
Bandarlampung, sinarlampung.co– Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Lampung, Ahmad Novriwan, tampil sebagai salah satu delegasi Indonesia dalam forum jurnalis internasional yang diselenggarakan oleh All China Journalists Association (ACJA) di Kunming, Tiongkok.
Forum bergengsi tersebut mempertemukan perwakilan jurnalis dari 14 negara di kawasan ASEAN dan Asia Selatan untuk membahas perkembangan media digital serta tantangan jurnalisme global masa kini.
Berdasarkan foto yang dihimpun dari WhatsApp Group (WAG) Pengurus Daerah (Pengda) JMSI Lampung pada Selasa (14/7/2026), Novriwan tampak hadir mengikuti rangkaian konferensi dengan mengenakan setelan jas hitam dipadukan dasi merah.
Kehadiran Ahmad Novriwan dalam forum tersebut merupakan pemenuhan undangan resmi dari ACJA kepada JMSI selaku organisasi perusahaan pers konstituen Dewan Pers.
”Hari ini hari pertama konferensi. Kalau tidak dipadatkan, acaranya bisa sampai besok,” ujar Novriwan melalui pesan singkat kepada jajaran pengurus Pengda JMSI Lampung, Selasa (14/7).
Mantan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Lampung periode 2015–2019 itu menambahkan, pada malam sebelumnya telah digelar pertemuan awal antardelegasi secara singkat. Selain agenda formal, para peserta juga dijadwalkan mengikuti kegiatan kebudayaan dan kunjungan lapangan di sekitar Kota Kunming.
Menurut Novriwan, salah satu isu krusial yang memicu diskusi hangat dalam forum tersebut adalah dinamika situasi global dan masa depan industri media. Para peserta menyoroti masifnya pengaruh kreator konten di ruang digital saat ini.
Fenomena tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi media arus utama (mainstream). Sebab, sebagian masyarakat saat ini cenderung lebih memercayai kreator konten yang dianggap mampu menyajikan informasi atau fakta secara langsung di lapangan.
Selain itu, penetrasi teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam ruang redaksi juga menjadi sorotan tajam. Mayoritas delegasi sepakat bahwa meski AI menawarkan efisiensi tinggi bagi kerja jurnalistik, teknologi ini membawa risiko besar pada aspek akurasi.
”AI memang mempermudah pekerjaan jurnalistik, tetapi kelemahannya terletak pada proses verifikasi. Pada akhirnya, kualitas, kecepatan, ketepatan, dan informasi yang valid serta dapat diverifikasi yang akan menjadi penentu kemenangan dalam persaingan media,” tegas Novriwan.
Sebagai informasi, delegasi JMSI Indonesia yang bertolak ke Tiongkok dipimpin langsung oleh Ketua Umum JMSI Teguh Santosa. Selain itu, turut hadir Pendiri JMSI Mursid Yusmar, Ketua JMSI Kalimantan Tengah Julius M. Sinaga, Pengurus Pusat Bidang Luar Negeri JMSI Yopiandi Kurniawan, serta Farida Farhah dari Farah.id. (red/*)