
Banten (SL)-Isu pelantikan para pejabat eselon di lingkungan pemerintah Provinsi Banten mulai ramai menjadi pembicaraan. Kasak kusuk para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ingin mendapatkan jabatan eselonpun mulai terlihat jelas, hingga berbagai isu miring terkait pelantikan menjadi perhatian publik Banten.
Berbagai elemen masyarakat serta pemerhati mulai mengkaji langkah Gubernur dan Wakil Gubernur Banten dalam menata para pejabat eselon yang nantinya akan menjadi ponggawa yang mengawal serta menyukseskan Gubernur dan Wakil Gubernur Banten dalam membangun propinsi Banten.
Masyarakat Banten berharap besar kepada Gubernur Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy agar benar-benar seleksi dalam penempatan para pejabat yang akan menjadi mitranya dalam membangun Banten.
Sebab, jikalau penempatan para pejabat tidak berdasarkan trackrecord mereka, maka akan berdampak buruk pada pembangunan Banten dan kepemimpinannya. Hal ini disampaikan Afrizoni, salah seorang pemerhati pembangunan Provinsi Banten, saat bincang-bincang santai dengan sinarlampung.com di kediamannya.
“Pak WH dan Pak Andika itu sudah berpengalaman, apalagi pak WH merupakan birokrat tulen. Jadi, lebih tahu dalam menempatkan posisi para ponggawanya. Kita positif thingking aja, terkait isu adanya kelompok atau pembisik orang dekat pak gubernur yang ikut mengatur posisi pejabat, saya rasa tidak mungkin,” tutur Afrizoni.
Afrizoni menegaskan, bhawa ia sangat mengenal pribadi gubernur Wahidin Halim saat masih menjabat sebagai walikota Tanggerang. “Pak WH dan Pak andika tidak mungkin mudah begitu saja untuk menerima bisikan orang dekat atau sekelompok orang, dalam menempatkan pejabat hanya untuk kepentingan kelompok tertentu. Beliau berdua pasti akan memeilih para pejabat yang kridibel, berpengalaman dan pastinya mengusai bidangnya. Kalau beliau berdua mudah dipengaruhi oleh orang lain, tentunya mereka tidak akan sesukses sekarang dalam membangun provinsi Banten ini,” tegas alumni Universitas Sriwijaya.
Di lain sisi, ada hal-hal yang masih dikhawatirkan oleh masyarakat terkait isu pelantikan pejabat eselon di lingkup Provinsi Banten. Beberapa dari pejabat yang diangkat, ternyata memiliki trackrekord buruk. Banyak kalangan yang menyayangkan hal itu.
Baca juga : http://Pejabat “Narkoba” Dilantik Komitmen Gubernur Banten Dipertanyakan
Salah satunya, seperti yang diungkapkan seorang pemerhati masalah birokrasi, Wahidin. Ia menjelaskan, bahwa beberapa kalangan mulai menyoal kapasitas dan kapabilitas calon-calon pejabat yang bakal dilantik gubernur.
“Setidaknya, mereka yang bakal dilantik harus mempunyai kepekaan terhadap persoalan, minimal dalam lingkup tempat kerjanya,” ujar Wahyudi.
Menurut sumber lain yang berada di lingkup Sekretariat DPRD Banten, ada beberapa nama yang diproyeksikan mengisi jabatan eselon di lingkup OPD yang cukup menjanjikan dan menjadi incaran ASN. Namun, dalam catatan kalangan pegiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), beberapa nama yang diisukan bakal menempati jabatan memiliki track record kurang bagus. “Masa iya Gubernur tutup mata,” ungkap Ijul, penggiat LSM Gasak.
Senada dengan Ijul, salah satu ormas LMPI Kota Serang, Suparman menyayangkan bila beberapa nama dengan track record kurang baik, yang kini tengah digadang bakal dilantik menempati posisi strategis sebagai pejabat eselon di OPD.
“Terlalu saja, bila gubernur bisa dibohongi. Soal hasil assessment itu kan bisa diatur. Yang penting trac recordnya,” tegas Parman.
Yang mengagetkan, ujar Parman, ada isu yang berkembang bahwa penggodokan calon pejabat eselon yang bakal dilantik nanti, diatur oleh orang-orang dekat gubernur. “Ini baru isu ya, saya dapat bocoran, ada orang-orang dekat gubernur yang selalu mengatur orang-orang itu,” pungkasnya.
Terkait hal tersebut, Staf Khusus Gubernur Banten, Ujang Giri, seperti di lansir media online lokal mengatakan bahwa sepengetahuan dirinya, sosok gubernur Banten Wahidin Halim tidak bisa didikte. Soal ada yang mengaku bisa merekomendasikan ke gubernur, bisa saja itu oknum.
“Bisa jadi ada yang ketipu sama oknum,” ujar pria kelahiran Lebak yang akrab dipanggil Ugi, melalui pesan whatsAppnya, Selasa malam (24/09/2019) pada salah satu media online lokal di Banten. (suryadi)