
Lampung Timur, sinarlampung.co – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lampung Timur (Lamtim) dinilai abai dalam menindaklanjuti rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Provinsi Lampung. Akibat lemahnya fungsi pengawasan dan penagihan tersebut, uang daerah senilai Rp2.272.130.751,94 dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) masih mengendap di kantong para rekanan proyek bermasalah.
Persoalan ini berakar dari realisasi Belanja Modal Jalan, Irigasi, dan Jaringan Tahun Anggaran (TA) 2023 yang digelontorkan Pemkab Lamtim sebesar Rp87.181.542.397 dari total pagu Rp113.188.374.408 (77,02%).
Anggaran tersebut di antaranya dialokasikan untuk 10 paket pekerjaan peningkatan dan rekonstruksi jalan yang digarap oleh sembilan penyedia jasa konstruksi dengan nilai kontrak keseluruhan mencapai Rp25.665.477.009,44.
Namun, berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK yang dilakukan secara uji petik bersama Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), konsultan pengawas, serta diperkuat hasil uji laboratorium independen, ditemukan penyimpangan teknis yang masif di lapangan.
Total kerugian miliaran rupiah tersebut terdiri dari: Kekurangan Volume Pekerjaan: Rp611.926.280,24, Ketidaksesuaian Spesifikasi Kontrak: Rp1.660.204.471,70, Denda Keterlambatan (2 Paket Proyek): Rp64.831.859,79
Rincian 10 Paket Proyek Jalan Bermasalah di Lampung Timur (TA 2023)
Berikut adalah data teknis sepuluh paket pekerjaan infrastruktur jalan Dinas PUPR Lamtim yang menjadi temuan BPK RI dan wajib dikembalikan ke kas daerah:
| No | Paket Pekerjaan (Ruas Jalan) & Pelaksana | Kekurangan Volume (Rp) | Ketidaksesuaian Spesifikasi (Rp) | Total Wajib Setor Balik (Rp) |
| 1 |
Sidodadi – Karya Mukti (CV LM) |
8.335.128,16 | 89.456.069,40 | 97.841.197,56 |
| 2 |
Taman Negeri – Tambah Subur (CV KAP) |
118.553.251,14 | 119.557.399,86 | 238.110.651,00 |
| 3 |
Asahan – Adirejo (R.072) (CV KUJ) |
35.239.996,39 | 120.298.793,25 | 155.538.789,64 |
| 4 |
Karang Anom – Marga Batin (CV SMB) |
202.983.897,65 | 192.285.275,49 | 395.269.173,14 |
| 5 |
Labuhan Ratu – Gunung Sugih Kecil (CV SKJ) |
6.791.363,98 | 26.034.926,96 | 32.826.290,94 |
| 6 |
Nyampir – Sumber Gede (CV PK) |
128.575.293,40 | 338.018.017,50 | 446.593.310,90 |
| 7 |
Tegal Ombo – Tanjung Intan (CV SK) |
2.325.685,04 | 124.214.053,80 | 126.539.738,84 |
| 8 |
Sribawono – Tanjung Aji (CV GA) |
62.166.357,96 | 252.021.340,62 | 314.187.697,58 |
| 9 |
Sumberejo – Sidirahayu (CV BJA) |
378.970,81 | 208.128.324,30 | 206.507.295,11 |
| 10 |
Sukadana Tengah – Rajabasa Lama (CV GA) |
46.526.336,71 | 190.190.270,52 | 236.716.607,23 |
| TOTAL | 611.926.280,24 | 1.660.204.471,70 | 2.272.130.751,94 |
Mirisnya, hingga memasuki pertengahan tahun 2026, dana miliaran tersebut belum juga berhasil ditarik masuk ke kas daerah. Kepala Dinas PUPR Lampung Timur, Primadiatha Ramadheni, saat dikonfirmasi berdalih pihaknya menemui jalan buntu dalam mengeksekusi penagihan karena kendala status operasional perusahaan rekanan.
“Kami kesulitan melakukan penagihan kepada para pelaksana kegiatan atau kontraktor, disebabkan banyak perusahaan tersebut saat ini sudah tidak aktif lagi (gulung tikar),” aku Primadiatha saat dihubungi melalui sambungan telepon beberapa hari lalu.
Sebagai langkah lanjutan yang belum pasti ujungnya, Primadiatha mengaku berencana melayangkan koordinasi dan meminta bantuan hukum kepada Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara (Kasi Datun) Kejaksaan Negeri Lampung Timur guna memburu aset para kontraktor nakal tersebut.
Sikap lambat jajaran manajerial Dinas PUPR Lamtim dalam mengawal rekomendasi BKP TA 2023 ini pun memicu preseden buruk. Terbukti, alih-alih membaik, pada pelaksanaan anggaran TA 2024 kebocoran anggaran akibat manipulasi volume dan spesifikasi proyek jalan di Lamtim justru dilaporkan kembali berulang dengan nilai kerugian yang jauh lebih fantastis. (Tim/**)