
Pesawaran, sinarlampung.co – Proyek rabat beton Peningkatan Ruas Jalan Madajaya-Batas Pringsewu di Desa Madajaya, Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pesawaran, menuai protes warga. Mereka mempertanyakan spesifikasi pekerjaan, volume proyek, hingga kejelasan sumber anggaran yang digunakan.
Proyek jalan kabupaten tersebut dikerjakan oleh CV Bumi Krakatau dengan nilai kontrak Rp396.585.000 dari APBD Kabupaten Pesawaran Tahun 2025, dengan masa pelaksanaan 30 hari kalender. Hingga kini, proyek masih dalam tahap pengerjaan.
Salah satu warga Way Khilau, Indra Setiawan (47), mengaku kecewa setelah mendatangi lokasi proyek dan meminta penjelasan kepada pihak pengawas. Menurut Indra, jawaban yang diberikan tidak jelas dan berbeda dari informasi yang pernah disampaikan pemerintah sebelumnya.
“Setahu saya, berdasarkan penjelasan pemerintah sebelumnya, proyek ini mestinya dikerjakan tahun 2026 dan menggunakan rigid beton, bukan rabat beton,” kata Indra di lokasi proyek.
Ia juga mempertanyakan sumber dana perubahan yang disebut-sebut digunakan dalam pengerjaan proyek tersebut.
“Informasi yang saya dapat, ini memakai dana perubahan, tapi perubahan dari mana tidak jelas. Selain itu, panjang jalan yang dikerjakan juga tidak penuh. Seharusnya sekitar 400 meter, tapi yang dikerjakan hanya 200 meter,” ujarnya.
Indra menegaskan, dirinya tidak menolak pembangunan jalan, namun meragukan ketahanan rabat beton di lokasi tersebut.
“Bukan tidak senang jalan ini dibangun, tapi kalau hanya rabat beton, saya sangat meragukan ketahanannya. Tanah di sini adalah persawahan yang sangat labil. Setahu saya, rabat beton itu untuk jalan lingkungan, bukan jalan kabupaten,” tegasnya.
Sorotan warga juga mengarah pada proyek lain di Kecamatan Way Khilau yang hingga kini dilaporkan mangkrak, dengan pagu anggaran mencapai Rp11,9 miliar. Warga menilai, sejumlah hasil pekerjaan rigid beton di proyek tersebut mengalami kerusakan, seperti patah dan retak di beberapa titik.
“Yang sudah dikerjakan banyak mengalami keretakan, bahkan ada bagian yang patah. Ini menimbulkan dugaan adanya pengurangan volume dan spesifikasi,” tambah Indra.
Kritik serupa juga datang dari tokoh masyarakat setempat. Mereka mempertanyakan adanya perbedaan spesifikasi antarwilayah.
“Di empat desa sebelumnya jalannya pakai rigid beton, tapi di sini hanya rabat beton. Kenapa harus dibeda-bedakan?” ujar seorang tokoh masyarakat.
Sementara itu, Asep, selaku konsultan pengawas proyek, saat dikonfirmasi di lokasi membenarkan bahwa pekerjaan jalan hanya sepanjang 200 meter.
“Pekerjaan memang hanya 200 meter dengan ketebalan 15 sentimeter,” jelas Asep.
Ia menambahkan, proyek tersebut dikerjakan oleh R3-1 sesuai dengan kontrak yang berlaku.
Hingga berita ini diturunkan, warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat memberikan penjelasan terbuka terkait spesifikasi, volume pekerjaan, serta sumber anggaran proyek, guna menghindari polemik dan kecurigaan di tengah masyarakat. (Iskandar)