
Buku Kumpulan Puisi Suara Serumpun mengangkat tema “Akar Serumpun Ayaman Rasa” merupakan wujud nyata membangkitkan rasa persaudaraan antara tiga negara Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Berawal dari persamaan tradisi, adat istiadat, dan nilai-nilai luhur Melayu. Buku ini membuka cakrawala dan menembus batas negara yang dirangkai dengan acara Festival Puisi 3 Negara.
Diterbitkan oleh SIP Publishing pada Oktober 2025, antologi setebal x + 176 halaman ini menghimpun karya 65 penyair dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Masing-masing menghadirkan pengalaman yang dicurahkan pada puisi.
Di antara untaian puisi tersebut, nama Arsiya Heni Puspita, atau yang dikenal dengan nama pena Arsiya Oganara, menggugah rasa ingin tahu pembaca melalui tiga puisi berjudul “Jakarta, Malaka, dan Singapura”.
Puisi ke dua “Desir Angin Persahabatan”, dan ke tiga “Keagungan Spiritual Serumpun Melayu”. Dimuat pada halaman 171 – 176
Arsiya mengungkapkan pada puisi pertama, perjalanannya saat wisata menjadi Tour Leader yang dimulai dari Jakarta menuju Singapura dan melintasa batas negara menuju Malaka melalui jalan darat.
Kemudian, puisi ke dua, Arsiya Oganara mencurahkan suara hati saat mengunjungi Pantai Minang Rua di Bakauheni, Lampung Selatan. Dipadukan dengan Pantai Tanjug Rhu Langkawi, Malaysia dan Pantai Changi di ujung timur Singapura.
Lalu, pada puisi ke tiga, Arsiya mengangkat persamaan keyakinan dengan masjid bersejarah di tiga negara. Masjid Kuning Belawan al-Osmani seni Melayu Deli. Warna dominan kuning keemasanyang memadukan arsitektur Eropa, Cina, Turki, dan India (Mughal).
Masjid ini merupakan simbol peradaban Islam Melayu yang kaya akan ornamen budaya, juga menjadi salah satu masjid tertua dan cagar budaya di Medan.
Selanjutnya, Masjid Jamik Sultan Abdul Samad di Kuala Lumpur, Malaysia. Terakhir, Masjid Sultan melukiskan kolaborasi antara saudagar Jawa dan rakyat jelata di jantung Kota Singa.
Selain diketahui sebagai penyair, Arsiya Oganara merupakan lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi yang aktif sebagai jurnalis profesional bersertifikat UKW. Ia juga berperan sebagai Tourist Guide dan Tour Leader bersertifikat. Kecintaannya pada sastra membawanya menulis berbagai karya, mulai dari cerpen, puisi esai, hingga fiksi mini, yang telah terbit dalam sejumlah antologi.
Bersama Akar Serumpun Ayaman Rasa Arsiya Oganara dan para penyair lainnya membuktikan bahwa persamaan bisa mempererat persahabatan dan bresama-sama menjaga dan melestarikan asal usul yang sudah menjadi kebiasaan turun temurun.
Puisi: Jakarta, Malaka, Dan Singapura
Karya: Arsiya Oganara
Pagi nan cerah, mentari tersenyum ramah. Lambaian angin menyibakknan hijab merah nan merekah.
Baju putih suci, ku padu-padankan dengan celana biru abadi. Sepatu warana biru tua bertali siap menjalani hari. Tas coklat tanah yang setia menemani.
Nasi uduk kudapan pagi. Paduan nasi dimasak dengan santan murni, tuk menambah energi. Tak lupa, irisan telur dadar kuning kecoklatan, sambal dan irisan mentimun serta kerupuk bersatu padu dibalut dengan daun pisang keabadian.
Kegembiraan merasuk sanubari, ku langkahkan kaki dengan pasti. Bandar udara Soekarno-Hatta tujuan pertamaku. Jakarta, Ibukota Indonesia, tanah tumpah darahku.
Soekarno-Hatta peletak pondasi kokoh negeri Kepulauan Nusantara nan jaya. Rasa bangga menggelora di dada.
Siang itu, matahari masih terus merangkai hari. Dengan penuh percaya diri, aku tiba di bandara Changi Kota Singa nan asri.
Ketika waktu tiba di pusat keramaian jantung kota Singapura, Orchard Road surga belanja yang mewah.
Ku ingin merasakan makanan serupa tapi tak sama. Nasi lemak dimasak dengan santan kelapa, teri, kacang tanah goreng.
Irisan mentimun juga ayam dan sambal goreng menjadi keputusanku tuk mencoba rasa di negara Merlion kuat dan hebat.
Kulanjutkan perjalanan menuju perbatasan tuk menggapai malam di Malaka Bandar Warisan Dunia sore itu.
Perjalanan darat melalui jalan bebas hambatan dengan kecepatan sedang. Sesekali kulihat kilatan cahaya kamera di taman tengah jalan.
Pantauan kelebihan kecepatan para pengendara untuk atur kecepatan berkendara demi keselamatan bersama.
Malam pun tiba, ku pesan makanan mirip sebelumnya. Nasi lemak khas Malaka, tambahan telur rebus di piring beralaskan daun pisang hijau tua.
Persamaan makanan kepulauan Nusantara, Kota Singa serta Malaka meyakinkanku demi mempererat persaudaraan Serumpun Melayu.
Ku rajut dengan rapi rasa dan ku dendangkan suara Serumpun Melayu bersatu padu guna perdamaian dan persahabatan. Serumpun Melayu Jaya Selamanya!
Bandar Lampung, 23 Agustus 2025