
Lampung Timur, sinarlampung.co – Pengawasan kawasan perbatasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) kini mengandalkan sistem terpadu berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Sistem tersebut dipadukan dengan infrastruktur mitigasi di sepanjang perbatasan kawasan konservasi. Hasilnya, interaksi negatif antara gajah sumatra dan warga desa penyangga diklaim mencapai nol kasus sepanjang Juli dan Agustus 2026.
Sistem pengawasan mencakup garis batas TNWK sepanjang 167 kilometer. Pemantauan dilakukan dari command center menggunakan kamera CCTV 360 derajat yang dipasang setiap satu kilometer.
CCTV tersebut terintegrasi dengan drone dan 38 kamera jebak (camera trap) yang ditempatkan di dalam kawasan TNWK.
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, mengatakan teknologi AI digunakan untuk membaca pergerakan gajah hingga memantau kondisi satwa.
“Sistem yang kita bangun berbasis AI. Melalui sistem ini, kita bisa memproyeksi pergerakan gajah hingga mendeteksi kondisi kesehatannya, apakah kurang vitamin atau sedang sakit,” kata Sriyanto dalam pertemuan dengan kepala desa penyangga TNWK di Aula Balai TNWK, Selasa (13/9/2026).
Menurut Sriyanto, sistem pengawasan digital juga membantu menekan aktivitas ilegal di dalam kawasan.
Dalam enam bulan terakhir, sistem tersebut disebut telah membantu penindakan terhadap tiga kasus perburuan dan kegiatan ilegal di kawasan TNWK.
Teknologi CCTV 360 derajat juga dipasang untuk mengatasi persoalan perusakan kamera pemantau. Sebelumnya, 38 dari 52 kamera jebak disebut sempat dibakar atau kartu memorinya diambil.
Dashboard digital yang dikembangkan bersama mahasiswa dan alumni Universitas Lampung (Unila) juga dapat membaca aktivitas di sekitar perbatasan, termasuk mendeteksi kendaraan tanpa pelat nomor dan aktivitas balap liar.
Libatkan 1.091 Warga
Pengawasan digital tersebut berjalan bersamaan dengan pembangunan infrastruktur mitigasi di perbatasan TNWK.
Pekerjaan yang dimulai sejak awal Juni itu meliputi tanggul tanah, kanal, pagar pipa baja, pagar H-Beam, pos pantau hingga jembatan.
Pembangunan dilakukan melalui skema Swakelola Tipe IV dengan melibatkan 1.091 warga desa sekitar.
Sriyanto mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam program tersebut.
“Sejak awal saya tegaskan, seluruh kegiatan ini harus menguntungkan masyarakat, dan saat ini progres keseluruhan telah mencapai 82 persen,” ujarnya.
Menurut dia, perputaran anggaran proyek yang mencapai ratusan miliar rupiah juga diharapkan memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat desa penyangga.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya restorasi ekosistem dan pembangunan infrastruktur di TNWK untuk menekan interaksi negatif antara manusia dan gajah.
Warga Disiapkan Jadi Mitra Konservasi
Selain infrastruktur dan teknologi, pendekatan kepada masyarakat juga disiapkan untuk mengurangi konflik manusia dengan satwa.
Sriyanto mengatakan kondisi gajah liar di Way Kambas perlu mendapat perhatian, termasuk soal ketersediaan pakan.
Ia mencontohkan pengelolaan gajah di Thailand yang melibatkan masyarakat dalam penyediaan pakan melalui yayasan dan sukarelawan.
“Kita ingin meniru hal positif itu. Semakin sering gajah melintas dengan aman, semakin banyak wisatawan yang datang,” katanya.
Rencana tersebut akan diterapkan melalui kerja sama penyediaan pakan gajah yang melibatkan warga dan koperasi desa penyangga.
Komite Gabungan juga menyiapkan 10 titik sumur bor dan embung di wilayah yang rawan kebakaran hutan. Fasilitas itu nantinya dapat digunakan untuk pemadaman sekaligus menjadi sumber air bagi satwa saat musim kemarau.
Di sektor ekonomi warga, mesin penyulingan minyak serai dibangun di Desa Braja Asri sebagai pusat percontohan pengolahan produk turunan.
Berbagai fasilitas tersebut disiapkan menjelang rencana peresmian oleh Presiden RI pada Oktober 2026 yang akan dirangkaikan dengan Festival Way Kambas dengan target 3.000 pengunjung.
Pemkab Lampung Timur juga mendukung akses menuju kawasan dengan memperbaiki jalan dari Pasar Tridatu Rajabasa Lama, Labuhan Ratu, menuju pintu masuk TNWK.
Sriyanto menegaskan, teknologi dan bangunan fisik bukan satu-satunya kunci untuk menjaga kawasan konservasi.
“Sekokoh apa pun bangunan yang kita buat, kalau gajah marah, pasti akan runtuh. Yang paling utama adalah kehadiran dan rasa menyatu kita semua. Taman Nasional Way Kambas adalah milik kita bersama,” tegasnya. (*)