
Liwa (SP)-Kontes bonsai skala nasional juga turut meramaikan Festival Bumi Sekala Bekhak di Kebun Raya Liwa (KRL), Lampung Barat, 6-11 Juli 2019. Bonsai dari berbagai jenis dengan keindahan yang sangat menakjubkan mulai berdatangan di arena pameran. Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Lampung Barat, Widyatmoko Kurniawan, mengatakan peserta pameran dan kontes bonsai sudah mulai datang.
Seperti peserta asal Sumenep Madura Jawa Timur, Pagar Alam, Muara Dua Sumsel, Bengkulu, Metro, Lamteng, Bandar Lampung, Pesisir Barat, Tubaba, Lampura, Peringsewu, Batu Raja, Way Kanan dan Sumsel. Dengan total peserta kontes klas utama utama 21 pohon, madya 30 pohon, regional 135, prospek 120 pohon, dengan total 306 pohon.
Sementara untuk tanaman bonsai yang mengikuti bursa mencapai ratusan pohon. Bagi masyarakat yang berminat untuk mengoleksi berbagai jenis tanaman bonsai, mulai dari bakalan hingga prospek bisa bernegosiasi dengan para pemiliknya secara langsung.
Salah satu bonsai jenis beringin elegan milik Hi. Sony peraih The Best In Show pada Begawi Bonsai Bandar Lampung beberapa bulan lalu, yang konon senilai Rp 250 juta. Bonsai milik Bupati Tubaba Umar Ahmad yang juga bernilai fantastis turut mengikuti kontes tersebut.
Ketua PPBI Cabang Lambar dr. Widyadmoko Kurniawan, Sp.B., mengatakan, hingga batas akhir pendaftaran dan penerimaan pohon Sabtu sore. Jumlah pohon yang mengikuti kontes dan juga mengisi bursa yang disediakan oleh panitia mencapai ratusan pohon.
“Pohon yang mengikuti kontes ini mencapai ratusan pohon dengan jenis beragam. Untuk kontes kami menyelenggarakan tiga klas, yakni madya, regional dan utama. Untuk nilainya sendiri ada yang sampai ratusan juta, namun ada juga yang hanya belasan juta,” ungkap Widyadmoko.
Untuk penjurian, kata dia, para juri berasal dari beberapa daerah di Jawa dan Sumatera yang tentunya mendapatkan penugasan dari PPBI pusat untuk melakukan penilaian terhadap pohon bonsai yang mengikuti contest tersebut.
”Untuk kriteria yang dinilai, mulai dari penampilan, gerak dasar, keserasian, dan kematangan. Dalam penilaian ini lokasi kontes harus steril, hanya tim juri yang boleh memasuki lokasi. Dan baru akan dibuka bagi pengunjung setelah diresmikan oleh bapak bupati pada tanggal 11 Juli mendatang,”ujarnya saat dikonfirmasi (5/07/2019).
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk datang menyaksikan pameran dan kontes bonsai pada tanggal 6-16 Juli, dengan syarat tidak boleh memegang bonsai yang dipamerkan.
“Pameran dan kontes ini dapat dinikmati keindahannya oleh masyarakat secara gratis, tetapi harus tetap mematuhi ketentuan panitia. Pengunjung tidak boleh menyentuh bonsai secara langsung. Sebagai pengamanan kami memasang CCTV di area pameran,” jelas Widyadmoko.
Pengunjung dapat menambah wawasan terhadap seni bonsai yang terus berkembang, memperhatikan dan menjaga kelestarian lingkungan alam yang merupakan sumber informasi dan inspirasi di dalam berkarya dengan tanpa harus merusaknya. “Di sini kita akan meningkatkan solidaritas, saling berbagi pengetahuan dan kreatifitas serta menjalin tali silahturahim,” ujarnya. (Indrawan)