
Ada pesan yang disampaikan oleh Moh. Djazman Al Kindi (Pendiri IMM), adapun pesan itu adalah “para aktivis agar selalu bersikap dan berpikir kritis. Bekerja lebih keras menyiapkan segenap komponen Muhammadiyah untuk memperbaiki masyarakat dan negeri ini. Dia berharap anak-anak muda ini yang melanjutkan transformasi kepemimpinan di tubuh Persyarikatan”
Berangkat dari pesan bahwa seorang Djazman sudah ada rasa kerisauan akan sikap kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah(IMM) setelahnya, bahwa nanti akan terlahir kader yang sikap dan pemikirannya tidak kritis. Besikap adalah mengambil langkah-langkah terhadap sebuah persoalan dalam hal ini penindasan, sikap yang disampaikan lewat tidakan konkrit tanpa berfikir imbalan atau kepentingan dibaliknya. Sikap yang dihadirkan oleh kader IMM adalah sikap kritis, sikap yang didasarkan adanya perubahan untuk perbaikan. Sikap ini jelas harus didasarkan pada pola dan tingkah laku gerakan IMM “Menolak Tunduk dan Bangkit Melawan Penindasan, Karena Diam Adalah Penghiantan”.
Sikap IMM terhadap pemerintah misalkan, adalah mengambil peran kritik terhadap pemerintah secara high politics, politik dengan mendasarkan pada nilai, mengandung hikmah dan terdapat nilai dakwah. Dalam hal ini IMM bukan menjadian bagian dari partisan politik, yang ini dirasa dan terlihat. IMM bukan memberikan kritik terhadap pemerintah tapi malah masuk kedalam sebagai bagian untuk menjalankan kebijakan tanpa ada sikap dan kritik tehadap kebijakan, karena pemerintah telah memberikan kenyaman kehidupan. Padahal, keberadaan kader IMM ketika masuk kedalam pemerintah harus memainkan peran kepemimpinan sebagai seorang kader IMM dan Muhammadiyah.
Berfikir kritis adalah penciri seorang kader IMM. Hari ini penciri itu menjadi keprihatinan bahwa kader IMM tidak banyak berpihak pada ruang-ruang keilmuan, ruang-ruang diskusi serta tidak berpihak kepada ruang-ruang pemikiran sehingga yang terjadi adalah IMM sebagai gerakan Intelektual, gerakan perlawan atas penindasan terkesan luntur dan sunyi tak ada suara. Apa yang disampaikan kader IMM terkesan kosong tak berbobot, karena ucapannya tidak berdasarkan keilmuan, jauh dari literasi dan kosakata dalam narasinya terkesan biasa-biasa saja. Akhirnya yang terjadi adalah matinya inovasi dalam menggerakan potensi kader, hilangnya objektfitas arah gerakan baik gerakan ikatan maupun gerakan kebangsaan karena banyaknya kepentingan dan takutnya bersikap kritis baik terhadap internal Muhammadiyah maupun luar Muhammadiyah dalam hal ini pemerintah.
Gejala bersikap dan berfikir kritis kader IMM ini mulai terserang penyakit kepetingan sesaat, banyak kader IMM yang tidak berani berbeda dengan kader terdahulunya terutama dalam hal ini padangan politik dan keagamaan. Ketika bayangan dan kontaminasi seorang senior kepada junior terus mengikuti maka yang akan terjadi adalah alur gerakan sama, ikatan hanya melahirkan kader-kader yang sewarna dan akan lahirnya kader karbitan karena kepentingan. Mestinya seorang yang telah mejalani pengkaderan dalam ikatan memberikan teladan kemuliaan, perhatian dalam gerakan, membersamai dalam proses pengkaderan dan menjaga marwah ikatan.
Pesan Dzasman selanjutnya, bahwa kader IMM adalah sebagai pewaris kepemimpinan Muhammadiyah kedepan. Artinya bahwa pengkaderan IMM tidak hanya berhenti ketika berstatu aktif di IMM, melain pengkaderan yang masuk dalam ruang-ruang sebenarnya Muhammadiyah yaitu cabang dan ranting. Maka kader IMM sudah harus matang memahami kepribadian Muhammadiyah, komitmen bermuhammadiyah dan karakter berMuhammadiyah. Memahami Langkah dua belas, Muqodimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Matan Keyakinan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Khittah Perjangan Muhammadiyah dan memahami Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Hal ini menjadi penting agar kedepan Muhammadiyah tumbuh berkembang dengan kuatnya Ideologi, karena persyaritan yang dipegang oleh kader akan tampil memberikan warna dalam kancah keumatan dan kebangsaan.
