
Pesawaran, sinarlampung.co-Upaya pemberantasan narkoba di Lampung kembali menghadapi tantangan. Di Desa Gunung Sugih Baru, Tegineneng, Lampung Selatan, tim gabungan BNNP Lampung sempat diserang warga menggunakan batu, Selasa 11 November 2025.
Kepala BNNP Lampung, Kombes Pol Sakeus Ginting, membenarkan insiden perlawanan tersebut. Ia menjelaskan, operasi ini merupakan operasi gabungan berskala besar yang mengerahkan 143 personel gabungan. Mereka terdiri dari 36 anggota BNNP Lampung, 35 anggota BNN kabupaten/kota se-Lampung, dan 72 personel dari unsur eksternal (TNI, Polri, dan instansi terkait lainnya)
“Ketika tim gabungan memasuki lokasi, sejumlah warga melakukan perlawanan dengan melempari batu. Beberapa kendaraan operasional rusak, namun situasi berhasil dikendalikan berkat kerja sama seluruh personel,” ujar Sakeus Ginting di Bandar Lampung.
Gubuk Transaksi Dimusnahkan
Meski mendapat serangan dan hadangan, Sakeus menegaskan bahwa tim tidak mundur. Petugas berhasil mengambil alih kendali dan langsung menertibkan kawasan yang diduga kuat menjadi titik transaksi dan penyalahgunaan narkotika.
Fokus utama operasi adalah menghancurkan infrastruktur ilegal yang sengaja dibangun untuk memfasilitasi kejahatan narkoba. “Seluruh gubuk yang digunakan sebagai tempat transaksi narkoba telah kami musnahkan bersama aparat terkait dan pemerintah daerah setempat,” tegasnya.
Sayangnya, BNNP menduga para pelaku dan bandar utama telah melarikan diri sesaat sebelum tim gabungan tiba di lokasi, disinyalir akibat bocornya informasi operasi.
Empat Orang Ditangkap Nemu BB 15 Gram Sabu
Operasi Tim BNNP Lampung itu meringkus empat orang tersangka penyalahgunaan narkoba dalam operasi gabungan yang digelar di dua desa, yakni Desa Negara Ratu Wates dan Desa Gunung Sugih Baru, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran.
Sakeus Ginting, menjelaskan bahwa operasi tersebut bukan sekadar upaya penegakan hukum, melainkan langkah cepat untuk memulihkan kondisi sosial masyarakat di daerah rawan narkoba.
“Tidak hanya sebatas pemberantasan, namun juga upaya cepat memulihkan daerah rawan narkoba menjadi daerah yang normal, aman, dan terbebas dari intimidasi para pelaku peredaran gelap,” ujar Ginting saat konferensi pers di Bandar Lampung, Selasa 11 November 2025.
Dalam operasi itu petugas mengamankan empat orang tersangka, masing-masing berinisial A, B, H, dan J. Dari hasil tes urin, keempatnya positif mengandung amphetamine dan methamphetamine. Selain itu, dari tangan tersangka H, petugas juga menemukan tiga butir pil ekstasi warna kuning dengan berat bruto 1,16 gram serta satu pil ekstasi dan pecahan pil merah jambu seberat 0,78 gram.
Barang bukti lain yang ditemukan di lokasi antara lain dua paket sabu dengan berat bruto 10,28 gram dan 5,19 gram, beberapa di antaranya merupakan barang temuan karena belum diketahui pemiliknya.
Dari lokasi penggerebekan, petugas juga mengamankan sejumlah barang non-narkotika, antara lain empat unit sepeda motor, tiga unit handphone, dua timbangan digital, 20 bong, 20 kaca pirek, dua bilah senjata tajam, serta beberapa peralatan lain yang diduga digunakan dalam aktivitas penyalahgunaan narkoba.
BNNP Lampung berkomitmen untuk terus menindak tegas jaringan narkoba hingga ke akar-akarnya. Selain tindakan hukum, upaya rehabilitasi juga menjadi fokus bagi para pengguna agar dapat kembali pulih dan berfungsi normal di masyarakat. “Langkah ini bukan hanya untuk penegakan hukum, tetapi juga untuk rehabilitasi pengguna dan pemulihan desa agar benar-benar bersih dari narkoba,” ujarnya
Sakeus Ginting menyatakan bahwa BNNP Lampung akan terus meningkatkan operasi terpadu di wilayah rawan, khususnya di daerah perlintasan strategis yang sering dijadikan jalur distribusi. “Kami berkomitmen memberantas peredaran narkoba hingga ke akar-akarnya, sekaligus memulihkan penyalahguna melalui program rehabilitasi,” kata dia.
Ia menambahkan, operasi semacam ini adalah bentuk nyata kehadiran negara dalam melindungi masyarakat. Pihaknya juga mengaitkan upaya ini dengan program prioritas nasional. “Kegiatan ini juga mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, di mana generasi bebas narkoba menjadi fondasi utamanya,” tutur Sakeus.
Peristiwa di Tegineneng ini menegaskan bahwa upaya pemberantasan narkoba di Lampung tidak hanya menghadapi perlawanan dari para pelaku, tetapi juga dari sebagian masyarakat yang diduga turut terlibat atau melindungi aktivitas ilegal tersebut.
BNNP Lampung masih terus melakukan pendalaman terkait asal pasokan narkoba di wilayah tersebut. Saat ini, sejumlah barang bukti berupa telepon genggam milik tersangka telah dibawa ke pusat untuk dilakukan analisis lebih lanjut guna mengungkap jaringan pemasok. (Red)