
Lampung Timur, sinarlampung.co – Suara gemuruh ombak dan hembusan angin kencang menjadi saksi bisu saat banjir rob melanda pesisir timur Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Selasa (7/10/2025). Cuaca ekstrem beberapa hari terakhir memicu naiknya air laut dan angin kencang yang menyebabkan kerusakan parah pada bangunan, fasilitas umum, serta sarana ekonomi masyarakat dan nelayan.
Di Desa Bandar Negeri, air laut mulai naik sejak pukul 10.00 WIB dan langsung merendam tambak, rumah, hingga fasilitas umum. Puluhan bangunan milik warga dilaporkan rusak berat. Dalam kepanikan, warga bergegas menyelamatkan barang berharga ke tempat yang lebih aman.
“Air datang tiba-tiba. Dalam waktu kurang dari satu jam, bangunan sudah terendam hampir setinggi dada orang dewasa,” tutur Bibit Raharjo (48), warga setempat yang menjadi korban banjir rob.
Bangunan Rusak, Aktivitas Ekonomi Lumpuh
Terjangan air asin yang disertai angin kencang tak hanya merendam rumah warga, tetapi juga merusak bagian atap dan dinding bangunan. Beberapa tiang listrik roboh, dan sejumlah fasilitas umum di tepi pantai ikut terdampak. Tambak-tambak milik warga pun terendam air laut.
Di Desa Muara Gading Mas, dermaga kecil tempat nelayan menambatkan perahu hancur diterjang ombak, sementara beberapa perahu hanyut terbawa arus.
“Nelayan tidak bisa melaut, hasil tangkapan ikan menurun. Banyak perahu yang rusak akibat hantaman rob dan angin kencang,” ujar seorang nelayan setempat.
Selain bangunan, jalan pesisir, jaringan listrik, mushola, serta fasilitas penunjang ekonomi nelayan juga mengalami kerusakan cukup parah.
Kerugian Ditaksir Ratusan Juta Rupiah
Di Desa Bandar Negeri, pasokan listrik di sejumlah titik padam karena jaringan kabel tertimpa pohon tumbang.
“Kerugian akibat banjir rob dan angin kencang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Kerusakan meliputi bangunan, peralatan elektronik seperti kulkas dan pendingin udara, serta beberapa fasilitas sosial,” kata Ahmad Novianto, pengurus KTH Desa Bandar Negeri.
Air asin yang menggenangi tambak warga juga berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar bagi usaha budidaya udang akibat tercemarnya air tambak. Kondisi serupa terjadi di Desa Karya Makmur dan Desa Karya Tani, di mana banjir rob setinggi dada orang dewasa disertai angin kencang menghancurkan puluhan rumah dan fasilitas warga. Total kerugian di dua desa itu juga diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Ancaman yang Kian Sering Terjadi
Banjir rob yang dulunya hanya terjadi beberapa kali dalam setahun kini semakin sering melanda wilayah pesisir. Fenomena ini diduga berkaitan dengan naiknya permukaan air laut serta penurunan muka tanah di kawasan pesisir timur Lampung Timur.
“Kondisi ini sudah menjadi peringatan serius. Jika tidak segera dilakukan penguatan tanggul dan sistem peringatan dini, kerusakan bisa semakin parah,” ujar Ahmad Novianto menegaskan.
Ia menambahkan, masyarakat sudah beberapa kali mengajukan permohonan kepada Balai Besar Kementerian PUPR dan Dinas terkait agar membangun tanggul laut serta sabuk pantai untuk menahan gelombang tinggi, sekaligus meningkatkan sistem peringatan dini (early warning system) terhadap gelombang pasang dan cuaca ekstrem.
Pembangunan tanggul dan sistem peringatan dini dinilai penting untuk mencegah bencana serupa yang hampir setiap tahun melanda wilayah pesisir Lampung Timur. Pemerintah daerah diharapkan lebih tanggap terhadap kondisi ini dan segera merealisasikan langkah mitigasi bencana secara nyata.
Warga Tetap Bertahan dan Bangkit
Meski diterpa bencana berulang, warga pesisir terutama di Desa Bandar Negeri tetap berupaya bangkit. Mereka bergotong royong membersihkan jalan, memperbaiki rumah yang rusak, dan memperkuat kembali tepian pantai dengan material seadanya.
Semangat kemandirian warga menjadi modal utama untuk terus bertahan menghadapi ancaman bencana yang kian sering melanda pesisir timur Labuhan Maringgai. (Afandi)