
Muba (SL)-Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium menjadi langka di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) sejak beberapa pekan terahir. Namun warga tetap rela mengantri berjam-jam di SPBU. Antri dilakukan sejak hari hingga pagi hari, demia untuk mendapatkan BBM jenis premium. Pengendara umum, harus bersaing dengan para pebisnis kios eceran di jalan, dan pengecor BBM.

Setiap hari, puluhan antrian jerigen di SPBU Pertamina di Muba, hingga beberapa mobil dan motor modifikasi. Pantauan sinarlampung.com di lokasi SPBU yang bertepatan di jalan raya Simpang 4 Randik, Kecamatan Kota sekayu Kabupaten Musi Banyuasin , Jumad (10/5), puluhan mobil bemuatan jerigen yang sedang mengocor bensin dan solar.
Salah satu konsumen yang rela mengantri mengatakan kepada awak media, dia rela antri berjam jam. “Saya rela menunggu sampai berjam jam bang, dikarenakan pihak SPBU mendahulukan kendaran kendaran yang mau mengecor. Jadi saya selaku konsumen merasa kecewa dengan pelayanan yang pihak SPBU Pertamina Di kota Sekayu ini,” katanya

Dia menyatakan untuk beli premium harus antri karena setiap pukul 11.00 Malam sampai pagi, premium sudah dinyatakan habis. “Meskipun kejadian seperti ini saya tetap rela mengantri untuk mendapatkan premium, tidak menjadi masalah, yang penting harga premium masih terjangkau bagi rakyat kecil, dan saya mewakili konsumen yang lain sangat resah atas kelangkaan premium yang ada di SPBU ini Karna Pukul 9 pagi Bensin sudah Habis karna banyaknya tukang cor,” katanya.
Dia menambahkan jika mengisi premium, sekali isi untuk sepeda motornya bisa tahan satu pekan, sedangkan BBM jenis yang lain tidak hemat dan harganya mahal. “Biasanya saya mengantri untuk memperoleh premium, namun terkadang saya sudah rela menunggu lama begitu sampai diantrian saya. Premium habis saya sangat kecewa dengan pelayanan di SPBU Pertamina yang ada di kecamatan Sekayu ini,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak SPBU belum bisa dimintai tanggapan. Petugas isi BBM SPBU mengatakan silahkan hubungan bos, atau pengawas. “Kami tidak tahu mas, kami hanya pekerja. Nanti saja tunggu bos, atau pengawasnya saja,” kata karyawan pengisi kios. (Sudir Nk)