
Bandar Lampung, sinarlampung.co-Sebuah bus pariwisata Puspa Lestari yang mengangkut rombongan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi Sumatera (ITERA) tergelincir masuk ke parit di wilayah Tanjung Halo, Kelurahan Kedaung, Kecamatan Kemiling, Selasa 6 Januari 2026 pagi. Insiden ini diduga kuat akibat jalan licin yang tertutup material tanah proyek irigasi.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 09.30 WIB saat bus bernomor polisi carteran tersebut sedang dalam perjalanan mengantar mahasiswa menuju lokasi penempatan KKN di Kelurahan Kedaung. Bus semula melaju dari arah Jalan Wan Abdurahman menuju Jalan Tanjung Gedung. Saat mencoba menanjak di area RT 004 Lingkungan II, kendaraan kehilangan daya cengkeram roda (slip). Bus kemudian bergerak mundur tak terkendali sebelum akhirnya terperosok ke parit di sisi kiri jalan.
Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. Seluruh mahasiswa berhasil dievakuasi keluar dari bus tak lama setelah kejadian. Namun, bus mengalami kerusakan fisik yang cukup signifikan pada bagian bodi samping bawah dan bagian belakang akibat benturan dengan dinding parit.
Proses evakuasi berlangsung dramatis. Sebuah dump truk yang berada di lokasi sempat mencoba menarik bus tersebut, namun gagal karena beban kendaraan yang terlalu berat. Bus baru berhasil diangkat setelah satu unit mobil derek diterjunkan ke lokasi kejadian.
Kondisi jalan yang licin disebut sebagai biang keladi kecelakaan. Menurut Adung, warga setempat, tumpukan sisa tanah galian proyek irigasi di bahu jalan sering kali meluber ke badan jalan saat diguyur hujan deras.
“Sejak proyek irigasi ini berjalan, tanah galian dibiarkan menumpuk. Kalau hujan, jalanan jadi seperti bubur, sangat licin. Sudah sering pengendara motor jatuh di sini, dan sekarang korbannya bus mahasiswa,” ujar Adung kepada awak media.
Senada dengan Adung, Ketua RT 004, Ibrahim, menyayangkan lambatnya respon pemerintah daerah terkait kerusakan jalan di tanjakan tersebut yang sudah berlangsung bertahun-tahun. “Aspalnya sudah lama hancur. Selama ini kami (warga) hanya tambal sulam pakai material seadanya secara swadaya,” jelasnya.
Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan di wilayah Kemiling yang konturnya didominasi perbukitan dan tanjakan tajam. Hingga berita ini disusun, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait kemungkinan adanya sanksi bagi pelaksana proyek yang lalai menjaga kebersihan badan jalan dari material galian.
Warga berharap Pemerintah Kota Bandar Lampung segera mengambil tindakan tegas kepada pengembang proyek dan segera melakukan perbaikan permanen pada akses jalan utama tersebut guna mencegah jatuhnya korban di masa mendatang. (red)