
Bandar Lampung (SL)-Proses evakuasi puing puing dan pembersihan lokasi terdampak tsunami di Lampung Selatan masih terhambat. Jalur utama di lokasi masih dipadati aktivitas kendaraan relawan yang mendatangi lokasi. Hal itu diungkapkan jajaran KOrem 043/Gatam, dan Polda Lampung, dalam rapat kordinasi lintas sektoral, penanganan pasca Tsunami, di Aula Begadang Resto ,Teluk Betung, Sabtu (29/12/18)
“Bahwa saat ini intensitas kendaraan relawan sangat tinggi, sehingga menghambat proses pembersihan puing-puing dan reruntuhan bangunan akibat tsunami,” kata Danrem 043 Gatam Kolonel Kav Erwin Djatniko diamini Karo Ops Polda Lampung Kombes Pol Yosi Hariyoso.
Saat ini, pada proses pembersihan material pasca tsunami di Kecamatan Way Muli, seluruh puing-puing ditampung di salah satu pabrik yang berlokasi kurang lebih 3 Km dari bibir pantai.
Asisten I Pemkab Lampung Selatan, Supriyanto mengatakan masyarakat yang berada di Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku sebagian besar sudah diberangkatkan dari pulau tersebut untuk diungsikan di wilayah-wilayah pengungsian yang telah disediakan oleh Pemkab maupun instansi terkait.
Meski demikian masih ada beberapa masyarakat yang tidak mau diungsikan disebabkan dengan berbagai alasan. Namun kondisi saat ini seluruh bantuan baik perlengakapan, pakaian bekas maupun obat-obatan sudah tersalurkan dan ditampung di Rumah Dinas Bupati Lampung Selatan.
“Kami sudah menjemput mereka secara berangsur dan bertahap, dan untuk yang belum diangkut, kita tunggu kesiapan mereka, karena tidak tidak bisa paksa mereka. Pada dasarnya mereka memang tinggal disana, hidup di sana dan mata pencaharian mereka disana dan itu menjadi bahan pertimbangan mereka, kita tidak bisa memaksakan,” tambah Supriyanto.
Sementara Kepala Stasiun Geofisika Kotabumi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Anton Sugiharto mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas di sepanjang pantai sejauh 500 m sampai 1 Km. Juga segera berevakuasi ke wilayah yang lebih aman. “Saat ini GAK berada di status siaga, jadi potensi tsunami masih bisa terjadi, sehingga kita semua baik masyarakat maupun Pemerintah Daerah harus siap siaga dan waspada untuk hal itu,” ujar Anton.
Hadir pada rapat tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung, perwakilan Pemerintah Kabupaten-Kota dan TNI-Polri dan instansi terkait, yang juga membahas kiat-kiat untuk menghindari bencana susulan disebabkan oleh erupsi GAK.
“Kita harus waspada dan siaga terutama akan terjadinya megathrust Selat Sunda dan erupsi GAK yang berpotensi menyebabkan gelombang tsunami yang dapat melanda daerah pesisir Lampung Selatan, Tanggamus dan Kota Bandar Lampung,” ujar Pj. Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Hamartoni Ahadis.
Saat ini, berdasarkan evaluasi pasca tsunami selat sunda sudah semakin terkoordinir meskipun masih banyak terkendala dengan berbagai permasalahan. Hamartoni juga berterimakasih kepada seluruh peserta dari berbagai macam instansi yang telah hadir dan terus bersama-sama menanggulangi wilayah-wilayah yang terdampak oleh bencana. “Kita harapkan kepada BMKG untuk terus menginformasikan kepada masyarakat mengenai aktivitas GAK dan potensi tsunami,” katanya. (rls/juniardi)