
Bandar Lampung, sinarlampung.co- Menyeberang jalan di Bandar Lampung kini menjadi uji nyali. Bukan hanya karena lalu lintas yang padat, tetapi fasilitas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang seharusnya menjadi solusi, justru berubah menjadi “zona horor” yang kumuh dan membahayakan.
Potret buram wajah kota ini terekam jelas di JPO Jalan ZA Pagar Alam, tepatnya di depan gerai Dunkin’ Donuts, Rabu 7 Januari 2026. Jembatan ini jauh dari kata layak.
Kumuh dan Tak Terawat
Alih-alih menjadi sarana pejalan kaki, JPO tersebut seolah berubah menjadi “hunian” liar. Pemandangan tak lazim menyambut mata: pakaian-pakaian basah dijemur begitu saja di tiang jembatan. Sejumlah tunawisma menjadikan lorong jembatan sebagai tempat berkumpul dan beristirahat.
Secara fisik, jembatan ini bak rongsokan yang dipasang di atas jalan raya. Lantainya mulai keropos dimakan karat, menciptakan genangan air yang licin. Dinding pelindung di kanan-kiri jembatan pun nyaris tak ada, membiarkan angin dan hujan menghantam langsung para penyeberang.
Kondisi ini diperparah dengan papan reklame yang compang-camping, menambah kesan bahwa fasilitas ini sudah lama ditinggalkan oleh pengelola kota.
Menunggu Korban?
Pemandangan setali tiga uang juga terjadi di JPO Jalan Teuku Umar, Pasir Gintung. Fasilitas yang seharusnya melindungi anak sekolah dan pengguna kereta api ini juga dalam kondisi mengenaskan.
Masyarakat kini bertanya-tanya, apakah Pemerintah Kota Bandar Lampung menunggu ada korban jatuh atau terpeleset baru akan bertindak?
Warga berharap dinas terkait segera melakukan “operasi penyelamatan” aset publik ini, bukan hanya mengecat ulang, tapi merenovasi total dan menertibkan penyalahgunaan fungsinya. (Tari Pratama)