-foto kami mungkin hitam-putih, warnanya pudar termakan zaman. Tetapi percayalah, kenangan di dalamnya adalah yang paling berwarna dan hidup dalam ingatan kami,” ujar sang Kakek dengan mata berkaca-kaca.
Menutup petuahnya, sang Kakek menyebut generasinya sebagai “Generasi Edisi Terbatas” atau Limited Edition.
“Kami adalah generasi yang unik dan tangguh. Kami mampu menerima banyak hal dan beradaptasi. Mengapa? Karena kami adalah generasi terakhir yang patuh mendengarkan orang tua, namun sekaligus menjadi generasi pertama yang harus belajar mendengarkan anak-anak kami.”
“Kami adalah generasi yang ‘menyaksikan segalanya’. Dari ketiadaan menjadi ada. Kami adalah generasi yang benar-benar menyesuaikan diri dengan dunia yang terus berubah, tanpa kehilangan jati diri,” pungkasnya.
Sebuah renungan bagi kita semua. Teknologi memang memudahkan hidup, namun jangan sampai ia menggerus nilai, adab, dan rasa kemanusiaan yang menjadi pondasi kehidupan.***