
BANDAR LAMPUNG, sinarlampung.co-Euforia pembukaan wahana wisata Navara City Park berubah menjadi mimpi buruk bagi warga Jalan Tirtayasa, Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung, dan sekitranya. Pada hari pembukaan, Senin 22 Desember 2025.
Lalu lintas di kawasan tersebut lumpuh total akibat membludaknya pengunjung yang tidak diantisipasi dengan manajemen lalu lintas yang baik. Kemacetan terjadi dari Platover Kalibalok arah Ir Sutami.
Warga setempat meluapkan kemarahannya karena aktivitas harian mereka terhenti total. Jalanan dipenuhi kendaraan pengunjung yang hendak menikmati wahana Water Park dan Theme Park terbesar di Lampung tersebut.
Gunawan, warga terdampak, menilai pengelola hanya memikirkan keuntungan bisnis tanpa mempedulikan dampak lingkungan sosial. “Kami bukan penonton, kami korban. Jalan ini nadi aktivitas warga, bukan cuma jalur wisata,” protesnya.
Kekacauan diperparah oleh melubernya parkir kendaraan ke badan jalan karena kapasitas parkir di dalam area wisata yang tidak memadai. Ironisnya, tidak terlihat skema rekayasa lalu lintas yang matang maupun petugas yang cukup untuk mengurai kepadatan di jam krusial.
Bahkan banyak kendaraan yang juga terjebak kemacetan panjang di jalan lingkungan, sehingga keluar masuk kendaraan warga terganggu. Belum lagi ribuan motor yang juga mengular.
Banyak pengunjung juga kecewa dan memilih putar arah dan batal ber rekreasi. Kendaraan yang terjebak macet pun harus kecewa karena tidak bisa lagi masuk lokasi. Bahkan yang sudah masuk lokasi harus memilih keluar lagi karena tidak ada lokasi parkir.
Pengelola Minta Maaf, Warga Tuntut Solusi Konkret
Meski pihak Navara City Park telah meminta maaf dan berdalih antusiasme pengunjung di luar dugaan, warga menilai hal itu tidak cukup. Mereka menuntut tanggung jawab nyata agar kejadian serupa tidak terulang. “Jangan cuma minta maaf lalu selesai. Kalau setiap akhir pekan seperti ini, warga yang menderita,” tambah warga lainnya.
Pihak kecamatan setempat telah meminta pengelola untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk menambah lahan parkir dan petugas pengatur lalu lintas, agar kehadiran ikon wisata baru ini tidak menjadi sumber penderitaan bagi masyarakat sekitar. (Red)