
Bandar Lampung, sinarlampung.co-Di bawah langit Panaragan yang mulai meredup pada Agustus 2025, deru mesin alat berat masih terdengar di kejauhan. Di sebuah sudut Tiyuh (Desa) Pulung Kencana, aroma tanah basah bercampur dengan semangat yang baru: semangat untuk membuktikan bahwa kemajuan tidak selalu lahir dari melimpahnya angka di buku APBD, melainkan dari ketajaman inovasi.
Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) tengah berada di persimpangan sejarah. Di bawah kepemimpinan Ir. H. Novriwan Jaya, S.P., kabupaten ini tidak sekadar mengekor pada program “Mirza-Jihan” di tingkat provinsi, tetapi menjadi mesin penggerak yang lincah, meski harus menghadapi tantangan efisiensi APBD 2025 sebesar Rp53,96 miliar atau sekitar 7% dari total anggaran, difokuskan pada pengurangan belanja operasional dan penyesuaian belanja modal.
Bagi warga di Kecamatan Gunung Agung atau Batu Putih, infrastruktur bukan sekadar aspal. Ia adalah urat nadi kehidupan. Selama tahun 2025, PUPR Tubaba tengah memacu 13 proyek besar. Dari pembangunan box culvert di Sp. Tunas Jaya hingga penguatan bronjong di Pagar Jaya, semuanya ditargetkan rampung sebelum lonceng Desember berbunyi.
Namun, Novriwan Jaya membawa perspektif berbeda. Ia tak ingin jalan yang dibangun dengan dana DAK dan DBH Sawit itu hancur dalam hitungan bulan. “Masyarakat harus ikut menjaga. Batas tonase 8 ton adalah harga mati untuk keberlangsungan jalan kita,” ujarnya. Baginya, pembangunan adalah kontrak sosial antara pemerintah yang membangun dan rakyat yang merawat.
“Bolo Ngarit” Dari Kandang Menuju Lumbung Sumatera
Jika Anda berkunjung ke 103 desa di Tubaba, Anda akan menemui fakta unik: 95 persen warga memelihara kambing. Inilah kekuatan ekonomi akar rumput yang sedang diledakkan oleh Novriwan melalui program Bolo Ngarit.
Di tangan para peternak modern Tubaba, kotoran kambing tak lagi menjadi limbah berbau, melainkan pupuk organik yang menyuburkan lahan. Pakan buatan dan teknologi suntik ternak mulai menggantikan pola lama. Tubaba bukan lagi sekadar penonton di pasar Sumatera; mereka adalah penyedia kuota pesanan lintas provinsi.
Strategi ini menjadi jawaban konkret atas program Pertanian dan Teknologi yang diusung Mirza-Jihan. “Desa terbaik di Indonesia, bahkan ASEAN, itu ada di sini, di Tiyuh Pulung,” ujar Bupati dengan nada bangga. Namun, ia tak ingin berhenti pada trofi. Ia mendorong lahirnya “Pulung-Pulung” baru melalui program Nenemo Mandiri Pangan.
Di halaman rumah warga, kini tumbuh subur sayuran (Kebun), riak air di kolam ikan kecil (Kolam), dan suara ternak (Kandang). Tak hanya itu, revolusi sunyi sedang terjadi di dapur warga melalui 55 Bank Sampah. Limbah pampers yang dulunya menjadi masalah lingkungan, kini disulap tangan-tangan kreatif menjadi pot bunga cantik. Hasilnya? Kembali ke kas desa untuk membiayai pengajian dan kegiatan sosial. Inilah wajah asli “Desaku Maju” yang dicita-citakan: mandiri, bersih, dan religius.
Puncak dari transformasi layanan publik di Tubaba adalah Mal Pelayanan Publik (MPP). Di sini, sekat-sekat birokrasi runtuh. Warga tak lagi perlu berkeliling kota untuk mengurus paspor, sertifikasi halal, hingga administrasi kependudukan. Semua terintegrasi dalam satu ruang yang nyaman di kawasan Pulung Kencana.
Digitalisasi bukan lagi jargon, melainkan kebutuhan. Dengan integrasi Kartu Petani Berjaya (KPB) dan layanan digital MPP, Tubaba sedang berlari menuju efisiensi pelayanan yang setara dengan kota-kota besar.
Novriwan Jaya sadar betul, kepemimpinan Mirza-Jihan di tingkat provinsi membutuhkan mitra daerah yang jeli melihat potensi. “Kondisi saat ini bukan lagi soal adu besar anggaran, tapi adu inovasi,” ucapnya filosofis.
Tubaba di tahun 2025 adalah cermin dari sebuah kerja keras yang terukur. Antara aspal yang menghubungkan kecamatan, kambing yang mengisi pundi-pundi warga, dan sampah yang berubah menjadi rupiah, Tubaba sedang membuktikan bahwa di tanah Ragem Sai Mangi Wawai, masa depan bukan ditunggu, melainkan dijemput dengan inovasi. (Tim/Red)