
Enam tahun terperangkap dalam dinginnya hutan belantara Maybrat, jauh dari bangku sekolah dan gelak tawa teman sebaya. Hari itu, di bawah pengawalan penuh kasih, anak-anak keluarga Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) melangkah keluar dari bayang-bayang konflik. Sebuah mal di Papua menjadi saksi ketika pendekatan kemanusiaan meruntuhkan sekat-sekat kebencian.
Langkah kaki kecil-kecil itu tampak ragu saat pertama kali menapaki lantai mengilap pusat perbelanjaan. Bagi sebagian anak, deretan lampu warna-warni dan eskalator yang bergerak adalah pemandangan asing yang baru pertama kali mereka saksikan. Selama bertahun-tahun, dunia mereka hanyalah tenda darurat, suara letusan senjata, dan pekatnya kabut hutan pegunungan Maybrat.
Hari itu, suasana berbeda tercipta berkat inisiatif Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol. Dr. H. Hengki Haryadi. Ia tidak hanya merangkul para anggota KKB/OPM yang turun gunung untuk menyerahkan diri, tetapi juga membawa serta istri, anak-anak, dan keluarga besar mereka untuk berbelanja dan bermain bersama.
“Mereka keluarga, ada anak istri serta keluarga besar KKB/OPM. Mereka nggak tahu apa-apa tapi lama di hutan Maybrat. Kita layani seperti keluarga sendiri, secara manusiawi,“ ungkap Brigjen Hengki dengan penuh kehangatan.
Pendekatan humanis (soft approach) ini menjadi angin segar di tengah rumitnya konflik bersenjata di tanah Papua. Di bawah kepemimpinannya selama enam tahun terakhir, pendekatan dialogis berhasil membujuk banyak anggota kelompok bersenjata untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. “Sebentar lagi habis. Tidak semua dengan kekerasan, tetapi dengan cinta kasih,” tambahnya.
Namun, di balik senyum ceria anak-anak yang memilih mainan pertamanya hari itu, tersimpan kisah pilu dari lembaran kelam konflik bersenjata. Ada duka mendalam yang tak kasat mata—seperti kisah seorang anak yang sang ayah baru saja tewas tertembak dalam kontak senjata, padahal beberapa saat sebelumnya sang ayah sempat bertelepon dengan sang Kapolda untuk menyatakan niat menyerahkan diri.
Potret Kelam: Ketika Anak-Anak Menjadi Korban Tanpa Dosa
Apa yang dialami anak-anak eks KKB tersebut hanyalah puncak dari gunung es penderitaan anak-anak di wilayah konflik Papua. Kerap kali, mereka menjadi pihak yang paling rentan dan menanggung dampak terberat dari baku tembak antara aparat keamanan dan kelompok separatis.
Catatan dan fakta lapangan menunjukkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar anak-anak Papua akibat konflik bersenjata:
Di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, baku tembak yang terjadi di dekat permukiman warga kerap merenggut nyawa anak-anak tak berdosa. Tragedi menimpa bocah 12 tahun bernama Ronaldo Duwitau yang tewas, serta Nepina Duwitau (6 tahun) yang mengalami luka berat akibat terjangan peluru. Tak hanya itu, pelajar SMA berusia 17 tahun di Ilaga, Ali Mom, tewas ditembak KKB karena dituduh sebagai mata-mata aparat.
Dalam beberapa insiden, kelompok bersenjata bahkan menjadikan perempuan dan anak-anak di bawah umur sebagai korban sandera, seperti yang terjadi di wilayah Mimika, Papua Tengah, yang memaksa aparat TNI-Polri dan pemerintah daerah menggelar operasi penyelamatan darurat.
Mereka yang berhasil selamat dari zona merah—baik dari Intan Jaya maupun Kiwirok—umumnya membawa luka batin yang mendalam. Ketakutan kronis membuat mereka terisolasi dari dunia luar dan terputus dari hak mengenyam pendidikan normal.
Meski demikian, secercah harapan terus dinyalakan melalui berbagai inisiatif kemanusiaan. Program pendampingan seperti program “Si Ipar” yang digagas aparat keamanan hadir untuk memulihkan trauma anak-anak korban konflik, membimbing mereka kembali membaca, menulis, dan merajut mimpi yang sempat tercerabut.
Merajut Damai dengan Cinta Kasih
Langkah Brigjen Hengki Haryadi mengajak anak-anak pegunungan bermain di mal bukan sekadar kegiatan seremonial. Di baliknya, tersimpan pesan filosofis yang mendalam: bahwa perdamaian sejati tidak lahir dari laras senapan, melainkan dari pemulihan kemanusiaan.
Anak-anak itu tidak mewarisi kebencian para orang tua mereka di masa lalu. Mereka adalah generasi penerus yang berhak atas masa depan yang cerah, pendidikan yang layak, dan rasa aman di tanah kelahiran mereka sendiri.
Ketika tawa riang anak-anak eks KKB bergema di sudut-sudut mal hari itu, sebuah pesan sunyi terkirim ke puncak-puncak pegunungan: bahwa pintu kedamaian dan pelukan hangat ibu pertiwi akan selalu terbuka bagi siapa saja yang memilih untuk pulang. (Red)