
Oleh: Juniardi
Ritus tahunan itu berulang lagi. Peringatan Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia diwarnai deretan spanduk megah dan pidato kenegaraan yang menggebu-gebu. Merah Putih memang mengangkasa, namun di akar rumput, narasi “Indonesia Maju” terasa hampa. Di balik keriuhan seremoni, ada kenyataan yang terus disapukan ke bawah karpet: keadilan dan kemakmuran masih jadi barang mewah yang sulit dijangkau rakyat biasa.
Delapan puluh satu tahun merdeka, kita masih tersandera oleh penyakit lama yang terus membusuk: kemiskinan yang menjerat, hukum yang tebang pilih, dan korupsi yang makin menjadi-jadi.
1. Jeritan Rakyat di Bawah Bayang-Bayang Ketimpangan
Merdeka itu seharusnya bebas dari cengkeraman rasa cemas akan piring nasi esok hari. Namun, realitasnya tak seindah teori. Jurang antara yang kaya dan yang miskin justru makin menganga. Saat harga kebutuhan pokok melambung dan gelombang PHK menghantam, rakyat kecil dipaksa bertahan hidup sendiri tanpa jaring pengaman yang benar-benar solid. Angka-angka pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan di panggung kekuasaan kerap kali cuma berhenti jadi statistik, tak pernah benar-benar sampai ke dapur warga.
2. Hukum yang Ringan di Atas, Berat di Bawah
Prinsip dasar bahwa semua orang setara di hadapan hukum kini cuma pemanis buku teks. Realitas di lapangan memperlihatkan wajah hukum yang garang dan tanpa ampun saat menindak rakyat jelata, namun mendadak santun dan pemaaf begitu berhadapan dengan elite atau pemilik modal. Ketimpangan ini melahirkan ketidakpercayaan yang mendalam. Publik makin yakin bahwa di negeri ini, keadilan bisa ditawar jika harganya cocok.
3. Korupsi yang Menjelma Jadi Tabiat
Korupsi tak lagi dinilai sebagai kejahatan luar biasa, melainkan sudah diangap sebagai komisi wajib dalam birokrasi. Operasi tangkap tangan yang berulang kali terjadi seperti tak ada bekasnya. Modusnya makin rapi, pelakunya makin tebal muka, dan jaringannya makin mengakar dari pejabat hingga aparat. Uang rakyat yang mestinya dipakai membangun sekolah, memperbaiki jalan, atau menambal subsidi, justru menguap begitu saja ke kantong-kantong pribadi para begal anggaran.
Menembus Kebuntuan: Langkah Nyata yang Harus Diambil
Memaknai kemerdekaan tak boleh berhenti pada tiang bendera dan panggung hiburan. Perlu ada keberanian untuk membedah luka bangsa secara radikal:
Di usia 81 tahun, Indonesia tak butuh sekadar gincu perayaan. Makna merdeka yang sesungguhnya baru hadir ketika rakyat kecil tak lagi kelaparan, hukum tak bisa dibeli, dan koruptor dihukum setimpal. Bersuara lantang menagih janji itu bukanlah bentuk ketidaksukaan, melainkan bentuk cinta paling tulus pada republik ini.****