
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Proyek pembangunan irigasi gantung sepanjang 93 kilometer di Daerah Irigasi Rawajitu, Kabupaten Tulang Bawang dan Mesuji, Lampung, senilai Rp97,8 miliar menjadi sorotan publik. Proyek yang dikerjakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung itu disorot setelah muncul kerusakan di sejumlah titik saluran, meski saat ini perbaikan tengah dilakukan.
Ketua LSM Penjara Indonesia DPD Lampung, Mahmuddin, menilai proyek tersebut perlu mendapat pemeriksaan menyeluruh oleh aparat penegak hukum. Menurutnya, kerusakan yang muncul memunculkan pertanyaan terkait kualitas pekerjaan dibanding besarnya anggaran yang telah digelontorkan negara.
“Kami meminta Kejaksaan Tinggi Lampung segera turun tangan melakukan pemeriksaan serius menyeluruh terhadap proyek Rp97,8 miliar irigasi gantung di Mesuji dan Tulang Bawang, Lampung, senilai Rp97,8 miliar (2023) yang dibangun oleh BBWS Mesuji Sekampung tengah yang kini menjadi sorotan karena dugaan kerusakan dan kasus hukum (disidik Kejati sejak 2024). Tapi abu-abu, saat ini perbaikan sedang dilakukan di saluran sepanjang 93 km. Tentunya jangan sampai uang negara habis tetapi hasil pembangunan justru cepat rusak,” tegas Mahmuddin kepada awak media, Jumat (15/5/2026).
Mahmuddin menjelaskan, proyek strategis tersebut dibangun secara bertahap sejak 2020 hingga rampung pada 2023. Namun, kondisi sejumlah titik yang mengalami kerusakan kini menjadi perhatian masyarakat setelah ramai diperbincangkan di media sosial.
Di sisi lain, Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, bersama jajaran diketahui turun langsung ke lokasi pada Sabtu, 9 Mei 2026. Peninjauan itu turut didampingi Direktur Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Adi Umardani.
Dalam kunjungan tersebut, pihak BBWS menyampaikan bahwa seluruh titik kerusakan akan diperbaiki. Mereka juga menjelaskan pembangunan irigasi gantung dilakukan secara bertahap sejak 2020 hingga selesai pada 2023.
Meski demikian, sebagian masyarakat masih mempertanyakan kualitas pekerjaan maupun efektivitas perbaikan yang sedang berlangsung. Salah seorang warga Rawajitu, Andi Bagol, mengaku berharap kerusakan tidak kembali terulang.
“Kalau memang dari awal pekerjaannya bagus, kenapa sekarang banyak kerusakan. Masyarakat tentu berharap jangan hanya diperbaiki sementara lalu rusak lagi,” ujar Andi Bagol.
LSM Penjara Indonesia menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut. Mereka juga membuka kemungkinan melaporkan dugaan penyimpangan proyek kepada aparat penegak hukum apabila ditemukan indikasi kerugian negara.
Selain itu, Mahmuddin meminta pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum melakukan audit teknis independen terhadap proyek irigasi gantung Rawajitu untuk memastikan kualitas bangunan sesuai spesifikasi dan benar-benar memberi manfaat bagi petani. (Red)