Gerakan IMM Pringsewu
Aktualisasi gerakan untuk meneguhkan peran IMM dalam mewujudkan Pringsewu Berkemajuan ini adalah tema dalam pelantikan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Pringsewu masa jabatan 2021-2022. Tema yang sudah sering digemakan dalam gerakan tapi masih jauh dari kata hasil yang menggembirakan. Kiranya ini menjadi pemikiran yang serius sebab keberadaan Muhammadiyah dan Islam kedepan, terlihat dari gerak kader Muda Muhammadiyah yang di dalamnya adalam kader IMM.
IMM adalah gerakan mahasiswa yang bergerak dalam tiga bidang yaitu keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. Yang mana gerakan IMM tidak boleh terlepas dari ladasana agama Islam yang hanif serta berkarakter rahmat bagi seluruh alam dan juga berladasan pada nilai perjuangan Muhammadiyah. Menfsir tema, aktualisasi gerakan keagamaan mengandung arti menghidupakan tradisi keagamaan dalam hal ini faham agama dalam padangan Muhammadiyah menjadi ruh IMM Prigsewu yang disampaikan dalam program kerja. Gerakan kamahasiswaan yang syarat dengan mengedepankan nilai-nilai intelektual, hidupanya ruang-ruang diskusi keilmu dan berkembangnya pemikiran serta menghidupkan tradisi literiasi, menjadi agenda pengetahuan sebagai penguatan gerakan.
Gerak kemasyarakatan merupakan hasil dari dua gerakan sebelumnya melahirnya jiwa sosial kader yang humanis, luhur, jiwa empati tinggi yang hal ini mendorong kader terjun langsung dalam pergulatan dan dinamika masyarakat. Sebab secara historis, dakwah IMM hadir untuk menjawab segala persoalan dan problematika kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam ranah aktualisasi gerakan ini IMM bisa masuk pada cabang dan ranting yang ada di daerah Muhammadiyah Pringsewu, tentunya hal ini harus dilakukan pemetaan potensi kader.
Peran IMM sebagai juru dakwah Muhammadiyah dalam konteks ini peran keumatan melakukan pencerahan menjadi juga tangung jawab IMM dan disinilah PC IMM Pringewu mempersiapkan da’i muda Muhammadiyah yang mampu mengisi masjid-masjid yang dimiliki Muhammadiyah. Peran intelektual pada bidang akademik dalam hal ini prestasi, IMM harus ambil bagian menghadirkan karya-karya yang bisa menjadi pengkayaan keilmuan dan aterpak literasi. Peneguhan peran ini bukan hanya berlaku di kampus-kampus Muhammadiyah, melain juga kampus di luar Muhammadiyah. Maka dalam periode ini PC IMM Pringsewu harus mampu mendirikan komisariat di luar kampus Muhammadiyah. Hal ini dijalankan untuk menghidupkan dan menguatan kompetensi gerakan dengan organisasi kemahasiswaan lainnya, hal ini menjadi tantangan dan sekaligus motivasi gerakan PC IMM Pringsewu.
Eksistensi IMM bukan hanya ada pada rumah mahasiswa dan persyarikatan, tapi juga harus masuk dalam rumah-rumah masyararakat. Peran kemasyarakatan dalam rangka menghidupan kepedulian terhadap keterpurukan kehidupan sosial kemasyarakatan baik itu kemiskinan, krisis moralitas yang mengadirkan kekerasan serta prilaku-prilaku amoral dan perosalan pemahaman keagamaan (radikalisme) juga menjadi bagian peran yang ada IMM di dalamnya.
Dalam konteks Pringsewu berkemajuan, bahwa PC IMM Pringsewu ini bukan terjebak pada romatisme yang ditinggalakan oleh pendahulu, berkemajuan adalah terjebak pada orientasi gerakan yang maju kedepan, inovatif dan jauh dari plagiasi gerakan. Menjadikan IMM Cabang Pringsewu yang berkarakter, mau bekerja keras untuk ikatan dan diri sendiri, harus siap semangat dalam pengetahuan dan melakukan koreksi kritis kepada pemerintah berdasarkan pengetahuan tersebut, menjadi IMM yang terlibat aktif dalam rangka memajukan Pringsewu dengan warna pencerdasan dan pencerahan. Maka dalam aksi mewujudkan Pringsewu berkemajuan ini PC IMM Pringsewu harus segara memformulakan manifesto gerakan yang ini menjadi indentias gerakan IMM di Pringsewu, karena berkemajuan itu bukan jargon tertentu melainkan sebuah komitmen gerakan.