
Kota Metro, sinarlampung.co – Bau tak sedap kerap menyergap permukiman RT 013 RW 005, Kelurahan Yosomulyo. Di tengah kawasan hunian itu, sebuah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal justru memunculkan persoalan baru. Limbah domestik dilaporkan meluber ke lingkungan sebelum sempat diolah.
IPAL yang dibangun melalui proyek Dinas PUPR Kota Metro Tahun Anggaran 2022 tersebut kini menjadi sorotan warga. Di lapangan, salah satu bak penampungan terlihat tidak berfungsi optimal. Air limbah keluar dari bak, menggenang, lalu membentuk kubangan lumpur yang terus melebar di sekitar permukiman.
Tak hanya itu. Sejumlah pipa saluran ditemukan pecah. Kerusakan ini membuat sebaran limbah semakin luas dan langsung bersentuhan dengan tanah di sekitar rumah warga.
Fakta yang paling mengkhawatirkan, titik luberan air limbah terjadi sebelum masuk ke bak pengolahan utama. Artinya, limbah rumah tangga yang keluar ke lingkungan belum melalui proses pengolahan sama sekali. Kondisi ini berpotensi membawa zat berbahaya yang mengancam kebersihan lingkungan dan kesehatan warga.
Situasi memburuk saat hujan turun. Air bercampur limbah meluas ke berbagai titik, sementara bau menyengat semakin terasa. Ironisnya, lokasi genangan berada tepat di area permukiman aktif yang setiap hari dilalui dan dihuni warga.
Iwan, salah satu warga terdampak, mengaku persoalan ini sudah berulang kali disampaikan kepada pihak terkait, mulai dari pemerintah desa hingga pengelola IPAL. Namun, penanganan yang dilakukan dinilai belum menyentuh akar masalah.
“Kami sudah beberapa kali koordinasi. Tapi responnya lambat dan saling lempar. Solusinya cuma sementara,” kata Iwan.
Persoalan lain muncul dari cara penanganan sedimen IPAL. Warga menilai sedimen yang diangkat dari dalam bak hanya diletakkan di sekitar area IPAL dan dibiarkan terbuka. Praktik ini dianggap tidak sesuai standar pengelolaan limbah dan justru berpotensi memperparah pencemaran tanah serta udara.
Yang menjadi pertanyaan publik, IPAL komunal tersebut tidak diperuntukkan bagi warga RT 013 RW 005. Namun justru warga di lokasi itulah yang paling merasakan dampak negatifnya. Kondisi ini memunculkan sorotan terhadap perencanaan lokasi, sistem pengelolaan, hingga pengawasan pasca-pembangunan proyek.
Warga berharap ada evaluasi menyeluruh dari instansi terkait, termasuk audit teknis dan lingkungan. Mereka khawatir, tanpa perbaikan serius, pencemaran akan terus berlanjut.
Sejumlah warga bahkan menyatakan, jika fasilitas tersebut tidak mampu dikelola secara aman, penutupan total dianggap lebih baik demi melindungi kesehatan dan lingkungan permukiman. (Red/Ing)