
Oleh: Ali Rosad (Pemerhati Pendidikan)
Hari Pahlawan 10 November selalu mengingatkan kita bahwa perjuangan bukan hanya soal keberanian di medan perang, tetapi tentang kejujuran, pengorbanan dan komitmen untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Dalam dunia pendidikan hari ini, semangat kepahlawanan seharusnya tercermin melalui kebijakan yang konsisten, adil dan memberi teladan bagi generasi muda.
Namun realitas di lapangan menimbulkan pertanyaan. Larangan studi banding atau kunjungan industri ke luar provinsi yang diberlakukan oleh pejabat dinas pendidikan dianggap sebagai langkah untuk efisiensi anggaran dan penguatan potensi daerah. Semangat ini sejalan dengan upaya menjaga integritas pengelolaan dana publik. Tapi anehnya larangan itu hanya berlaku bagi sebagian sekolah; sementara beberapa sekolah yang sudah berangkat tidak pernah mendapat teguran keras. Bahkan lebih ironis lagi, terdapat guru dan pejabat yang diperbolehkan tetap melakukan kunjungan dengan syarat tidak memposting kegiatan mereka.
Dalam momen peringatan Hari Pahlawan, kita diingatkan bahwa pahlawan sejati tidak hanya bicara disiplin, tetapi juga memberi teladan. Jika pahlawan dahulu berjuang tanpa pamrih, maka pemimpin pendidikan hari ini seharusnya melaksanakan kebijakan secara konsisten dan transparan, tanpa standar ganda. Generasi muda belajar dari contoh, bukan sekadar arahan. Ketika siswa diminta memiliki integritas, maka para pemegang kebijakan wajib menunjukkan integritas itu terlebih dahulu.
Oleh sebab itu, peringatan Hari Pahlawan bukan sekadar seremonial sejarah, tetapi panggilan moral bagi semua pemimpin pendidikan tunjukkan keberanian untuk bersikap adil, tegas dan terbuka. Pendidikan adalah tanggung jawab perjuangan zaman kini dan pahlawan modern adalah mereka yang mampu menjaga kepercayaan publik melalui keteladanan.