
Tulang Bawang, sinarlampung.co– Musibah kebakaran hebat kembali terjadi di lingkungan PT Sugar Group Companies (SGC). Kali ini, sebanyak 30 unit bedeng di KM 43 PT Indo Lampung Perkasa (ILP), anak perusahaan SGC, hangus terbakar pada Rabu 6 Mei 2026 sekitar pukul 13.30 WIB.
Selain kerugian materiel yang besar, insiden ini memakan korban luka serius. Seorang warga bernama Oerdiyanti bin Sybandi dilaporkan dalam kondisi kritis akibat luka bakar dan kini telah dirujuk ke RS YMC Yukum Jaya setelah sebelumnya mendapatkan penanganan awal di Medical KM 43.
Api yang melalap kompleks perumahan karyawan berbahan kayu tersebut diduga berasal dari hubungan arus pendek listrik (korsleting). Material bangunan yang didominasi kayu membuat api merambat sangat cepat. Berdasarkan pantauan video amatir, para karyawan tampak panik berhamburan menyelamatkan barang-barang berharga di tengah kepulan asap hitam yang membubung tinggi.
Petugas dan warga baru berhasil menguasai keadaan sekitar pukul 16.00 WIB. Meski demikian, hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen PT ILP maupun SGC Group masih memilih bungkam dan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait tanggung jawab terhadap korban maupun kerugian karyawan.
Kejadian Berulang: Memori Kelam Bedeng 1.8
Kebakaran di KM 43 ini seolah menjadi “deja vu” bagi para pekerja di lingkungan SGC. Catatan redaksi menunjukkan bahwa pola kejadian serupa pernah terjadi pada Mei 2023 silam.
Tepatnya pada Senin, 22 Mei 2023, perumahan pekerja di Bedeng 1.8 SGC juga rata dengan tanah akibat amukan si jago merah. Kala itu, meski tidak ada laporan korban kritis seperti pada insiden terbaru ini, puluhan kepala keluarga harus kehilangan tempat tinggal karena konstruksi bangunan yang juga mudah terbakar.
Sorotan Standar Keselamatan Pekerja
Rentetan insiden kebakaran yang melanda mes karyawan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini memicu pertanyaan besar mengenai standar keselamatan dan mitigasi bencana di lingkungan perkebunan tebu terbesar di Lampung tersebut.
Minimnya pembaruan konstruksi bangunan mes yang masih menggunakan material kayu serta sistem kelistrikan yang diduga rentan korsleting menjadi poin krusial yang seharusnya segera dievaluasi oleh pihak perusahaan.
Publik kini menunggu langkah konkret dari manajemen SGC, tidak hanya soal bantuan bagi korban Oerdiyanti, tetapi juga jaminan keamanan hunian bagi ribuan pekerja yang menggantungkan hidupnya di sana agar musibah “Mei Kelam” tidak terus berulang di masa mendatang. (Red)