
Surabaya, sinarlampung.co – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melontarkan ultimatum keras kepada jajaran aparat penegak hukum dan pertahanan nasional. Presiden menginstruksikan Panglima TNI dan Kapolri untuk memastikan seluruh personel di bawah komando mereka bekerja murni demi kepentingan rakyat serta menegakkan hukum secara adil tanpa tebang pilih.
Dalam pidato kebangsaannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa dirinya tidak ingin lagi mendengar adanya oknum aparat negara yang bermain-main dalam penegakan hukum, apalagi memberikan proteksi ilegal terhadap pihak-pihak tertentu yang melanggar aturan.
“Saya tidak mau dengar lagi, Panglima TNI, Kapolri, ada aparat yang tidak menegakkan hukum, keadilan, dan kebenaran. Tidak boleh backing-backing macam-macam,” tegas Presiden Prabowo Subianto di Nganjuk, Jawa Timur.
Prabowo menekankan bahwa filosofi tertinggi dari kedudukan seluruh aparat negara—mulai dari pangkat tertinggi hingga barisan paling bawah—adalah sepenuhnya mengabdi kepada rakyat, bukan justru menjadi alat penindasan.
“Semua aparat dari yang tertinggi sampai terendah harus mati untuk rakyat, bukan malah menindas rakyat,” ujarnya secara lantang di depan forum.
Selain masalah penegakan hukum di lapangan, Kepala Negara juga menyoroti tajam adanya segelintir pihak yang hanya mengejar keuntungan ekonomi besar dengan cara-cara culas yang bertentangan dengan konstitusi.
Prabowo mengingatkan, praktik kolusi serta penyalahgunaan wewenang kekuasaan (abuse of power) oleh pejabat publik merupakan pengkhianatan terhadap amanat pembentukan Republik Indonesia. Sebab, seluruh kekayaan alam yang terkandung di bumi Nusantara sejatinya adalah hak mutlak rakyat.
“Bukan pemimpin, bukan pejabat, bukan mereka yang dipilih malah berkolusi untuk menghilangkan hak rakyat atas kekayaan seluruh Indonesia. Ini perjuangan kita bersama,” kata Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.
Di hadapan para hadirin, Presiden menyatakan komitmen dan tekad bulat pemerintahannya untuk menegakkan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 serta nilai-nilai luhur Pancasila sebagai fondasi utama tata kelola negara. Fokus utamanya adalah memastikan pengelolaan kekayaan negara dialokasikan sebesar-besarnya untuk kemakmuran masyarakat luas.
“Negara kita kaya, harus kita amankan kekayaan tersebut untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” ucapnya.
Mengakhiri pidatonya, Presiden Prabowo menyatakan rasa optimisme yang tinggi bahwa Indonesia akan segera melompat menjadi negara maju dan bangkit dari keterpurukan, dengan syarat seluruh elemen aparat keamanan dan pemimpin politik memiliki keberanian serta keberpihakan penuh kepada rakyat kecil.
“Saya bertekad, saya percaya, dan saya yakin dalam waktu yang tidak terlalu lama kita akan bangkit,” pungkas Prabowo. (Red)