
Bandarlampung, sinarlampung.co – Staf Ahli Ketua DPRD Kota Bandar Lampung sekaligus Tenaga Ahli (TA), Rizky Sugeng Riadi, membantah keras tuduhan yang menyebut dirinya dan tim melakukan pengondisian hingga pemotongan anggaran Program Dana Revitalisasi Satuan Pendidikan APBN 2026 di Kota Bandar Lampung.
Rizky menegaskan bahwa tuduhan mengenai alokasi anggaran yang disebut-sebut dipotong hingga 80 persen oleh tim sukses dan hanya menyisakan 20 persen bagi pihak sekolah adalah informasi yang tidak benar dan berdasar.
Rizky menjelaskan bahwa perannya bersama tim semata-mata sebatas membantu mendata dan mengusulkan sekolah-sekolah yang kondisi bangunannya mengalami kerusakan agar mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat.
Tim mencari sekolah dasar yang membutuhkan perbaikan infrastruktur, lalu meneruskan data tersebut ke tim Anggota DPR RI Dapil Lampung, Ruby Chairani.
Anggota DPR RI Ruby Chairani bersama tim meninjau langsung ke lokasi untuk memastikan kelayakan sekolah sebelum diusulkan ke kementerian terkait.
Setelah dinilai layak oleh pusat, sekolah baru ditetapkan sebagai penerima program revitalisasi.
Memasuki tahap pelaksanaan, Rizky bersumpah tidak pernah lagi mencampuri atau terlibat dalam pengelolaan keuangan maupun pengerjaan fisik proyek di lapangan.
”Sampai dengan sekarang penggunaan anggaran untuk pelaksanaannya, saya pribadi tidak pernah lagi terlibat. Jadi tidak benar kami menarik 80 persen dan sekolah hanya 20 persen. Itu tidak mungkin, kami ini mengabdi untuk pendidikan,” tegas Rizky kepada sinarlampung.co, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, seluruh tahapan pasca-penetapan—mulai dari Bimbingan Teknis (Bimtek), pencairan anggaran dari pusat, hingga pelaksanaan teknis swakelola—dikelola secara mandiri oleh pihak sekolah dan dinas terkait.
Rizky juga meluruskan bahwa tidak semua sekolah penerima Dana Revitalisasi berasal dari usulannya. Sebagian sekolah diusulkan langsung melalui mekanisme resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Menanggapi pernyataan Lia (L) sebelumnya, Rizky mendukung agar media dan masyarakat melakukan konfirmasi langsung kepada para Kepala Sekolah penerima bantuan untuk melihat fakta pelaksanaan di lapangan secara objektif.
”Kenapa Bunda Lia meminta langsung datang ke sekolah, agar semua menjadi jelas. Kami hanya membantu dan mencari sekolah, termasuk program beasiswa PIP untuk masyarakat tidak mampu. Jadi sekali lagi tidak benar jika kami mengambil uang revitalisasi,” pungkasnya. (Red)